Saudara-saudari pengunjung setia Blog Keuskupan Agung Kupang, trimakasih atas kunjungan anda selama ini. Perlu kami informasikan bahwa terhitung mulai hari ini, Kamis, 23 Oktober 2014, blog Keuskupan Agung Kupang ini dinonaktifkan, mengingat Keuskupan Agung Kupang telah meluncurkan web resmi yang baru. Untuk bisa menjelajah web Keuskupan yang baru, para pengunjung bisa langsung mengakses ke http://www.kak.or.id/

kak

Tahun Injil Orang Miskin (TIOM) 2014: PENJELMAAN SABDA MELALUI POLA 3M


Oleh Kanis Kusi – Ketua Komisi PSE Keuskupan Agung Kupang

 Paus Fransiskus dalam surat apostoliknya “Evangelii Gaudium/EG”24 Nopember 2013 (Kegembiraan Injil) mengatakan : “Bagi saya adalah lebih baik sebuah Gereja yang peot, yang terluka dan bernoda, karena ia berjalan ke luar jalan-jalan, daripada sebuah Gereja yang sakit, yang karena ketertutupan dan kenyamanannya, terpaku pada keamanan diri sendiri” (EG Nr. 49).

Gereja adalah himpunan orang-orang yang digerakkan untuk berkumpul oleh Firman Allah, yakni berhimpun bersama untuk membentuk Umat Allah  dan yang diberi santapan dengan Tubuh Kristus, untuk menjadi Tubuh Kristus” (Bdk. Katekismus Gereja Katolik, art. 777).

Sebagaimana Kristus melaksanakan rencana penyelamatan Bapa-Nya di dalam dan bagi dunia, demikian juga Gereja – Keuskupan Agung Kupang –  sebagai persekutuan umat beriman yang percaya kepada-Nya melaksanakan tugas yang satu dan sama yakni “mewujudkan kegembiraan” di dalam dan bagi umat, khususnya orang-orang miskin di paroki-paroki se-Keuskupan Agung Kupang.

Oleh karena itu, pengabdian Gereja sebagai perwujudan panggilan serta perutusan Kristus dalam dunia ini menuntut keterlibatan dan tanggung jawab langsung demi utuhnya hidup manusia baik secara perorangan maupun secara bersama-sama. Pemimpin umat, sebagai pelayan Gereja (para imam, hidup bakti, dewan pastoral paroki dan pusat koordinasi pastoral/komisi), pertama-tama harus merupakan tanda kasih Allah bagi manusia, khususnya orang-orang miskin di paroki-paroki se-Keuskupan Agung Kupang.

Sehubungan dengan itu, dalam dan melalui TIOM, pemimpin umat (para imam, hidup bhakti, dewan pastoral paroki, pusat koordinasi pastoral/komisi) di Keuskupan Agung Kupang diharapkan mampu menjelmakan Sabda (baca : Evangelii Gaudium) melalui karya-karya nyata yang sungguh menjawab kebutuhan orang miskin. Fokus perhatian Keuskupan Agung Kupang dalam TIOM adalah menghadirkan kegembiraan iman yang bermutu dan efektif agar orang-orang miskin mempunyai daya dan kemampuan untuk memperbaiki nasib sendiri. Kepada mereka Gereja – Keuskupan Agung Kupang –  mewartakan kabar gembira tentang Kerajaan Allah, seperti yang sudah dilakukan Yesus sepanjang hidup-Nya. Yesus memilih hidup bersama orang kecil untuk menghadirkan Kerajaan Allah dan menanggung segala beban hidup manusia (Bdk. Mat 11:28)

Manusia sebagai gambar dan citra Allah memiliki talenta dan kemampuan  untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah. Di dalam hati nuraninya, manusia menemukan hukum yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan perbuatan baik dan menghindari perbuatan yang jahat. Sebab dalam hatinya, manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah (Bdk. Gaudium et Spes art. 16). Atas dasar hati nurani inilah, manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah melalui tindakan dan karyanya di dunia.

Dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial, dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat pembawaannya (Gaudium et Spes art. 12). Dalam dirinya, manusia membawa nilai-nilai hidup yang berasal dan bersumber dari Allah. Nilai-nilai ini menjadi bermakna manakala manusia membangun komunikasi sosial yang efektif dengan sesama. Melalui komunikasi sosial dengan sesama dan lingkungan hidup, manusia berkembang dalam segala bakat pembawaannya dan mampu menanggapi panggilannya untuk membawa kegembiraan  bagi sesama, khususnya bagi orang miskin.

Allah menciptakan manusia bukan untuk hidup sendiri-sendiri, melainkan untuk membentuk kesatuan sosial. Sebab, Sabda Yang Menjelma telah menghendaki menjadi anggota rukun hidup manusiawi. Sang Sabda menguduskan hubungan-hubungan antar manusia, terutama hubungan keluarga, sumber kehidupan sosial. Dalam pewartaan-Nya, Dia memerintahkan dengan jelas kepada manusia supaya mereka berperilaku sebagai saudara satu sama lain. Bahkan Dia sendiri hingga wafat-Nya, mengorbankan Diri bagi semua orang, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabat-Nya” (Yoh. 15 : 13).

Inkarnasi Allah, Sabda menjadi manusia menunjukkan solidaritas Allah dengan manusia, dengan “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil. 2:7), menunjukkan semangat belarasa, hati yang tergerak oleh belas kasihan kepada mereka yang menderita (Mat. 9:36), dan mengupayakan hidup baru dan berkelimpahan dengan membawa kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi tawanan, penglihatan bagi orang buta, dan pembebasan bagi orang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Bdk. Yes 61 : 1-2 dan Luk. 4 : 18-19). Dalam penjelmaan-Nya, Sang Sabda telah menyatukan diri dengan setiap orang. Sang Sabda telah bekerja memakai tangan manusiawi, Dia berpikir memakai akal budi manusiawi, Dia bertindak atas kehendak manusiawi, Dia mengasihi dengan hati manusiawi (Bdk. Gaudium et Spes art. 22).

Inilah wujud dan ungkapan keberpihakan Allah untuk melibatkan diri-Nya dalam hidup manusia, supaya manusia berkembang dalam kebersamaan-Nya dan cerdas dalam memilih dan menentukan arah hidupnya yang sesuai, bermakna dan bernilai.

Tahun Kegembiraan Injil bagi Orang Miskin (Evangelii Gaudium) adalah Sabda yang menjelma dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindak Gereja Keuskupan Agung Kupang. Dan dengan demikian mampu memberikan kesejahteraan rohani dan jasmani bagi orang miskin, sebagaimana Sabda yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.

Gerak turun Sang Sabda (inkarnasi) menjadi inspirasi bagi gerak TIOM dalam menjelmakan Evangelii Gaudium melalui kegiatan-kegiatan peduli orang miskin di wilayah pelayanan Keuskupan Agung Kupang. Penjelmaan itu harus nampak dan hadir melalui terciptanya mata pencaharian dan pekerjaan, perumahan sehat,  kesehatan dan gizi, pendidikan anak-anak dan orang muda, kerja sama dengan  program pemerintah, pembangunan pertanian/peternakan yang berkelanjutan,  pengembangan potensi kelautan bagi masyarakat pesisir, kerja sama dalam tabungan (koperasi), pengembangan usaha-usaha produktif bersama serta kerja sama antar paroki dalam upaya pemberdayaan orang miskin di paroki se- Keuskupan Agung Kupang. TIOM sebagai tahun penuh rahmat adalah bagian dari refleksi, gerakan tobat, solidaritas dan bela rasa untuk menghadirkan Sabda menjadi daging di tengah-tengah realitas kehidupan umat Keuskupan Agung Kupang, khususnya orang miskin yang ada di paroki.

TIOM membantu Gereja Keuskupan Agung Kupang untuk menjadi sarana penggerak dan gerakan Penjelmaan Sabda bagi hidup manusia untuk semakin cerdas dalam membaca realitas kehidupan umat di Keuskupan Agung Kupang, di mana umat beriman semakin melibatkan diri, mengembangkan dan mencerdaskan dalam memenuhi kebutuhan hidup orang-orang miskin sesuai tanda-tanda jaman. (Bdk.GES art 1).

Sebagaimana gerak turun dari Penjelmaan Sabda yang tinggal dan hadir dalam realitas pergumulan hidup manusia, TIOM sebagai sarana dan jalan baru pengembangan hidup manusia mengutamakan pola karya pastoral 3M : “Melibatkan, Mengembangkan, dan Mencerdaskan sesuai cara bertindak Yesus.  Pola 3M ini terinspirasi oleh misteri penjelmaan Allah dalam hidup manusia, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14).

Misteri penjelmaan Allah merupakan wujud dan ungkapan keberpihakan Allah untuk melibatkan diri-Nya dalam hidup manusia, supaya manusia berkembang dalam kebersamaan-Nya dan cerdas dalam memilih dan menentukan arah hidupnya yang sesuai, bermakna dan bernilai.

MELIBATKAN berarti menjumpai, hadir secara bermutu bagi orang lain, terutama orang-orang miskin yang berada di sekitar kita (Keluarga, KUB, Kapela, Paroki) sehingga secara cerdas dan bermutu mengenal keadaannya yang sesungguhnya. Mengajak mereka, orang-orang miskin dengan kemampuan yang ada padanya untuk terlibat bersama dalam membangun kehidupan yang lebih menggembirakan. Keterlibatan membutuhkan “keterpanggilan dan ketergerakan hati” dari para pemimpin umat, baik para imam, para hidup bakti/tarekat, dewan pastoral paroki maupun pusat koordinasi pastoral/komisi untuk memperhatikan saudara-saudari yang berada dalam kekurangan.

MENGEMBANGKAN berarti meningkatkan kualitas hidup umat secara utuh, terutama orang miskin, dengan bertumpu pada nilai-nilai dan kearifan hidup umat setempat untuk berjalan bersama memperbaiki lingkungan hidup. Kualitas hidup mencakup pola pikir, pola sikap dan pola tindak umat setempat yang berlandaskan nilai-nilai : solidaritas, tanggungjawab, saling percaya, keterbukaan, kejujuran, kerja sama, keadilan, kedamaian, pengorbanan, kesetiaan dan cinta kasih.

MENCERDASKAN berarti memberdayakan diri, secara pribadi dan bersama-sama sehingga mampu memilih dan menentukan arah kehidupan yang sesuai, bermakna dan bernilai secara berkelanjutan. Juga kecerdasan hati yang bisa berbagi dan menghargai berbagai pengalaman yang membahagiakan agar mampu secara pribadi maupun bersama-sama mengatasi berbagai kesulitan hidup orang miskin. Belajar bersahaja agar terbuka hati untuk melihat kebutuhan orang miskin serta menjadi saudara satu sama lain dan saling memperhatikan.

Manusia diciptakan dan dipanggil untuk berjumpa sepenuhnya dengan semua ciptaan menurut model dari Sabda Yesus Kristus yang masuk ke dalam dunia dengan menjadi “sama seperti kita, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr, 4.15). Kehadiran Sabda yang menjadi manusia mengarahkan manusia untuk cerdas dan kreatif mewujudkan nilai-nilai kemanusiaannya dalam membangun komunikasi sosial.

Kerja sama bersaudara dalam TIOM seturut Sabda yang Menjelma Menjadi  Daging dengan daya-daya hidup (nilai-nilai ilahi) yang semakin berkembang dalam diri umat di wilayah Keuskupan Agung Kupang : saling memperhatikan, saling menghormati, saling menghargai, saling mendukung, menjadi saudara satu sama lain, menjadi tolak ukur arah dan tujuan dari TIOM. Dengan demikian perwujudan pastoral 3M : Melibatkan, Mengembangkan dan Mencerdaskan, menjadi pola dan jalan baru Peduli Orang Miskin untuk hidup sejahtera rohani dan jasmani di Keuskupan Agung Kupang.

Percayalah …!! “Yang dinilai Allah, bukan seberapa besar hasil yang dicapai dalam “DREAM”, tapi seberapa besar KESETIAAN kita untuk tetap mencapainya dalam “DESTINY”. Semoga.

Sumber inspirasi :

  • Kompendium Ajaran Sosial Gereja (ASG), 2009
  • Konpernas Komisi PSE KWI XXII, Sept. 2011
  • Retret Sosial (Retsos) Penggerak Kerasulan PSE Regio Nusra, Nop. 2012.
  • Seminar Evangelii Gaudium dan Temu Pastoral Keuskupan Agung Kupang, Jan. 2014

 

Roadmap Tahun Injil Orang Miskin (TIOM) 2014


“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”.
(Mt 5:3-10)

TAHUN  INJIL  ORANG  MISKIN
Keuskupan Agung Kupang

1. Dasar dan Tujuan TIOM
Pada tahun 2014 Keuskupan kita merayakan 25 Tahun keberadaan dan kedudukan sebagai Keuskupan Agung. Perjalanan persekutuan gerejawi di Keuskupan kita telah menciptakan dan mengayunkan langkah-langkah untuk menyusun kehadiran yang bermartabat sebagai Gereja setempat yang mendapat perutusan untuk menyampaikan Kabar Gembira dalam lingkungan hidup kita.

Pelbagai tantangan dan kesulitan, tetapi juga kegembiraan dan pengharapan sudah menyertai dan meliputi perjalanan gerejawi kita dalam kerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik. Nyatanya, pewartaan Kabar Gembira bagi kaum terpinggirkan (lemah, kecil dan miskin) belum sepenuhnya menyentuh kehadiran yang melibatkan pengembangan, peningkatan, pemberdayaan dan pencerdasan mutu hidup orang miskin !

Kerjasama pemberdayaan manusiawi nampaknya belum seluruhnya menunjukkan pertumbuhan mutu hidup yang saling memberdayakan sebagai saudara dan saudari yang bermartabat anak-anak Allah. Namun, pertumbuhan hidup iman dalam semangat bersaudara sudah menjadi suatu kesaksian yang memperbesar kerinduan persekutuan gerejawi kita akan mutu hidup yang bermartabat bagi semua orang.

Pengadaan serta pencapaian program sudah berjalan seiring dengan tanda-tanda perkembangan jaman dengan aneka tantangan dan pengharapan. Kehadiran para pelayan yang silih berganti telah menorehkan aneka jejak sebagai petunjuk arah dalam perjalanan bersama di tengah perubahan masyarakat yang demikian cepat dan mengagumkan. Oleh karena itu, Tahun Injil Orang Miskin bertujuan untuk membangkitkan, menggerakkan upaya-upaya yang melibatkan, mengembangkan, meningkatkan, memberdayakan dan mencerdaskan persekutuan gerejawi Keuskupan Agung Kupang, agar kegembiraan Injil semakin meliputi seluruh umat dalam semangat bersaudara, khususnya keseimbangan komunikasi sosial ekonomi yang berkelanjutan secara manusiawi di kalangan orang miskin.

2. Panggilan dan perutusan bersama
Pada tahun yang keduapuluh lima tegaknya Keuskupan Agung Kupang, persekutuan gerejawi kita akan merayakannya sebagai Tahun Injil Orang Miskin yang merupakan sebuah kelompok rentan dalam persekutuan gerejawi kita. Injil Yesus Kristus mewartakan bahwa “kabar baik disampaikan kepada orang miskin” sebagai bentuk perutusan yang harus terlaksana dalam persekutuan gerejawi.

Dasarnya adalah bahwa Kristus sendiri menyamakan diri-Nya dengan mereka yang miskin dan berkekurangan dalam pelbagai hal yang menyangkut hidup manusiawi. Dengan menjadi manusia Yesus Kristus bersolider dengan seluruh keberadaan manusiawi, kecuali dalam hal dosa, dan mengutamakan keberpihakan-Nya bagi kaum yang terpinggirkan dalam masyarakat: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mt 25:40).

3. Para pelayan evangelisasi
Para imam dan pemimpin umat setempat menyadari dengan sungguh hati bahwa perhatian dan peduli orang miskin harus menjadi utama dalam karya pastoral di tahun rahmat Keuskupan kita. Kesungguhan hati ini mudah-mudahan mampu menggariskan program kerjasama yang secara efektif dan kreatif menggerakkan kebersamaan persekutuan gerejawi kita untuk mengadakan perubahan yang saling memberdayakan hidup.

Tugas dan tanggungjawab kita bersama untuk menemukan kemampuan serta peluang yang tersedia setempat dan menetrapkan kepedulian bersama dalam bentuk program kerja pastoral yang sepenuhnya memberdayakan hidup orang miskin. Anggota-anggota umat dalam persekutuan gerejawi keuskupan kita yang berkemampuan (kedudukan dan kepemilikan) hendaknya menyadari perutusan bersaudara dan siap sedia membangun kemurahan hati demi kebaikan saudara-saudari yang miskin dan berkekurangan.

Orang-orang yang miskin dan berkekurangan adalah saudara dan saudari kita yang berjalan bersama dalam persekutuan gerejawi kita. Kehadiran mereka tidak perlu menjadi beban belas kasih kita, tetapi sebaliknya harus dipandang sebagai panggilan untuk menggerakkan hati kita menuju kerjasama bersaudara yang saling menggembirakan dalam perjalanan hidup ini. Kehadiran kaum miskin yang tanpa kepedulian merupakan “tanda-tanda kedosaan” yang perlu diperbaiki dan dimurnikan melalui sikap dan tindakan bersaudara yang baik dan benar. Kelemahan dalam peduli akan kaum miskin harus dipandang sebagai “kemalangan manusiawi” dalam Gereja kita yang mendapat perutusan untuk menyampaikan kabar baik bagi kaum miskin.

Oleh karena ini, perayaan 25 Tahun Keuskupan kita mudah-mudahan menjadi waktu yang istimewa untuk mengadakan perubahan dalam sikap dan perilaku kita bersama saudara-saudari yang berkekurangan di lingkungan hidup kita (Paroki, Stasi, Kapela dan Kelompok Umat Basis). Sri Paus Fransiskus sejak terpilihnya selalu mengingatkan Gereja akan panggilan untuk peduli bagi orang miskin dan sudah mencanangkan tema Masa Puasa 2014 untuk peduli orang miskin.

Para Pastor dan Dewan Pastoral Paroki mempunyai kewajiban untuk menelisik dan menemukan jalan keluar, agar kaum miskin di lingkungan pelayanannya men- dapat bimbingan serta perte- manan dalam mendorong pemberdayaan mutu hidupnya. Kewajiban pastoral ini bukan sesuatu yang ditambahkan, tetapi melekat (‘built-in’ ) pada perutusan pastoral, kapan dan di mana saja. Keberpihakan atau pengutamaan bagi kaum miskin harus menjadi bagian utuh dari seluruh pewartaan Gereja, karena iman akan Yesus Kristus hanya bermakna, bila kita melakukan perbuatan kasih, khususnya terhadap kaum terpinggirkan dalam hidup masyarakat.

4. Program Strategis Tahun Injil Orang Miskin (TIOM):

  • 1. Ketetapan Uskup setempat
  • 2. Temu Pastoral para Imam, Dewan Pastoral Paroki bersama para Hidup Bakti (Januari 2014)
  • 3. Penyusunan Program Strategis  Keuskupan (Januari-Pebruari 2014)
  • 4. Penetrapan dalam Program Paroki (Maret-April 2014)
  • 5. Pelaksanaan Kegiatan TIOM di Paroki (Mei-Oktober 2014)
  • 6. Evaluasi TIOM (November-Desember 2014)

5. Hasil Kesepakatan Temu Pastoral Keuskupan Agung Kupang
Para Pastor dan Dewan Pastoral Paroki bersama para anggota Hidup Bakti se-Keuskupan Agung Kupang telah menyelenggarakan Temu Pastoral dan Seminar Evangelii Gaudium. Dalam Temu Pastoral tersebut, para peserta telah mendalami sejenak dan menyepakati pokok-pokok pengalaman dan pengharapan dalam hubungan dengan tujuan dari Tahun Injil Orang Miskin.

Pemahaman bersama mudah-mudahan membuahkan komitmen pastoral bersama untuk menetrapkan apa yang disebut “Injil Orang Miskin”, agar persaudaraan sungguh nyata dalam komunikasi sosial ekonomi yang berkembang menurut tuntutan perkembangan jaman. Nyatanya, perlu suatu gerakan hati bersama untuk masuk ke dalam pusaran perutusan bagi pemberdayaan orang miskin. Keterbukaan serta kemurahan hati dari semua pihak, utamanya dari para pemimpin, harus menjadi andalan awal dalam menumbuhkan serta mengembangkan peduli bersama akan kaum miskin rohani dan jasmani.

Hal ini menuntut kecakapan pastoral bersama dalam semangat bersaudara, agar kemampuan yang tersedia setempat dapat digerakkan menuju suatu perubahan yang berfaedah bagi pemberdayaan hidup sesama yang berkekurangan:
1.  Keadaan umum keluarga-keluarga miskin: setiap paroki mempunyai pengalaman serta pergumulan akan “orang miskin”, yang pada umumnya terhubungkan dengan keadaan material. Kegembiraan hadir, karena persekutuan gerejawi tanggap dan peka terhadap saudara dan saudari yang berada dalam kekurangan. Banyak kegembiraan yang tercatat dalam kaitannya dengan peduli dan perhatian akan keluarga-keluarga miskin di paroki. Kegembiraan itu meliputi kesadaran diri dan sikap berbela rasa dengan saudara dan saudari kita yang amat berkepentingan dalam memerangi keadaan miskin. Banyak juga upaya-upaya bersama untuk menghadirkan kegembiraan hidup di kalangan orang miskin, yang mewujud dalam program pelayanan Paroki dan Tarekat Hidup bakti.
2. Pekerjaan serta mata pencaharian keluarga-keluarga miskin: keluarga-keluarga miskin untuk sementara merasakan kecukupan dalam memenuhi kebutuhan mendasar manusiawi. Pangan hasil pekerjaan cukup tersedia. Banyak juga uluran tangan kasih bagi saudara-saudari yang berkekurangan. Persekutuan gerejawi setempat berupaya untuk memerhatikan keluarga-keluarga yang berkekurangan melalui kejasama pelatihan dan kerjasama gotongroyong. Nampaknya, keadaan persekutuan gerejawi kita tidak membiarkan sebagian umatnya merasa terasing, karena keadaan yang disebut “miskin”.
3. Keadaan perumahan keluarga-keluarga miskin: Persekutuan gerejawi setempat peduli akan tempat tinggal dengan program bedah rumah bagi yang berkekurangan dalam perumahan yang sehat. Sentuhan bersama dalam soal papan akan menjadi tanda kegembiraan hidup dalam perjalanan bersama.
4. Kesehatan dan hidup gizi keluarga-keluarga miskin: orang-orang sakit dan tertimpa gizi buruk di paroki mendapat perhatian yang memadai melalui kunjungan dan bantuan seperlunya. Pendidikan hidup sehat juga mendapat perhatian, agar hidup gizi dapat terpenuhi dengan benar, biarpun tidak berlangsung lama karena keterbatasan sumber daya bersama. Ketersediaan pangan yang cukup dan sehat pun tidak luput dari perhatian pastoral, mislanya dalam bentuk lumbung pangan.
5. Pendidikan dalam keluarga-keluarga miskin:  Persekutuan gerejawi setempat juga memberikan perhatian pada pendidikan anak-anak dan orang muda. Pelatihan-pelatihan dijalankan sesuai dengan sumber daya yang tersedia setempat. Terdapat juga gerakan untuk menghimpun biaya pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu, baik formal maupun informal. Para orangtua perlu memiliki kesadaran untuk memandang masa depan anak-anaknya melalui dunia pendidikan.
6. Peluang-peluang yang tersedia pada keluarga-keluarga miskin: kerjasama untuk membangun hidup lebih baik cukup berkembang dalam persekutuan gerejawi setempat, seperti tabungan bersama dalam bentuk koperasi. Pelatihan ketrampilan perempuan yang membuka peluang kerja bagi kaum perempuan. Para petani serta peternak juga mendapatkan bimbingan melalui pembuatan pupuk bokasi atau pun contoh pertanian organik.
7. Program Pemerintah bagi keluarga-keluarga miskin: Persekutuan gerejawi setempat tidak menutup mata terhadap program-program dalam masyarakat lingkungan hidupnya, baik oleh pemerintah maupun kelompok swadaya. Keterlibatan umat dalam program kesejahteraan ini juga menunjukkan peduli akan perbaikan hidup bersama.
8. Peduli pastoral bagi keluarga-keluarga miskin: Paroki-paroki memang peka akan perjuangan orang miskin. Program sejahtera bersama selalu hadir dalam rencana pastoral di paroki. Persoalannya, apakah semua umat di paroki memang sadar akan panggilan dan perutusan Injil Orang Miskin. Oleh karena itu, tetap perlu penyadaran bersama, khususnya dalam upaya untuk menetrapkan Ajaran Sosial Gereja dalam persekutuan gerejawi setempat.

6. Rencana Strategis bagi pemberdayaan keluarga miskin dalam semangat bersaudara :
Kita sadar bahwa orang miskin adalah saudara-saudari kita. Mereka sama bermartabat manusiawi dengan kita yang menyebut diri berkecukupan. Kita harus mengayunkan langkah bersama untuk berbuat sesuatu sebagai kesaksian iman. Itulah tanggungjawab iman Kristiani yang membuat kita bersekutu dan peduli satu sama lain. Kehadirannya dalam lingkungan gerejawi kita sudah memperkaya kebersamaan kita, tetapi kita berkewajiban untuk menjalin kerjasama, agar mutu hidup mereka mengalami perkembangan yang lebih manusiawi.

Salah satu ucapan syukur kita yang berhubungan dengan ulangtahun keuskupan kita adalah peduli istimewa akan pemberdayaan hidup orang miskin yang berada di antara kita. Kita tidak boleh gagal untuk ikut serta membangun kehidupan yang lebih baik bersama mereka. Perayaan keuskupan kita yang teristimewa adalah bahwasanya kita peduli akan perubahan hidup orang miskin. Segala bentuk perayaan yang “memisahkan satu sama lain” harus berhenti di hadapan saudara-saudari kita yang bergelimangan dalam kemiskinan.

Kebersamaan hidup kita yang bersahaja dapat menghimpun kekuatan bersama untuk berbagi hidup dengan orang miskin. Dengan semangat bersaudara, kita mampu berbuat sesuatu yang sejatinya berfaedah bagi perbaikan hidup orang miskin. Oleh karena itu, marilah kita bangkit dan bergerak bersama untuk mengentaskan saudara-saudari kita dari kemiskinan, agar mereka berdaya dan cerdas dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Persekutuan gerejawi kita bertekad untuk menyatukan kekuatan setempat guna mencapai hasil-hasil nyata dalam hal-hal berikut:
1. Mata pencaharian dan pekerjaan: Paroki-paroki mengupayakan pelatihan kerja bagi kaum muda, agar mereka tidak mudah terpengaruh untuk mencari pekerjaan di tempat yang jauh dengan segala akibat yang merendahkan martabatnya. Pekerjaan di bidang pertanian dan peternakan juga mendapatkan peduli yang efektif, agar pertanian/peternakan selaras alam semakin menjadi kepedulian bersama. Umat Katolik mengalami kegembiraan hidup dalam bertanam pohon buah-buahan dan tanaman perdagangan, di samping pola tanam pangan seperti jagung, padi dan ubi-ubian.
2. Perumahan sehat: Program bersama untuk menghadirkan rumah sehat bagi saudara-saudari kita di paroki/stasi/kapela/ KUB. Perlu suatu rencana yang terpahami dan tersepakati oleh seluruh umat di Paroki, agar gerakan manusiawi ini sungguh menggerakkan hati untuk berbuat dengan murah hati, tanpa paksaan. Kita berbagi kegembiraan Injil Orang Miskin sebagai penegasan iman Kristiani yang berbuah efektif dan kreatif.
3. Kesehatan dan gizi: Paroki harus masuk ke dalam perjuangan orang akan suatu kehidupan yang sehat dan bergizi. Pengembangan hidup pertanian dan peternakan yang selaras alam, agar hidup orang yang berkekurangan lambat laun mengalami perbaikan dalam mutu kesehatannya. Kaum miskin harus bekerja demi kesehatan hidup dan bukan saja bekerja untuk memenuhi kebutuhan pasar dan menggantikan pemenuhan kebutuhan dasar manusiawi dengan hal-hal yang instan dan siap saji.
4. Pendidikan anak-anak dan orang muda: Pendidkan anak-anak di kalangan keluarga-keluarga miskin mendapat perhatian yang seimbang dalam persekutuan gerejawi setempat, agar di masa depan mereka mampu menghadirkan perubahan hidupnya. Melalui pendidikan yang benar, keluarga-keluarga yang berkekurangan dapat mengalami perubahan dalam anak-anaknya. Orang muda perlu pendidikan dan pelatihan kerja yang sesuai dengan sumber daya yang tersedia setempat.
5. Kerjasama dengan program Pemerintah: Umat Katolik harus lebih tersedia untuk membangun dan melibatkan diri dalam program kesejahteraan yang diprakarsai oleh pemerintah. Para pemimpin umat setempat harus belajar cakap untuk memahami program yang tersedia setempat dan menggerakkan umatnya untuk melibatkan diri secara bertanggungjawab.
6. Pembangunan pertanian/peternakan yang berkelanjutan: Umat setempat yang bermata pencaharian bertani atau beternak hendaknya belajar bagaimana menjaga, memelihara dan merawat alam ciptaan, agar alam dapat memberikan hasil panenan yang berkecukupan bagi penghidupan keluarga, terutama dalam memenuhi pangan, pendidikan dan kesehatan.
7. Pencerdasan dalam pekerjaan kelautan bagi masyarakat pesisir: Pengembangan usaha-usaha penghidupan para nelayan, seperti pengembangan rumput laut, pengadaan pukat dan alat penangkapan ikan, termasuk kerjasama pemasaran.
8. Kerjasama dalam tabungan: Koperasi umat di paroki perlu dipelihara dan dikembangkan dengan baik dan benar. Persekutuan gerejawi setempat hendaknya belajar membangun hidup saling percaya dalam hal komunikasi sosial ekonomi, agar kerjasamanya dapat membantu perbaikan hidup orang miskin di masa depan. Hidup dengan sikap menabung harus menjadi hal utama dalam upaya memerangi kemiskinan dalam masyarkat kita.
9. Pengembangan usaha-usaha produktif bersama: Persekutuan gerejawi setempat tahu dan sadar akan kemampuan sumber daya setempat untuk menggerakkan komunikasi sosial ekonomi yang produktif. Kesadaran ini harus diperkembangkan dan dilengkapi dengan sarana-sarana yang memadai, utamanya dalam pola berpikir, agar peluang-peluang untuk memajukan hidup orang miskin dapat tumbuh dan berkembang secara produktif dalam sikap solidaritas Kristiani yang bermutu ekonomis.
10. Kerjasama antar Paroki dalam upaya pemberdayaan orang miskin:  Paroki-paroki harus membangun kerjasama yang bermutu dalam upaya pemberdayaan hidup orang miskin. Kerjasama ini hendaknya bergerak dalam sumber daya insani, sumber daya prasarana usaha dan sumber daya pemasaran. Persekutuan gerejawi yang bekerjasama dalam pemberdayaan orang miskin akan menemukan dirinya sebagai persekutuan para murid Yesus Kristus yang hidup karena komunikasi cintakasih yang kreatif dan efektif.

Di atas semuanya, persekutuan gerejawi harus menyadari bahwa karya cintakasih orang miskin berasal dari keyakinan perutusan Kristiani, yaitu berbagi kegembiraan hidup yang dianugerah Tuhan secara beragam dalam perjalanan hidup bersama. Setiap umat Katolik, bagaimana pun keadaan, kedudukan dan kepemilikannya, bertanggungjawab atas terwujudnya solidaritas Kristiani dalam komunikasi barang-barang duniawi.

Orang miskin dalam persekutuan gerejawi kita punya martabat yang sama dengan siapa saja, dan mereka bukanlah “sampah” dalam masyarakat, yang perlu remah-remah yang tersisa dari keserakahan dan ketamakan sesamanya. Orang miskin adalah tanggungjawab bersama dalam persekutuan gerejawi kita, karena mereka pun adalah pelaku evangelisasi. Oleh karena itu, Injil Orang Miskin adalah kesadaran baru dalam persekutuan gerejawi kita. Itulah cara melakukan evangelisasi baru dalam dunia yang terpecah akibat individualisme dan konsumerisme yang sering melampaui tapal batas manusiawi.

7. Kehadiran bersaudara orang kaya
Orang kaya dalam persekutuan gerejawi adalah anugerah Tuhan. Kehadirannya menjadi tanda keberagaman dalam persekutuan gerejawi menurut dimensi sosial ekonomi. Orang kaya memiliki hati yang sama dengan orang miskin. Dalam perihal sosial ekonomi kedua hati ini dapat bercorak murah hati atau serakah. Keduanya perlu penyadaran kewajiban iman menurut petunjuk dan pedoman yang digariskan dalam Ajaran Sosial Gereja. Keduanya harus belajar bagaimana menjadi murid-murid Kristus untuk mengembangkan komunikasi sosial ekonomi dalam keseimbangan manusiawi.

Orang kaya memiliki harta, bakat, ketrampilan serta hubungan usaha yang dapat memenuhi serta memperkaya lingkungan sahabat-sahabat Yesus Kristus. Pada dasarnya, orang kaya serta orang miskin yang berjumpa dengan Kristus masuk ke dalam tanggungjawab bersama untuk saling membantu dan saling melengkapi dalam perjalanan bersama sebagai saudara dan saudari. Yesus sendiri selama perjalanan evangelisasi di atas bumi menyambut dan bekerjasama dengan siapa saja, juga dengan orang-orang kaya, agar kehadiran-Nya menjadi bagian utuh dari keberadaan-Nya yang melayani semua orang secara manusiawi.

Yesus berjalan berkeliling sambil berbuat baik bagi semua orang, khususnya mereka yang memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus dalam hal makanan, kesehatan, martabat dan pembebasan. Oleh karena itu, orang-orang kaya yang menyebut dirinya murid-murid Kristus mudah-mudahan selalu siap sedia untuk melakukan perintah baru, yaitu cinta kasih, guna mendukung kebenaran tentang hidup manusia, khususnya kemanusiaan saudara-saudari yang miskin dan berkekurangan.

Orang kaya yang tidak merasa terusik oleh keadaan orang miskin bukanlah murid-murid Kristus yang sejati !

8. Tindak-lanjut di Persekutuan Gerejawi Setempat: Paroki
Pada galibnya, Tahun Injil Orang Miskin merupakan bagian hidup panggilan serta perutusan para murid Kristus untuk membangun suatu keseimbangan hidup. Oleh karena itu pentinglah kehadiran serta pemahaman seluruh persekutuan gerejawi setempat, agar masing-masing melibatkan diri dan menemukan peran dalam upaya menggerakkan hati demi keseimbangan hidup, khususnya komunikasi sosial ekonomi.

Persekutuan gerejawi setempat membangun kesadaran diri guna menggerakkan seluruh anugerah Tuhan (pengetahuan, ketrampilan, kepemilikan dan sikap hidup) demi kebaikan bersama, terutama mereka yang berada dalam kekurangan material, moral dan spiritual. Persekutuan gerejawi setempat, dalam hal ini Paroki, mudah-mudahan siap hati untuk mengisi Tahun Injil Orang Miskin, sebagai berikut:
1).  Paroki bersama seluruh lingkungan pelayanan mewujud-nyatakan program “roadmap” yang sesuai dengan keadaan dan tanggap atas kebutuhan “orang miskin” untuk mengalami perbaikan serta perubahan hidup
2). Program “roadmap” paroki harus menjadi bagian utuh dari seluruh rencana pastoral di paroki, terpahami bersama dan melibatkan seluruh umat di paroki
3).  Permulaan komunikasi roadmap paroki adalah penyampaian kepada umat dan penyadaran umat, agar umat menjadi paham, aktif dan kreatif untuk melibatkan diri dalam upaya menghadirkan kegembiraan Injil di tengah perjuangan hidup persekutuan gerejawinya
4).  Gerakan penyadaran Injil Orang Miskin secara kreatif yang tertuang dalam roadmap paroki harus mendorong komitmen bersama untuk melakukan evangelisasi pemajuan hidup manusiawi menurut dimensi sosial ekonomi
5).  Upaya-upaya nyata yang diprogramkan dalam “roadmap” paroki harus terbuka bagi semua umat untuk berperan aktif, agar persaudaraan dalam komunikasi sosial ekonomi semakin menjadi sikap hidup dan tindakan hidup sehari-hari dalam persekutuan gerejawi setempat
6).  Kesejahteraan dan kegembiraan hidup di paroki hanya dapat terwujud, jika persekutuan gerejawi peka dan peduli akan hidup orang miskin, dan demikian Gereja mengalami kesahajaan hidup yang menyaksikan tanda Kerajaan Allah di dalam persekutuan gerejawi setempat
7).  Roadmap paroki “Injil Orang Miskin” adalah bentuk dan sarana pendidikan iman dalam solidaritas kristiani menuju kehadiran Gereja setempat yang “berwatak roh kemiskinan dan punya keberpihakan bersama orang miskin”.

9. Penutup
Roadmap TIOM Keuskupan Agung Kupang ini tersusun dalam bentuk rumusan berdasarkan pemikiran dasar Ajakan Apostolik “Evangelii Gaudium” Sri Paus Fransiskus dan perenungan Temu Pastoral yang dihadiri oleh para imam, para Hidup Bakti dan perwakilan Dewan Pastoral Paroki. Ulasan TIOM ini dimaksudkan menjadi sebuah bahan dasar atau pedoman bagi program pembaruan komunikasi iman dari hati ke hati di masing-masing paroki dalam upaya bersama untuk menggerakkan keadaan inklusif orang miskin dalam hidup persekutuan gerejawi dan masyarakat setempat.

Selamat berkarya, melayani, mengembangkan dan mencerdaskan kesaksi- an hidup iman dalam Gereja “yang berwatak roh kemiskinan dan berbagi bersama orang miskin”. Semoga Tahun Injil Orang Miskin menjadi berkat bagi perjalanan persekutuan gerejawi di Keuskupan Agung Kupang yang berusia 25 tahun. Dalam semangat bekerjasama kolaboratif bersaudara, kita dapat mengalami kehadiran orang-orang miskin yang bermutu saudara dan saudari kita.

Persaudaraan adalah dasar dan jalan menuju perubahan hidup orang miskin. Persaudaraan itu bercorak “ragam”, dan oleh karena itu, persaudaraan memerlukan sikap rela berkorban dalam kemurahan hati yang bergembira dan berkelanjutan secara manusiawi berdasarkan komunikasi iman yang mengakui Yesus Kristus Yang Tersalib dan Yang Bangkit !

Camplong, 16  Januari  2014

Sepenggal Catatan dari Seberang


Romo Fariz Paut, Pr*

“Mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatanNya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia” (2 Tawarikh 16:9).

12 Desember 2013 tahun kemarin, seperti yang sudah-sudah, saya dan beberapa teman melakukan pelayanan Natal dan Tahun Baru dengan mengarungi lautan Pasifik, menjejaki pesisir pantai putih, menyusuri rimbunan pepohonan alam, menuju tempat-tempat yang menantikan kabar sukacita keselamatan Allah. Inilah daerah pantai Barat Simatalu—Simalegi Kecamatan Siberut Barat, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang menantang sekaligus memberi inspirasi dalam pelayanan.

Kami mencoba mengambil gambar-gambar bangunan Gereja untuk menjadi doa dan pengalaman kita bersama terlebih bagi mereka yang belum pernah melihat bahwa di Simatalu juga, kita memiliki umat dan gerejanya.
Selamat melihat-lihat dan semoga membantu kita semua………..
Slide1

Gereja Saikoat dengan 50 Kepala Keluarga dan kurang lebih 268 jiwa. Penduduk yang mayoritas petani ini mempunyai beberapa suku besar seperti: Siritoitet, Salembekeu, Sagelak, Sagoukgouk, Saegek, Siribere, Tataoinan. Dengan menempuh tiga jam perjananan tepi pantai (7 KM), anda sudah akan sampai dan bertemu dengan desa kecil ini.
Slide3

Kalau anda berjalan lagi menyusuri pantai kira-kira satu setengah jam (6,5 KM), maka anda akan bertemu lagi dengan sebuah Dusun bernama Limu. Gerejanya adalah St. Yohanes Sipasirau Limu dengan 76 KK dan kurang lebih 330 jiwa umat Katoliknya.

Slide5

Gereja Santa Clara Bojo, 6 KM arah Barat (1 jam perjalanan kaki). Ada sekitar 37 KK dangan 185 jiwa umat Katoliknya. Jika anda sudah sampai di Bojo, anda sudah kira-kira 20 KM berjalan menyusuri tepi pantai.

Slide6

Gereja di atas perbukitan Simalibeg, mereka menamainya dengan Gereja St. Petrus. Ada dua Dusun di sini: Dusun Simalibeg dengan 60 KK dan Dusun Muntei dengan 80 KK. Jadi ada sekitar kurang lebih 1000 jiwa umat katoliknya di sini. Anda cukup melewati jalan sibau yang panjangnya 4 KM dengan jarak tempuh kaki satu setengah jam pendakian dan penurunan tajam.

Slide7
Panorama sebuah keluarga dari desa Muntei yang sedang mengolah sagu.

SAMPAI JUMPA PADA CERITA-CERITA SELANJUTNYA …

* Imam Keuskupan Agung Kupang yang berkarya di Keuskupan Padang

Refleksi atas Pertemuan PSE Regio NUSRA di Denpasar-Bali


Dengan berakhirnya sebuah pertemuan, kegiatan merangkum hasil merupakan sesuatu yang tidak mudah. Namun, satu hal adalah penting ialah bahwasanya pertemuan telah berlangsung dengan baik dan pada tempatnya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara serta semua pihak yang terlibat di dalamnya. Selanjutnya, masing-masing peserta membawa dalam dirinya suatu wawasan kaya nilai dan mutu dalam menggerakkan tanggungjawab pelayanan setempat.

Pertemuan Regio PSE Nusa Tenggara merupakan bentuk pelayanan bersama dalam kerasulan sosial ekonomi, di mana pembelajaran berbagi menempati urutan utama. Syering pengalaman pastoral PSE adalah suatu bentuk kesaksian iman dalam memajukan kemanusiaan. Proses pembelajaran bersama ini tidak dimaksudkan untuk mengedepankan keunggulan masing-masing, tetapi bagaimana menghadapi lingkungan manusiawi yang berkekurangan ditinjau dari sudut persekutuan gerejawi setempat. Kecakapan dalam mengutarakan ‘penilaian diri” selalu menjadi persoalan tersendiri, yang mengangkat keangkuhan dalam pendekatan pastoral yang  nampaknya “menghakimi” di luar konteks yang tepat.

Pertemuan bersama ini, pada dasarnya, harus menjadi refleksi diri, agar kepercayaan persekutuan gerejawi yang diberikan mengalami cara pandang yang berbantuan dari kemitraan yang terintegrasikan dalam nuansa bersaudara. Kenyataan ini menumbuhkan kembali kerjasama kolaboratif dalam wawasan kerasulan sosial ekonomi. Oleh karena itu, pertemuan regional telah menjadi sebuah ruang gerak belajar kembali dalam “mimpi yang sama”, yaitu pulihnya kinerja pelayanan yang mengutamakan saudara-saudari yang berkekurangan. Tanpa merujuk pada kesombongan diri, nyatalah bahwa semua peserta sadar akan nilai pembelajaran bersama dalam menanggapi persoalan kemanusiaan setempat.

Pengucapan-pengucapan animatif yang biasanya dijalankan setempat menemukan diri dalam pusaran perutusan yang dialami secara berbeda oleh masing-masing, biarpun semangat dasar dan tujuan utama adalah sama, yaitu solidaritas Kristiani yang efektif. Kerasulan sosial ekonomi tidak mempunyai tanggungjawab untuk mengumpulkan kekuatan diri, tetapi kewajiban untuk mengosongkan diri demi menerima Kekosongan Mutlak yang mampu melimpahkan segalanya. Keremajaan dalam kehadiran energetik nampaknya muncul sebagai kendala, tetapi padaa galibnya bukanlah demikian, karena hal utama adalah bagaimana menapakkan langkah pada warisan kerasulan yang sudah terjadi. Dengan demikian keluhan-keluhan sebenarnya bukanlah berasal dari luar, tetapi dari kemampuan diri untuk menanggapi kepercayaan pelayanan yang diserahkan kepada masing-masing. Benturan-benturan tata laksana kerasulan sosial ekonomi hendaknya digantikan dengan pengharapan akan terbentuknya nilai-nilai hidup yang berlaku selamanya dalam prutusan Gereja kita.

Dengan menyadari kegelisahan yang tiada ujung pangkalnya dalam kerasulan sosial ekonomi, para Rasul PSE selalu bergembira dalam menyuburkan pelayanan kemanusiaan dengan menjalin kerjasama bersesama dan bersaudara. Alasannya adalah bahwasanya rasul-rasul PSE hanya mempunyai satu tujuan, ialah memberitakan kabar gembira dalam memajukan kemanusiaan semua orang, khususnya teman-teman seiman. Kewajiban iman ini tidak tergantung pada keunggulan para rasul, tetapi pada inspirasi Roh Kudus yang menjiwai persekutuan gerejawi, agar mampu hidup berdaya tahan, berdaya tarik dan berdaya pikat dalam gerakan bersama yang berkelanjutan secara manusiawi. Dengan menjalani temu regional PSE, mudah-mudahan kehausan akan “kuasa”, artinya “paling hebat”,  berubah menjadi kesahajaan rasional untuk setia dan berani melanjutkan pengabdian bersesama, bagimanapun keterbatasan dan kekurangannya. Beranilah dan bersemangatlah, hai rasul-tasul PSE, untuk melaksanakan mandat pemajuan manusiawi dan jangan tawar hati karena hubungan-hubungan keduniawian yang membuat kebekuan dan kekakuan dalam pelayanan pastoral PSE.

Kesetiaan akan nilai-nilai Kerajaan Allah yang terungkap dalam perutusan Uskup setempat harus menjadi kekuatan dan daya dorong bagi para rasul PSE, dan dengan daya ini mereka mengadakan jalinan persahabatan pastoral dengan para Pastor Paroki dan parapihak yang berkehendak baik, agar parapihak yang berkepentingan tidak terlantar dan terpinggirkan. Pendekatan pastoral bersahabat dengan para Pastor Paroki adalah jalan masuk untuk membangkitkan serta menggerakkan sumber daya yang terbenam dalam diri saudara-saudari yang berkebutuhan istimewa ditinjau dari sudut pemajuan manusiawi. Kecakapan pastoral ini harus tumbuh dalam diri para rasul PSE, agar sikap tahu diri dan sadar diri semakin menjadi kesukaan semua pihak untuk melibatkan diri, mengembangkan kebersamaan dan mencerdaskan hati nurani demi keutuhan cita-cita Pencipta yang tertanam dalam diri setiap orang, utamanya yang berkekurangan dan terpinggirkan dalam proses humanisasi. Jalinan kerjasama bersaudara ini pasti mampu menyaksikan gerakan bersesama dalam mewujudkan solidaritas Kristiani yang efektif serta produktif dalam iman dan karya. Oleh karena itu para rasul PSE, dalam hal ini para pelayan Komisi PSE Keuskupan, tidak perlu berkecil hati, gelisah atau pun kecewa, karena perutusan kemanusiaan ini bukanlah miliknya, tetapi anugerah yang mendebarkan hati, bila tidak dilaksanakan dengan baik dan benar. Kita adalah pelayan dan karena itu berada di rumah orang lain. Biarpun demikian, kita harus berlaku sebagai “pemilik” rumah itu dan berkewajiban untuk memelihara, merawat dan memberdayakan rumah tersebut, biarpun sewaktu-waktu sebutan “pemilik” dapat berganti. Inilah keistimewaan dari perutusan rasul PSE dalam pastoral sosial ekonomi. Kerasulan sosial ekonomi bukanlah milik para rasul PSE, tetapi ruang gerak di mana para rasul PSE belajar melakukan perannya sebagai murid-murid Kristus yang sejati dengan kecakapan profesional ‘dari hati ke hati’.

Kerajinan dalam menelusuri, menganalisis dan melakukan kerasulan sosial ekonomi sebagai bagian keterlibatan Gereja dalam perihal barang-barang duniawi, menegaskan upaya-upaya nyata melalui gerakan bersama gerejawi, yaitu Aksi Puasa Pembangunan, Hari Pangan Sedunia serta Bentuk-bentuk Kerjasama Pemberdayaan Manusiawi seperti kerjasama keuangan dalam bentuk koperasi:

Aksi Puasa Pembangunan

  1. Persekutuan gerejawi setempat melakukan gerakan penyadaran yang mendorong seluruh umat untuk membangkitkan pembaruan hidup iman menuju keseimbangan mutu hidup yang menumbuhkan kembali kesaksian kemuridan Kristus. Dalam upaya puasa Prapaskah, persekutuan gerejawi diharapkan mampu menemukan kembali wujud kemuridan yang dipanggil untuk memerhatikan pembaruan diri dengan menjalani perbuatan pantang dan puasa sebagai tanda pengosongan diri demi kebaikan bersama.
  2. Hasil dari gerakan penyadaran ini mewujud dalam kegembiraan kebangkitan “baru” yang terungkap dalam kebugaran rohani dengan sikap bersesama yang nyata, yaitu persembahan amal kasih, yang lazimnya disebut “dana aksi puasa”.
  3. Dana aksi puasa adalah “milik” persekutuan gerejawi yang meluas dengan sikap berbagi untuk menyertai upaya-upaya pemberdayaan mutu hidup dari saudara-saudari yang berkekurangan ( pengetahuan, ketrampilan, kedaruratan manusiawi dan pemberdayaan sumber hidup), agar gerakan pembangunan bagi semua mendapatkan kepedulian yang efektif dan produktif.
  4. Gerakan penyadaran ini menjadi penegasan hidup persekutuan gerejawi akan nilai-nilai kemanusiaan dalam konteks budaya kasih yang mensyukuri kemurahan hati, belaskasihan, solidaritas kristiani dan keugaharian dalam mengembangkan persaudaraan sejati. Melalui kerjasama berbagi, persekutuan gerejawi baik nasional maupun diosesan mengalami Kegembiraan Injil Yesus Kristus dalam perjalanan hidup bersama.
  5. Menurut kesepakatan para Waligereja Indonesia, dana aksi puasa berbagi kegembiraan bersama sebagai berikut:  15 % Panitia APP Nasional, 10% Panitia Dana Salidaritas Antar Keuskupan, 5% Dana Kemanusiaan Karina KWI dan 70% Dana Kemanusiaan di masing-masing Keuskupan, yang penggunaannya ditetapkan oleh Uskup setempat. Dana solidaritas persekutuan gerejawi ini memperluas pandangan kemanusiaan sebagai dampak dari sikap rela berbagi dalam semangat bersaudara.
  6. Gerakan penyadaran APP ini semakin menjadi kegembiraan bersama selama masa puasa, karena keterlibatan aktif dan kreatif dari seluruh persekutuan gerejawi setempat ( Uskup dengan Surat Gembala Puasa, Komisi PSE sebagai penggerak Panitia setempat (nasional dan diosesan), Pastor Paroki bersama Dewan Pastoral Paroki/ Seksi Sosial Paroki atau Panitia APP Paroki, Pemimpin umat setempat yang melibatkan seluruh umat) yang semakin sadar akan makna dan nilai pembaruan diri sebagai murid-murid Kristus yang dikenal karena olah hidup iman yang terungkap dalam karya amal kasih.
  7. Diharapkan bahwa hasil olah hidup iman akan wafat dan kebangkitan Kristus senantiasa menghadirkan cakrawala baru dan meluas dalam perjalanan bersama sepanjang tahun, agar faedah pembaruan diri semakin membantu upaya-upaya pemberdayaan hidup sesama yang memerlukan kepedulian khusus dalam proses pemberdayaan martabat manusiawi bagi semua. Dengan demikian menjadi nyata bahwa hidup iman bukanlah suatu urusan pribadi semata, tetapi urusan publik yang didukung oleh kebersamaan bersaudara dan berdaulat.

Hari Pangan Sedunia

  1. Sejak awal upaya masyarakat dunia untuk menyoroti dan memperhatikan “pangan”, Gereja Katolik telah melihatnya sebagai bagian dari perutusan Gereja dalam dunia. Sebagai upaya pastoral yang melekat dalam perutusannya, Gereja mendorong persekutuan gerejawi untuk melibatkan diri dalam menggerakkan masyarakat akan tanggungjawab bersama perihal keamanan, ketahanan dan kesehatan pangan bagi semua. Pendekatan Gereja selalu bercorak pastoral, yaitu menyadarkan hubungan-hubungan manusiawi yang secara mendasar berbagi atas sumber-sumber pangan yang mendukung mutu hidup bagi semua.
  2. Masyarakat dunia, termasuk masyarakat setempat kita, masih mengalami ketidak-seimbangan dalam proses penyediaan pangan bagi semua. Di tengah kelimpahan akibat kemajuan ilmu dan teknologi, sebagian masyarakat dunia masih mengalami kekurangan, bahkan kelaparan, dalam hal pangan. Persekutuan gerejawi memandang dirinya sebagai bagian masyarakat dunia yang bertanggungjawab juga atas pulihnya kebutuhan-kebutuhan mendasar manusiawi. Kesadaran ini membuat persekutuan gerejawi setiap tahun melapangkan pemikiran dan upaya dalam perihal pangan dengan mengemukakan wawasan etis manusiawi.
  3. Dalam kaitannya dengan Hari Pangan Sedunia, persekutuan gerejawi kita di Indonesia melakukan program kegiatan yang berkenaan dengan upaya penguatan pangan dalam masyarakat. Secara bertanggungjawab, persekutuan gerejawi bergerak untuk memperindah keutuhan ciptaan, agar tanah sebagai sumber pangan utama mendapat penghormatan, pemeliharaan, perawatan serta pemberdayaan menurut daya dukung yang tersedia setempat, misalnya dengan gagasan pertanian selaras alam dan tindakan pelestarian lingkungan hidup. Dengan mengindahkan daya dukung alam setempat, persekutuan gerejawi memberikan sumbangan bagi pendekatan layak manusiawi terhadap tindakan-tindakan kekerasan yang merusak alam ciptaan.
  4. Gereja sadar akan anugerah akal budi bagi manusia. Olehnya, tata kelola pemberdayaan pangan pantas mengedepankan upaya-upaya yang secara rasional memengaruhi kebijakan-kebijakan yang berpihak pada pembangunan yang berkelanjutan secara manusiawi. Program Hari Pangan Sedunia dalam persekutuan gerejawi menganggap perlu bahwa parapihak yang berkepentingan dengan perihal pangan semakin bertanggungjawab dalam proses pengadaan, pembudi-dayaan dan pembagian pangan, agar semua orang dapat melibatkan diri dan menikmati ketersediaan pangan demi kelayakan hidup manusiawinya.
  5. Di tengah tantangan berat akan persoalan pangan akibat keserakahan manusia(perubahan iklim, polusi, hancurnya hutan dan daya dukung tanah, bencana alam etc), gerakan HPS Gereja melalui upaya-upaya berskala kecil tetapi pasti, ingin menggerakkan (melibatkan, mengembangkan dan mencerdasakan) persekutuan gerejawi untuk melakukan tata kelola pangan dengan tindakan-tindakan yang berkelanjutan secara manusiawi: pertanian selaras alam, pemakaian saprotan organik, peternakan dan perikanan yang sehat manusiawi, pengembangan pangan setempat dll. Jadi, persoalan pastoral dalam hal pangan, bukanlah pertama-tama persoalan teknis, tetapi persoalan manusiawi, yaitu tanggungjawab yang baik dan benar dalam memastikan keamanan dan kedaulatan pangan bagi semua.
  6. Kehadiran pangan yang sehat bagi semua akan membantu perbaikan gizi masyarakat dan pada gilirannya memperkuat daya kerja manusiawi untuk menghasilkan pangan yang cukup. Gerakan HPS menjadi salah satu pendukung pemberdayaan hidup, agar kemiskinan yang masih merajalela semakin terkikis dari perjalanan peradaban manusiawi. Dengan demikian gerakan HPS juga menjadi ruang lingkup pendidikan pembangunan mutu hidup manusia, karena kehadiran hidup gizi yang benar akan menghalau pelbagai penyakit.
  7. Salah satu bagian dari perayaan HPS kita adalah dana HPS. Kerelaan berbagi dalam mendukung pemberdayaan pangan juga merupakan suatu berkat dalam program HPS Gereja kita. Para Waligereja masih membiarkan persoalan ini terbuka dan belum menetapkan suatu keputusan, tetapi kerelaan yang berkembang antar keuskupan semakin menunjukkan kegembiraan untuk berbagi daya dukung bersama dalam gerakan pangan bersama. Rasul-rasul PSE mempunyai tanggungjawab untuk mengembangkan “hati berbagi pangan” melalui kemurahan hati berbagi demi menguatnya komitmen pangan bersama sebagai penegasan solidaritas HPS.

Kerjasama Pemberdayaan Manusiawi (LKM ?)

  1. Perkembangan masyarakat kita dewasa ini sangat dipengaruhi oleh alat tukar berupa uang. Kehadirannya dalam pergaulan hidup kita adalah anugerah, tetapi sekaligus juga dapat menjadi petaka. Keinginan manusia untuk memperoleh barang-barang duniawi memerlukan daya keuangan. Sarana utama ini tidak dengan sendirinya membawa hasil nyata dalam persoalan keadilan dan perdamaian. Oleh karena itu, keuangan harus berkembang sebagai “kredit sosial” di mana manusia belajar untuk membangun kesaling-percayaan yang efektif manusiawi.
  2. Kerjasama pemberdayaan manusiawi pertama-tama terletak pada upaya bersama untuk membangun kepercayaan diri yang terbuka secara rasional. Upaya-upaya kerjasama dalam bentuk koperasi kredit atau pun usaha bersama memang diperkembangkan demi menguatnya kolaborasi keuangan yang didasarkan pada sikap saling percaya, yang menjadi nyata dalam keterbukaan, transparansi dan akuntabilitas. Kejujuran dan kesungguhan hati dalam tata kelola keuangan bersama dapat menjadi daya dorong bersama untuk memberdayakan mutu hidup. Pada umumnya, tata kelola keuangan bersama memerlukan kehati-hatian, agar kerjasamanya dapat berkelanjutan secara manusiawi dan produktif dalam pelayanannya.
  3. Daya dukung hidup berupa usaha-usaha produktif dalam persekutuan gerejawi mudah-mudahan mendorong penguatan hidup saudara-saudari yang berkekurangan, agar mereka semakin menjadi pemilik dalam mengadakan perubahan hidupnya. Lembaga-lembaga kita seperti Komisi PSE tidak pernah menjadi “pemilik” usaha-usaha produktif, selain membuka wawasan dengan percontohan. Para rasul PSE tidak boleh menjadi pesaing dalam upaya pemberdayaan hidup mereka yang berkepentingan, agar karya penyadaran kerasulan sosial ekonomi tidak terkooptasi oleh kepentingan dirinya.
  4. Usaha-usaha produktif yang berkembang dalam masyarakat atau persekutuan gerejawi yang bergerak atas dukung berbantuan dari APP dan HPS harus membuahkan perubahan hidup dalam diri kelompok sasaran, agar mereka semakin mampu mengalami perubahan dalam hidupnya. Kehadiran penyadaran PSE bertanggungjawab untuk menyertai dan memberikan pendamping yang efektif, agar kerjasama pemberdayaan ini membuahkan hasil yang berkelimpahan secara manusiawi. Artinya, keberhasilan pemberdayaan ini menjadi daya pengangkat bagi kemurahan hati yang dalam semangat bersaudara mampu bekerjasama dengan semua orang untuk membangun keseimbangan hidup sosial , yaitu mengentaskan persekutuan gerejawi atau masyarakat luas dari kesenjangan-kesenjangan yang merongrong keadilan dan perdamaian.
  5. Kerjasama pemberdayaan manusiawi selalu mengandaikan kejujuran, keterbukaan, kepatutan, kepercayaan dan kemurahan hati dalam konteks solidaritas Kristiani. Nilai-nilai kemanusiaan ini adalah kasih karunia Allah yang tertanam dalam hati setiap orang dan semoga hadir sebagai tanda-tanda kegembiraan Injil dalam proses kerjasama pemberdayaan manusiawi. Inilah tanggungjawab utama dari kerasulan sosial ekonomi kita dan itulah hati Ajaran Sosial Gereja.

Refleksi atas karya kerasulan sosial ekonomi telah terlaksana dalam lingkungan penuh doa, khususnya perayaan Ekaristi, dengan mana para rasul PSE meyakini penyelenggaraan ilahi sesuai dengan perintah Yesus : “Mintalah, maka kamu akan mendapat”.  Dengan suasana ini, para rasul PSE merasakan nafas ilahi yang menghidupi perjalanan pelayanan kemanusiaan ini dan pada gilirannya merasakan kehadiran rekan-rekan sekerja sebagai suatu jejaring hidup, yang memperlancar perjumpaan yang berbuah dalam peradaban kasih. Pendasaran iman ini mudah-mudahan memperbarui semangat dan tekad bersama untuk memberitakan kabar baik dalam kerasulan sosial ekonomi dengan sepenuh hati. Perjumpaan ekaristis pasti telah menggerakkan hati temu karya PSE menuju wawasan pelayanan yang sejatinya bermartabat manusiawi dengan semangat “memecah-mecah diri” demi mekarnya keseimbangan komunikasi sosial ekonomi yang adil dan merukunkan.

Persekutuan Kerasulan Sosial Ekonomi Regio Nusa Tenggara bersyukur atas jaringan kerjasama yang semakin bermutu manusiawi. Keterbukaan dan kerelaan belajar bersama sudah menghadirkan pertemuan ini sebagai suatu perjumpaan sejati sebagai ungkapan budaya kasih berbagi kegembiraan, kesulitan dan pengharapan dalam pelayanan kemanusiaan. Kita kembali ke tempat kita masing-masing dengan membawa kesadaran baru dalam hati yang penuh syukur atas kebaikan Tuhan yang menyata dalam persaudaraan PSE. Niat kita bersama adalah berbagi kasih karunia ini dengan Uskup serta para Pastor Paroki bersama seluruh persekutuan gerejawi setempat. Kematangan visi kerasulan kita mudah-mudahan tidak membuat kita puas diri, tetapi membuat kita merasa kekurangan untuk selalu belajar memperluas cakrawala kerasulan ini demi kebaikan saudara-saudari kita, utamanya yang berkekurangan dalam kelayakan hidup manusiawi. Rasul-rasul PSE, beranilah maju dan berbuat baik, tariklah pelatuk untuk membidik kebaikan bersama !  Jangan takut, bukalah palang-palang pintumu, agar kebaikan Tuhan semakin berkecamuk dalam persekutuan gerejawi yang dipercayakan pada pelayanan kita.

Semoga berfaedah dan Selamat melayani!

Jakarta, 30  Januari  2014

Salam  Ta’zim,

Uskup P. Turang.

Belajar Sepanjang Hidup


Surat Puasa 2014

Saudara-saudari terkasih,

Dalam masa puasa Prapaska 2014, kita ingin merenungkan tentang “belajar sepanjang hidup”, anugerah kehidupan bagi setiap orang. Dengan belajar, orang membangun pribadinya, sesama dan lingkungan hidup ini. Melalui belajar, manusia memerhatikan karya penciptaan Tuhan dalam dirinya. Manusia sadar mengambil bagian dalam karya Tuhan dengan belajar demi ketenteraman dan kesejahteraan hidup ini. Dengan belajar seumur hidup manusia juga mengambil bagian dalam memelihara keutuhaan dunia yang diciptakan dalam keseimbangan dan keselarasan oleh Tuhan sendiri. Oleh karena itu belajar sepanjang hidup adalah keindahan dan kemuliaan bagi manusia. Dengan memperindah dunia melalui ketekunan belajar, manusia menghadirkan Kemuliaan Tuhan dalam lingkungan hidup ini. ”Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan dan orang mendapat balasan daripada yang dikerjakan tangannya” (Ams 12:13).

Saudara-saudari terkasih,

Belajar sepanjang hidup adalah kebaikan mendasar bagi manusia ditinjau dari kepribadiannya, hubungan dengan sesama, pembentukan sebuah keluarga, sokongan akan kebaikan umum, penegakan keadilan dan pencerdasan perdamaian. Oleh karena itu, tujuan dari ketersediaan sarana belajar bagi semua orang selalu bercorak utama, juga dalam masa kesulitan hidup ekonomi. Dengan belajar sepanjang hidup, manusia sendiri menemukan jati diri dan martabatnya sebagai gambaran dan rupa Allah melalui kerja yang dilakukannya. Juga manusia menemukan cara-cara baru dan teknologi baru yang berdampak dan berdaya-guna bagi perkembangan kepribadian serta lingkungan hidupnya. Pentinglah kita menemukan lingkungan yang membuka peluang bagi bakat dan mengakui sumbangannya sepanjang perjalanan hidup. Kita semua dipanggil untuk tumbuh dan berkembang melalui budaya pikir dan budaya laku yang baik. Kita berada dalam lingkungan yang benar untuk maju dan berkembang, bilamana kita selalu belajar membangun peradaban kasih. Dalam mengembangkan pengetahuan yang bertanggungjawab dan jujur, kita menjadi orang yang bermartabat dalam dunia kita. Rasul Paulus berkata : “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu” (Fil 4:9).

Saudara-saudari terkasih,

Ketekunan untuk belajar mempunyai sumbangannya bagi perjalanan hidup duniawi. Tugas dan tanggungjawab kita adalah memelihara dan memberdayakan nyala api yang telah ditanamkan Tuhan Allah dalam diri kita. Kita perlu mengadakan lompatan iman untuk menggerakkan semangat belajar kita, karena “Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita, kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perbuatan yang baik”(2Tes 2:16-17). Sejatinya, keluarga kita semua berjuang untuk mendapatkan keseimbangan yang tepat antara memperoleh penghasilan hidup dan melayani suatu tujuan. Hendaklah kita berusaha agar keluarga kita menjadi penebar kasih bersaudara dalam perjalanan belajar terus menerus, seperti Keluarga Kudus di Nazareth belajar membangun peradaban kasih. Manusia dipanggil untuk berjumpa dengan semua makhluk ciptaan menurut model dari Sabda Yesus Kristus yang masuk ke dalam dunia dengan menjadi “sama dengan kita, hanya tidak berbuat dosa”(Ibr 4:15). Kehadiran Sabda yang menjadi manusia mengarahkan manusia untuk belajar hidup cerdas, kreatif dan inovatif dalam mengembangkan inteleknya, mengasah perasaannya dan mewujudkannya dengan Membangkitkan (menjumpai dan melibatkan, hadir bagi orang lain dan mengajak untuk berpartisipasi bersama dalam membangun kehidupan), dengan Mengerakkan  (meningkatkan kreativitas hidup secara utuh dan bertumpu pada nilai-nilai dan kearifan hidup masyarakat setempat), dengan Memberdayakan (memperluas, menguatkan dan memperbesar kepercayaan diri dalam kerjasama dengan semua pihak) dan dengan Mencerdaskan (menghadirkan hati nurani pribadi dan komunitas untuk menentukan arah kehidupan yang sesuai dan bermakna berdasarkan iman Kristiani). Jika kita ingin mengarahkan hidup yang bermakna, kita mendorong kemauan serta ketekunan belajar sebagai yang utama dalam hidup sehari-hari: selalu “siap sedia menarik pelatuk: lakukan untuk bangkit dan bergerak maju ! Manusia belajar untuk seluruh hidup dan bukan saja sebagian dari hidup: “Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim 6:10).

Saudara-saudari terkasih,

Belajar tidak saja ditarik oleh kemauan dan kemampuan diri kita, tetapi terdorong oleh suatu panggilan. Kita sadar bahwa kita hidup untuk menjadi tekun belajar secara bermakna dalam hidup bersama sesama. Kita sadar bahwa apa saja yang kita pelajari seharusnya mempunyai hubungan dengan hasil yang melampaui panca indera kita. Kita belajar untuk meninggalkan suatu warisan yang berfaedah bagi banyak orang, sebab “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”(2Tim 3:16-17).  Kita dapat melakukan suatu manfaat besar dalam hidup sesama kita dan dengan demikian membuat hidup kita bermakna dan bermartabat melalui belajar sepanjang hidup ini. Dengan belajar berpikir dan bertindak benar, maka kita dapat menghindarkan diri dari pola hidup pintas untuk mencapai kepuasan hidup. Pola belajar jalan pintas antara lain pengedaran narkoba yang merusak perjalanan hidup manusia, karena manusia ditempatkan dalam keadaan penderitaan sepanjang hidup dan merugikan serta menghancurkan hidup keluarga dan masyarakat. Sejalan dengan jalan pintas ini, terdapat juga orang yang membawa “perolehan” ke rumah sebagai hasil suap, pemerasan ataupun korupsi. Dengan uang kotor, orang semacam ini memenuhi kebutuhan dan memelihara anak-anaknya, tetapi anak-anaknya tetap berada dalam “kehampaan dan kemelaratan”, karena anak-anak tidak punya martabat manusiawi lagi. Dengan “berlaku” demikian, orang tidak mengalami ketenteraman dan kedamaian karena tiada kejujuran dan keadilan dalam pembelajaran hidup. Cara demikian tidak sesuai dengan panggilan hidupnya sebagai manusia yang bermartabat, yaitu memperluas wawasan dalam kebenaran. Oleh karena itu, kita harus belajar hidup benar dan bersih utamanya dalam tatanan hidup politik. Jika terjadi penyelenggaraan pemilihan, maka warga yang baik harus menolak uang politik, tetapi memilih calon yang bersih dan bermartabat. Menerima uang politik berarti bahwa kita menyuburkan sikap dan praktek korupsi dalam hidup kita. Pada galibnya kita tidak menerima apapun dan memilih orang yang tepat dengan hati nurani yang cerdas.

Saudara-saudari terkasih,

Dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial, dan tanpa berkomunikasi dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat pembawaannya. Realitas sosial menjadi tempat perjumpaan dengan sesama dan medan belajar untuk mengembangkan kehidupannya. Hal ini bisa terjadi kalau manusia terbuka dan peka, serta berani masuk sepenuhnya untuk mengalami dinamika sosial yang terjadi. Perkembangan dunia sesungguhnya memerlukan kehadiran orang-orang yang suka belajar bekerja sama. Di dalam belajar bekerja sama yang baik dan benar, manusia mengalami suatu persahabatan, daya dukung bersama untuk mengembangkan lingkungan hidup yang berkelanjutan secara manusiawi. Dengan belajar bersama, manusia memanusiawikan diri bersama sesama dalam lingkungan hidup tertentu dan dengan demikian mendorong komitmen bersama untuk mewujudkan peradaban kasih keadilan dan perdamaian: “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah … supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus”(1Ptr 4:10, 11).

Saudara-saudari terkasih,

Dalam upaya untuk memerangi kemiskinan dalam masyarakat, kehadiran proses belajar merupakan unsur utama. Dengan meningkatkan pengetahuan dalam hidup ini, orang dapat mengisi keperluan mendasar hidup manusiawi. Di samping pelbagai upaya untuk mengatasi kemiskinan, pertama-tama kehadiran pendidikan bagi semua merupakan prasyarat utama. Kelompok orang “miskin” yang memperoleh pendidikan yang sepadan akan membantu mereka untuk mengadakan perubahan dalam hidupnya. Kemiskinan hanya mungkin terhapus oleh orang miskin sendiri. Dengan membuka kesempatan yang luas bagi kelompok orang ini, kita menebar anugerah kebaikan Tuhan, agar semua orang boleh mengalami martabat manusiawi selayaknya.  Perubahan hidup orang miskin memerlukan sumber daya yang membuat mereka mampu mengatasi persoalan hidupnya. Mereka dapat semakin mengembangkan dirinya dengan belajar dari peristiwa hidup yang dijumpainya dalam keluarga, lingkungan hidup, lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga kerjasama yang tersedia. Oleh karena itu, Keuskupan kita membaktikan Tahun 2014 sebagai Tahun Injil Orang Miskin.

Saudara-saudari terkasih,

Mudah-mudahan semangat “belajar sepanjang hidup” mendorong kita untuk membangkitkan serta menggerakkan pola pikir dan pola laku yang baik dan benar guna mengambil bagian dalam perutusan Kristus tentang Kerajaan Allah. Dengan belajar berdasarkan kegembiraan hidup iman, kita menghadirkan dalam dunia kita suatu lingkungan di mana orang belajar bersama untuk saling percaya dalam berbagi hidup bagi semua. Dalam perjalanan hidup ini, kita belajar menekuni kehidupan dengan perilaku jujur dan terbuka, agar melalui upaya belajar sepanjang hidup, kita saling berbagi anugerah kebaikan Tuhan: “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus yang telah memanggil kamu …”(1Ptr 1:14-15).

Dalam masa puasa ini, seraya kita mempersiapkan diri untuk perayaan peristiwa salib dan kebangkitan – di mana kasih Allah menebus dunia dan menyinarkan cahaya ke dalam sejarah umat manusia – saya berharap bahwa kita sekalian memanfaatkan waktu bernilai untuk mengobarkan kembali kegembiraan iman kita akan Yesus Kristus. Dengan demikian kita masuk bersama Dia ke dalam dinamika kasih akan Allah Bapa dan setiap saudara-saudari yang kita jumpai selama perjalanan hidup kita dalam daya Roh Kudus. Saya berdoa kepada Allah dan mohon berkat bagi anda sekalian. Selamat menunaikan ibadah bakti puasa 2014 !  Puasa dan pantang berlaku untuk Hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat selama masa Prapaskah. Marilah kita belajar sepanjang hidup untuk menjadi orang yang murah hati dan peduli sesama dengan penuh sukacita!

Kupang, 2  Pebruari  2014

Salam dan Berkat,

Mgr. Petrus Turang

Pesan Puasa 2014; Uskup Agung Kupang


OLYMPUS DIGITAL CAMERA“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”  (Yoh 10:10)

Saudara-saudari terkasih,

Kita telah terbiasa mendengar dan melihat, melalui media sosial, kisah-kisah yang menyedihkan dari masyarakat dewasa ini. Penayangannya membuat kita terusik karena tersentuh olehnya, mendengarnya dan melihatnya di sekitar kita. Kisah-kisah yang menyedihkan dan menggembirakan ini bercampur-baur di jalan-jalan, lingkungan tetangga, rumah kita, dan juga, mengapa tidak, dalam hati kita. Penderitaan tidak pernah sirna dari lingkungan hidup kita: pelanggaran hak-hak mereka yang rentan, cinta akan uang dengan kejahatannya seperti narkoba, korupsi, lintah darat, perdagangan manusia serta penghancuran sumber daya alam, di tengah kemelaratan serta kepapaan material, moral dan spiritual. Kesalahan dan dosa kita sebagai Gereja juga tidak luput dari pemandangan yang menyeramkan ini. Hilangnya nilai-nilai etis dalam masyarakat menyebar ke dalam keluarga-keluarga, kebersamaan bertetangga di perdesaan dan perkotaan. Para petani, peternak dan pedagang kecil tetap mengalami diri terpinggirkan, karena mereka tidak mampu menjalin hubungan dengan permodalan, pengetahuan serta ketrampilan yang memadai akibat kemiskinan. Nyatalah keterbatasan, kelemahan serta ketidak-berdayaan kita untuk mengadakan perubahan atas daftar tak terbilang dari kenyataan-kenyataan yang menyedihkan, merugikan dan merusak keutuhan ciptaan dan martabat manusiawi. Pertanyaannya, apakah kita orang beriman Katolik membiarkan lingkungan demikian berkecamuk tanpa kesadaran untuk mendorong perubahan?

Saudara-saudari terkasih,

Masa Puasa menghampiri kita sebagai suatu seruan akan kebenaran dan harapan pasti, yaitu hidup tanpa topeng dan menghilangkan senyuman palsu kita. Memang, mungkinlah bahwa segalanya menjadi baru dan berbeda, karena Allah tetap  kaya dalam kebaikan dan belaskasih, selalu suka mengampuni. Dia menyemangati kita untuk mulai lagi, yaitu melakukan suatu perjalanan kemuridan paskah menuju Kebenaran, sebuah perjalanan yang mencakup salib dan pantang, yang nampaknya tidak menyenangkan, tetapi tidak hampa makna. Kita menjadi sadar untuk mengakui bahwa terdapat sesuatu yang salah dalam diri kita, masyarakat dan  Gereja : perlu perubahan, berbalik dan bertobat. Masa liturgi yang mulai Hari Rabu Abu bukan hanya bagi diri kita, tetapi juga bagi pembaruan hidup iman keluarga-keluarga kita, komunitas-komunitas kita, Gereja kita, tanah kelahiran kita, seluruh dunia. Masa ini berlangsung selama 40 hari untuk bertobat kepada kekudusan Allah; menjadi rekan sekerja yang menerima rahmat dan peluang untuk membangun kembali hidup manusia, sehingga setiap orang akan mengalami keselamatan yang Kristus anugerahkan bagi kita melalui Wafat dan Kebangkitan-Nya. Bersama dalam doa, pantang dan pendalaman tema APP perihal “Belajar Sepanjang Hidup”, kita mengembangkan dan mencerdaskan nurani kekuatan Paskah yang mengubah segalanya, dan rela menggerakkan hati akan “amalkasih puasa kita”, yaitu Solidaritas Aksi Puasa Pembangunan, dengan murah hati dan penuh syukur.

Saudara-saudari terkasih,

Gereja Keuskupan Agung Kupang dalam usianya ke-25 Tahun bergerak bersama menuju Paskah dan percaya bahwa Kerajaan Allah adalah mungkin dalam lingkungan hidup ini. Kita perlu musim baru yang bersemi dari hati kita, merekah mempesona karena rindu akan pertobatan dan kasih, rahmat dan gerakan efektif guna meringankan kesedihan begitu banyak saudara-saudari yang berjalan bersama kita. Tiada perbuatan kebajikan dapat tumbuh besar, jika tidak disertai oleh kemanfaatan bagi orang lain. Sejalan dengan peringatan 25 Tahun Keuskupan Agung Kupang dengan gagasan “Tahun Injil Orang Miskin”, marilah kita menjalaninya  dalam nada syukur sebagai suatu kesempatan untuk menegaskan bahwa Allah menganugerahi kita daya tumbuh menjadi dewasa dalam perjumpaan dengan Tuhan yang membuat diri-Nya kelihatan dalam wajah-wajah sesama kita: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”(Mt 25:40). Kita peduli akan wajah-wajah sekian banyak kaum muda tanpa masa depan, akan tangan-tangan gemetar dari orang-orang lansia yang terlupakan dan akan sekian banyak keluarga yang terus menghadapi hidup yang berkekurangan tanpa menemukan bantuan dan sokongan apapun. Pada tahun berahmat ini, marilah kita belajar menjadi murid Kristus dengan melibatkan diri guna memberdayakan serta mencerdaskan sesama kita dalam membangun keseimbangan hidup yang layaknya manusiawi. Hai orang-orang Katolik seKeuskupan Agung Kupang, beranilah menjadi sesama sejati bagi saudara-saudari yang berkekurangan dan berbagilah sumber-sumber daya hidup dengan murah hati, karena Kristus menghendaki hidup layak bagi semua orang.

Saudara-saudari terkasih,

Akhirnya, saya menghaturkan masa Puasa yang kudus, masa Puasa yang penuh pembaruan diri dan berbuah limpah dalam “semangat Injil Orang Miskin”. Doakanlah selalu Uskupmu ini. Tuhan Yesus memberkati dan Perawan Maria melindungi kalian semua, saudara-saudariku terkasih.

Kupang, 8  Pebruari 2014

Salam Hormat dan Berkat,

Uskupmu Petrus Turang

Catatan :  Pesan Puasa ini hendaknya dibacakan tanpa komentar pada Perayaan Misa atau Ibadat Tanpa Imam, tanggal 2 Maret 2014, di semua gereja di Paroki, Stasi dan  Kapela yang bernaung dalam Keuskupan Agung Kupang. Perbuatan pantang dan puasa berlaku pada hari Rabu Abu dan setiap Hari Jumat selama masa Prapaskah.