Profil KAK

Istana KAK

Istana KAK

Sumberhttp://romopatris.blogspot.com/p/sejarah-kak.html

Berdirinya stasi Kupang pada tanggal 29 September 1910, ditandai dengan dibabtisnya seorang pejabat Belanda William Spaan.

Namun berdasarkan memoria para pastor Dominikan, dikatakan pada tahun 1520 Bangsa Portugis menguasai sebagian besar pulau Timor. Mereka mendarat di teluk Kupang. Selanjutnya Kupang dijadikan sebagai basis untuk mengembangkan sayap ekspansinya ke seluruh daratan Tiomor. Dalam Ekspansinya ke Timur Jauh, Bangsa portugis ini selalu membawa para pastor Katolik, yang menurut kesaksian penduduk negri ini selalu berpakaian seperti kulit sapi.

Prof. Boxer, seorang Sejarrahwan Inggris pernah menulis: “ Jika tak ada pedagang yang mencari harta duniawi kesebelah Timur dan Barat India, maka siapa gerangan yang membawa pewarta untuk mewartakan harta surgawi?”. Seorang Pastor Portugis yang berjasa menaburkan benih iman Katolik pada penduduk lokal danjuga telah membatis Raja-Raja Timor dengan para pengikutnya, yakni P. Antonio Taveira, OP, antara tahun 1550-1560 (termasuk mempermandikan banyak orang Flores). Babak ini dinamakan “Misi Solus” karena Portugis membangun bentengnya di P. Solor.

Untuk mengamankan dirinya dari serbuan para bajak laut dan lebih-lebih ekspansi tentara VOC-Belanda yang berkedudukan di Batavia (Jawa), bersama pengikutnya ia membangun sebuah benteng dari batu (Ford Concordia) di atas bukit Teluk Kupang. Akhirnya, pada tahun 1652, benteng ini jatuh ke tangan Belanda yang beraliran Calvinist. Pastor ini bersama tentara portugis melarikan diri ke Timor bagian tengah Utara dan bagian Timur (Timor Leste saat ini). Penduduk lokal termasuk para raja yang sudah menjadi katolik, dipaksa untuk masuk Protestan (Calvinist) oleh Tentara Belanda. Momentum ini akhrinya menggoreskan sejarah dalam hal Komposisi Jumlah Pemeluk Agama di abad-abad kemudian: Kupang dan sekiratnya termasuk Timor bagian Tengah Selatan (TTS) mayoritas Protestan, sedangkan Timor Bagian Tengah Utara (TTU), Belu (Timor Barat) dan Timor Timur (Timor Lorosae/Leste) adalah mayoritas Katolik; termasuk juga seluruh daratan Pulau Flores yang diduduki Portugis sebelumnya. Sehingga bila menyebut Flores atau TTU, Belu, dan Timor Timur, Konotasinya ke Katolik; sebaliknya menyebut Kupang, Sabu, Rote, TTS dan Sumba, Konotasinya ke Protestan. Hal mana, pada era tahun 70-an ke bawah sungguh menjadi kendala tersendiri dalam kontak-kontak sosial antar sesama warga masyarakat. Getah-getahnya masih sering terasakan sampai saat ini. Abad ini dianggap sebagai “Zaman Gelap” bagi benih iman Katolik.

Kehadiran Tentara Belanda sebagai Supremasi baru di Timor, sungguh mempengaruhi sikap masyarakat Timor yang sudah tak lagi mempecayai tentara portugis dan sebaliknya menaikan gengsi Belanda di mata raja-raja Timor dan Pengikutnya. Untuk mengamankan pengaruhnya, VOC Belanda di Timor mengeluarkan sebuah kontrak: “kontrak 1662” yang isinya bahwa Kupang dan sekitarnya menjadi kekuasaan Belanda, sedangkan Timor bagian Barat (TTU,Belu) dan juga bagian Timur (Timor-Timur) menjadi milik Portugal, atau yang dikenal dengan Flores Sumba Contrac yaitu: Flores, Belu, TTU untuk misi (katolik); kupang dan sekitarnya, TTS, Sumba, Rote dan Sabu untuk Zending (protestan).

Kegiatan misi di Flores mengalami kemunduran, pusat misi di Flores Timur (Solor) dipindahkan ke Lifau (Oekusi) di bagian Barat Pulau Timor pada tahun 1702. kemudian ke Dili pada tahun 1769. Kondisi yang semakin menyuramkan benih iman Katolik. Namun kondisi ini mulai berubah tatkala di tahun 1772, para misionaris SJ dan Serikat Salib Suci diperkenankan berkarya di Indonesia, khususnya di kawasan Timur, termasuk Pulau Timor, menggantikan para misionaris Portugis yang telah kembali ke tanah airnya. Timor mulai dimasuki oleh para pastor Salib Suci dan Larantuka-Flores bagian Timur (Flotim). Kekhasan dari para imam ini, di mana saja mereka berkarya mereka selalu memancangkan salib-salib besar di tepmat-tempat stategis sebagai “memori”. Beberapa tempat di Kupang Timor yang masih menyimpan peninggalan para imam Salib Suci ini, antara lain: Nunkurus dan Tanjung Kurus di bagian selatan Kupang. Nama ‘Kurus” menurut lidah orang Timor sebenarnya berasal dari kata “cross/crus” yang berarti salib.

Zaman gelap ini mulai bersinar kembali, ketika diadakan kontrak kedua, yakni “kontrak 1859” yang isinya: “Orang Katolik di mana saja berada, atas ijin Pemerintah Hindia Belanda di Batavia (Jakarta saat ini), boleh dilayani”. Menyusul, pada tanggal 8 Februari 1912, daerah Nusa Tenggara (Kepulauan Sunda Kecil = Insulae Sundae Minores) dialihkan dari tangan ordo SJ ke tangan SVD, dengan Prefectur Apostolicnya Mgr. Piet Noyen SVD. Setahun kemudian, 1913, terbentuknya Prefek Apostolik Timor dengan pusatnya di Atambua (211 Km dari Kupang).

Atambua dipilih menjadi pusat kegiatan pastoral, karena dinilai lebih aman ketimbang Kupang yang telah menjadi pusat segala kegiatan VOC. Kala itu sudah terdapat + 2.881 umat Katolik di seluruh Timor. Pada tahun 1947, terbentuknya Regio Timor, dengan regional SVD pertama, P. Joseph Duffels SVD. Berkedudukan di Halilulik. Dengan pembentukan regio SVD ini, maka pelayanan pastoral di seluruh Pulaui Timor mulai lebih lancar.

MENJADI PAROKI SULUNG
Hampir setengah abad lamanya Kupang dan sekitarnya dijadikan sebagai wilayah asistensi pastoral oleh para pastor termasuk perfektur/Uskupnya dari Atambua, yang berlangsung 3 bulan sekali itu. Sesekali dibantu oleh misi Larantuka di daratan Pulau Flores bagian Timur (124 mil dari Kupang).

Di era tahun 30-an hingga menjelang Perang Dunia II maupun pasca Perang Dunia II ini, mulai muncul beberapa tokoh Awam Katolik suku Flores baik dari Pulau Flores maupun dari Atambua, karena pindah tugas atau mencari kerja pada Pemerintah Hindia Belanda di Kupang. Kehadiran mereka bagaikan titik-titik embun yang menyegarkan kecambah iman Katolik. Mereka dikenal sebagai tokoh-tokoh awam yang militan dalam mempertahankan “census catalicus”-nya.

Mereka jugalah yang kemudian hari menjadi perintis terbentuknya Paroki Kupang dan Dioses Kupang. Pada umumnya mereka adalah Kelompok terpelajar. Dari mereka ada yang bertindak sebagai pastor awam dalam memimpin ibadah harian dan hari minggu yang berpindah dari rumah ke rumah karena belum punya tempat ibadah. “tak ada rotan, akarpun jadi”, demikian dasa muka para Rasul Awam Perdana KAK.

Akhirnya pada tanggal 01 Desember 1938, Stasi Kupang ditingkatkan menjadi Paroki Kupang, dengan Pelindungnya Kristus Raja Semesta Alam, dengan Pastor Paroki perdana P. Heinrich Schrooder SVD (Jerman).

Paroki ini memiliki wilayah yuridiksi yang sangat luas: mulai dari Kupang ke arah Timur, ke Timur bagian Tengah Selatan (TTS), termasuk dua pulau besar di bagian Selatan Khatulistiwa Indonesia, yakni Pulau Rote dan Pulau Sabu.

Mengingat luas wilayah yuridiksinya ini, maka sejak tahun 50-an hingga tahun 60-an terjadilah pemekaran dan pembukaan paroki-paroki baru di seluruh wilayah Kupang dan sekitarnya termasuk TTS. Pemekaran dan pembukaan paroki-paroki ini akhirnya menjadi aset pendukung bagi terbentuknya sebuah Dioses di kemudian hari.

Karena aset kesulungannya ini, maka Paroki Kristus Raja Semesta Alam Bonipoi Kupang ditetapkan sebagai Paroki Pusat bagi terbentuknya Dioses Kupang, yang terbentuk pada tahun 1967, 29 tahun kemudian. Nama Bonipoi-menurut bahasa aslinya orang Helong (penduduk asli Kupang) “Buin Baun” dari kata “Buni Bele Aun”. Buin/Buni-artinya sembunyi: Bele-artinya kasih; Aun-artinya saya. Jadi, Buin Bele Aun artinya “sembunyi kasih saya”.

MENJADI DIOSES/KEUSKUPAN
Tanggal 13 April 1967 akan selalu dikenang sepanjang masa, dari angkatan ke angkatan karena itu adalah Hari Jadi/HUT-nya Dioses/Keuskupan (Agung Kupang) saat ini.

Berdasarkan Bulla Romana yang dikeluarkan oleh Kongregasi Propaganda Fidei, Nomor:2684/67, tertanggal 13 April 1967, Kupang yang selama itu dikenal sebagai “Gereja Diaspora” dalam wilayah yuridiksi Dioses Atambua, ditetapkan sebagai Dioses Sufragan, masuk dalam Propinsi Gerejawi Ende, dengan Uskupnya yang pertama, Mgr. Gregorius Manteiro, SVD, yang sebelumnya sedang menjabat sebagai Rektor Seminari Menengah St. Pius XII, Kisol/Ruteng, Manggarai/Flores Barat (315 mil dari Kupang).

Bulla Romana tersebut ditandatangani oleh Paus Paulus VI. Beliau-almarhum ditahbiskan menjadi Uskup Dioses Kupang pada tanggal 15 Agustus 1967 bertempat di Lapangan Frater-Merdeka (Komplek Unwira saat ini). Menjelang usianya yang ke-25 sebagai Keuskupan, tepatnya tanggal 23 Oktober 1989, berdasarkan Bulla Romana yang ditandatangani oleh Paus Paulus II, Nomor: 285/89, Dioses Sufragan Kupang ditingkatkan statusnya menjadi Dioses/Keuskupan Agung, sekaligus juga meningkatkan status Uskup Sufragan, Gregorius Manteiro, SVD sebagai Uskup Agung. Pengresmiannya ditandai dengan penyerahan Pallium oleh Mgr. Francisco Canallini Dubes Vatikan untuk NKRI, pada tanggal 04 Nopember 1989 di Gereja Katedral Kupang. Selanjutnya tanggal 23 Oktober 1989 juga diperingati sebagai tanggal “keramat” terbentuknya Keuskupan Agung Kupang atau HUT KAK.

Sejak itu, Kupang sebagai Keuskupan Agung yang ke-8 dalam Hirarki Gereja Katolik di Indonesia, sekaligus menjadi Propinsi Gerejawi sendiri, dengan nama Propinsi Gerejawi Kupang meliputi:
Keuskupan Agung Kupang.
Keuskupan Sufragan Atambua.
Keuskupan Sufragan Weetebula.

Memasuki usianya yang ke-30, lagi-lagi Sri Paus Yohanes Paulus II di Vatikan Roma, dengan Bulla Romana tertanggal 21 April 1997, telah menunjuk Rm. Petrus Turang, Pr, yang kala itu sedang menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif PSE-KWI, sebagai USKUP Kuajutor KAK berdasarkan kanon 377, serta dibekali dengan wewenang khusus dan mempunyai hak mengganti, sesuai Kanon 402 § Beliau ditahbiskan menjadi Uskup Kuajutor-KAK, pada tanggal 27 Juli 1997 bertempat di Arena Promosi Hasil Kerajinan Tangan Rakyat NTT, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Madya Kupang.

Dengan demikian sejak itu KAK praktisnya, memiliki dua gembala: YM. Mgr. Gregorius Manteiro, SVD, gembala Agung/utama, dengan moto Episkopalnya: “Opus Justitiae Pax”, dan YM. Mgr. Petrus Turang, Pr, Uskup Pembantu, dengan motto Episkopalnya: “Petransiit Benefaciendo”.

Impian untuk merasakan pendampingan dalam karya pastoral sebagai Uskup Agung oleh seorang Uskup Kuajutor, ternyata belum sempat dialami oleh YM. Mgr. Gregorius Manteiro SVD. Karena ajal lebih cepat menjemputnya pada tanggal 10 Oktober 1997, dan dimakamkan pada tanggal 14 Oktober 1997 dalam usianya yang ke-72. maka sejak itu, sang pembantunya dalam diri YM. Petrus Turang, Pr, dengan serta merta menjadi Uskup Agung secara resmi dari KAK, sesuai kanon 402, § 3 tersebut. Sekaligus mencatatkan dirinya sebagai Uskup/Uskup Agung kedua dari KAK.

Hingga kini Keuskupan Agung Kupang sudah berkembang baik dalam pemekaran parokial maupun dalam bidang-bidang kerasulan religiositas lainnya.

****

Vikaris Jenderal : RD. Daniel J. Afoan
Dilahirkan : Manufui, TTU, 7 Pebruari 1945
Ditahbiskan menjadi Imam : 3 Juli 1977
Alamat : Paroki Sta.Maria Assumpta Kota Baru
Jl. Perintis Kemerdekaan Kota Baru.
Telp. 0380 – 831870.

Vikaris Yudisiaris : RD. Arnoldus Bria
Dilahirkan : Atambua, 14 April 1949.
Ditahbiskan menjadi Imam : 22 Juli 1980.
Alamat : Komunitas Keuskupan Agung Kupang
Jl. Eltari II Kota Baru.
Telp. 0380 832007.

Sekretaris Keuskupan : RD. Gerardus Duka
Dilahirkan : Alor, 16 Oktober 1968
Ditahbiskan menjadi Imam : 8 September 1997
Alamat : Jl. Thamrin No. 15 Oepoi Kupang
Telp. 0380-826199, Fax. 833331
Kupang 85111

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: