Renungan Akhir Tahun 2013


 

Salam dalam kasih Yesus Kristus

Saudara saudara perempuan dan laki-laki terkasih,

Keadaan kita

Di tengah terpaan kesulitan hidup sosial ekonomi, kita telah merayakan Tahun Iman dan Natal 2013 dengan penuh syukur, seraya dengan penuh pengharapan menyambut kehadiran Tahun 2014. Perjalanan kita sebagai anggota masyarakat dan orang beriman telah mengalami aneka peristiwa yang menggugah nilai-nilai kemanusiaan. Kita mengalami aneka gejolak sosial ekonomi, budaya dan politik, seperti persoalan bahan pangan, upah pekerja, korupsi politik, hasil usaha tani dengan harga merosot, gerakan sosial yang sarat dengan kekerasan serta lapangan kerja yang memperbudak sebagian masyarakat sampai dengan perdagangan manusia, berbarengan dengan gejolak alam yang tidak pasti.

Di samping itu, masyarakat kita sedang bergerak menuju perhelatan demokarasi Pemilu dan Pilpres 2014. Pengalaman akan keadaan sosial ekonomi, yang mengancam pasar dan keuangan secara mendunia, memperlihatkan kerja sama sosial ekonomi yang terperangkap dalam keadaan yang berbahaya bagi kesejahteraan manusia. Kesemuanya sangat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan secara manusiawi. Keluarga-keluarga merasakan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan yang layak, yang berdampak pada pendidikan dan kesehatan.

Tantangan Hidup Kita

Kita menyaksikan bagaimana pemerintah serta pemerhati sosial ekonomi masyarakat berupaya menemukan kebijakan untuk menggerakkan kepercayaan masyarakat. Nyatanya, banyak kalangan masyarakat kita terperangkap dalam praktek-praktek jangka pendek yang belum meyakinkan rasa aman dalam mengelola penghidupan dan hidupnya. Kerjasama manusiawi tidak terjadi segera, karena masing-masing orang atau kelompok mencari keamanan untuk mempertahankan diri. Janji-janji politik tetap unggul dalam tebar pesona dengan sedikit dampak dalam proses perubahan menuju kesejahteraan bersama. Tanda-tanda kegelisahan sosial ekonomi sedang mengitari perjuangan hidup masyarakat kita. Peduli manusia nyatanya hanya bercorak sementara, karena kebijakan politik tidak berani menegaskan keberpihakan yang memberdayakan rakyat. Tantangan-tantangan di atas ini sangat mempengaruhi kejiwaan manusia dan kesadarannya mengalami gangguan akibat kemendesakan sosial ekonomi yang menekan.

Panggilan Mitra Penciptaan

Keyakinan kita bahwa Tuhan menciptakan barang-barang di dunia demi kesejahteraan hidup semua orang nampaknya tidak sepenuhnya terpahami oleh manusia yang menyebut dirinya orang beriman. Peringatan Tuhan, agar manusia berjaga-jaga, kurang menggerakkan kepedulian manusia secara mendasar, selain demi memenuhi hasrat perasaan yang kurang sejalan dengan cita-cita penciptaan. Manusia melambungkan nada-nada yang sehati sesuara, tetapi belum sesaudara, sehingga pelbagai bentuk kekerasan dengan mudah terpicu dan terjadi dalam masyarakat kita. Seringkali, perselisihan kepentingan dengan cepat  berujung pada tindakan-tindakan yang tidak sayang akan kehidupan, khususnya kekerasan dalam rumahtangga dan pelarian diri seperti narkoba, yang melahirkan pemerasan dengan segala akibatnya. Nyatanya, manusia tidak berkembang sebagai mitra Pencipta, tetapi sebaliknya menguras habis anugerah ciptaan Tuhan dengan tamak, seperti pembalakan liar, pembakaran hutan, pemakaian pupuk kimiawi dan bom ikan yang menyebabkan musnahnya keragaman hayati.

Kegembiraan Injil

Peristiwa Natal selalu mengingatkan kita bahwa Yesus Kristus menjelma menjadi manusia untuk menghadirkan damai sejahtera Allah. Keselarasan lingkungan hidup dan keserasian di antara manusia sebagai warta Natal nampaknya tidak menjadi kepedulian yang mengarahkan manusia kepada kebaikan seutuhnya. Memang, manusia mendapat arahan kembali kepada tujuan penciptaan, biarpun manusia bebas menentukan hidupnya sendiri. Dengan menjelma sebagai manusia, Allah secara mendasar menghormati dan menghargai kemanusiaan dengan kasih yang demikian besar. Gaya hidup Allah sendiri diperagakan dalam diri Yesus Kristus dan manusia diundang untuk mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri (bdk. Rom 5:1-2).

Dengan mengambil prakarsa untuk mendamaikan diri-Nya dengan manusia, Allah memanggil dan menuntun manusia ke “padang rumput yang hijau”, yaitu persaudaraan dan persahabatan. Dalam kemurahan hati dan kerahiman-Nya, Allah membuka jalan baru, agar kita membangun sikap rela berbagi demi kesejahteraan bersama. Inilah kegembiraan injil yang perlu dipahami dengan benar dan dipraktekkan dalam perjalanan hidup bersama.

Kerjasama Terbuka

Di dalam upaya menemukan cara yang tepat bagi aneka kesulitan hidup sosial ekonomi dan politik, kita perlu mengarus-utamakan kerjasama yang efektif dan kreatif. Oleh karena itu, upaya-upaya kooperatif dalam masyarakat kita hendaknya dipelihara, dihormati dan dikembangkan, sehingga keserasian hidup kita dapat tumbuh secara berdaya-guna dalam upaya mengembangkan, meningkatkan dan mencerdaskan kesejahteraan bersama. Upaya-upaya pastoral dalam komunitas basis hendaknya memperhatikan keprihatinan yang ada di dalam lingkungan hidupnya. Kerjasama yang menjunjung harkat manusiawi pasti akan membuka kemungkinan bagi setiap orang untuk merasakan hidup layak, apa pun jenis pekerjaannya. Dengan kerjasama yang terbuka dan jujur, maka pelayanan publik, pasar dan masyarakat warga akan berjalan seturut tatakrama peradaban kasih, karena itulah yang ditegaskan secara terwahyukan oleh peristiwa Natal, yaitu mendorong kita untuk meneladani gaya kerjasama Allah sendiri yang membawa damai sejahtera.

 

Kerjasama Antarumat Beragama

Kita menyaksikan bahwa terdapat keengganan, bahkan kebencian, dalam kehidupan bersama akibat perbedaan keyakinan hidup. Biarpun banyak persoalan sosial tidak dapat dipandang sebagai akibat perbedaan agama, namun akhir-akhir ini di banyak belahan dunia kita, agama diperalat sebagai ajang pelampiasan kemarahan dan kekerasan, yang mengakibatkan sesama kehilangan nyawa atau pun terpinggirkan dari hidup sosial karena perbedaan keyakinan iman. Semua umat beragama perlu tersedia dan siaga, untuk saling merangkul dan saling membantu. Dengan demikian, kerukunan dan keterbukaan dialogis dapat memajukan kebersamaan hidup, justeru karena adanya perbedaan keyakinan hidup. Dengan mengembangkan tata kelola bersama dalam hidup sosial, khususnya dalam upaya bersama memerangi ketidak-adilan dan kemiskinan, kehadiran agama-agama yang berbeda pasti semakin mampu mendorong terciptanya kerukunan sejahtera bersama.

Pengharapan Tahun 2014

Menurut iman Kristiani, kelahiran Yesus Kristus sebagai manusia adalah anugerah kemanusiaan yang paling dalam dan paling unggul. Di dalam peristiwa iman ini, umat manusia berjumpa dengan Pribadi yang murah hati bagi semua orang: Pribadi Yesus Kristus menghadirkan cakrawala baru bagi siapa saja yang berjumpa dengan-Nya secara ikhlas dan jujur. Peristiwa Natal selalu membuka cakrawala baru bagi manusia, yang sering kehilangan arah dan pegangan dalam menelusuri lorong-lorong kehidupannya. Natal membangkitkan kembali kepercayaan diri dan sikap saling percaya di tengah tantangan dan perjuangan hidup yang penuh kegamangan akibat egoisme dan kebencian (Bdk. Kol 3:12-15).

Seraya mengucap syukur atas kemurahan Tuhan, pantaslah kita tergerak dan tergetar oleh cintakasih Yesus Kristus yang turun ke bumi untuk mewartakan kebaikan dan kebenaran, yaitu damai sejahtera bagi manusia yang berkenan kepada Allah. Dengan pengantaraan perayaan kelahiran Yesus Kristus, kita siap menapaki Tahun 2014 dengan iman yang teguh dalam pengharapan. Kecakapan iman ini dapat membuat kita merasa aman dan tenteram untuk menjalani Tahun 2014 menurut kehendak Allah. Di Keuskupan Agung Kupang, Tahun 2014 akan ditetapkan sebagai “Tahun Injil Bagi Orang Miskin. Mudah-mudahan keluarga-keluarga kita tumbuh dan berkembang sebagai pewarta Injil bagi orang miskin. Keluarga kita menjadi keluarga kristiani yang sejati, bila kita memerhatikan dan peduli sejati akan hidup orang miskin. Keluarga kita harus mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam mengentaskan orang dari kemiskinan.

Dengan saling mengucapkan Salam Sejahtera Tahun Baru 2014 Dalam Kasih Yesus Kristus’, kita bersama-sama menarik pelatuk dan melakukan gerakan perubahan bersama orang-orang miskin.

 

Kupang, 30 Desember 2014

Salam dan Berkat,

Mgr. Petrus Turang

Advertisements

SUARA GEMBALA NATAL


Saudara-saudari terkasih,

Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, khususnya komunikasi, tetapi sekaligus krisis kepercayaan dalam dunia, kita merenungkan kembali peristiwa kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Kita mengenang peristiwa ini dengan penuh syukur. Kita berterima kasih bahwa peristiwa kedatangan Yesus penyelamat selalu membaharui lingkungan hidup kita dalam persahabatan dengan Allah dan sesama. Kita juga sadar akan perutusan Kabar Gembira yang sudah kita perbaharui selama Tahun iman. Rasul Paulus berkata: “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia yang dikasihi-Nya” (Ef 1:5-6).

Peristiwa kelahiran Tuhan Yesus adalah peristiwa keluarga kita  masing-masing. Kita bergerak, berusaha dan berjuang untuk membangun serta memenuhi kebutuhan keluarga, agar kita hidup berkecukupan dalam keadaan rukun damai. Kita selalu berharap bahwa keluarga kita hidup rukun dan berpenghidupan layaknya manusiwi. Keluarga kita berterimakasih kepada Tuhan, karena perjalanan bersama di dalam hidup keluarga tumbuh dan berkembang, biarpun banyak tantangan, kesulitan dan bahkan ketakutan. Kita harus selalu awas agar keluarga kita bebas dari perilaku menyimpang seperti narkoba dan sadar akan bahayanya yang dapat menimpa, bahkan menghancurkan keutuhan keluarga-keluarga kita. Kita rindu hidup dalam damai dan “Bukan hanya itu saja! kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima perdamaian itu” (Rom 5:10).

 

Saudara-saudari terkasih,

Peristiwa kelahiran Tuhan Yesus adalan tanda undangan Allah untuk hidup dalam damai yang terbuka dan penuh rasa gembira dengan semua orang, tanpa membedakan. Olehnya, kita merayakan Natal dalam kegembiraan batiniah yang terungkap dalam sapaan Natal bersama-sama. Peristiwa Natal juga senantiasa mengingatkan kita akan kesederhanaan hidup: ” Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkan dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana” (Rom 12:16).

Kita bekerja dengan tekun karena semangat Natal, agar damai Natal hadir dalam diri kita dan lingkungan hidup kita. Natal itu pula mendorong kita untuk sadar akan panggilan serta perutusan ekologis, yaitu membangun kehadiran yang menyumbang bagi keseimbangan serta keutuhan ciptaan.   Dengan kesadaran ekologis, kita menyumbang bagi perbaikan iklim dan pada gilirannya menyokong kedaulatan pangan bagi semua. Inilah bagian utuh dari hidup damai dengan seluruh alam ciptaan Tuhan.

Dengan merayakan kembali peristiwa kelahiran Tuhan Yesus, kita menemukan kembali perutusan untuk hidup berbagi dengan rendah hati, agar keadilan serta perdamaian meraja dalam perjalananan hidup bersama, dalam persekutuan gerejawi dan masyarakat luas.  Sebagaimana Yesus lahir dalam kesederhanaan manusiawi, demikian pula kita mendapat sentuhan baru untuk melangkah dengan hati penuh damai di tengah peristiwa-peristiwa dunia yang menyedihkan dan menakutkan akibat keserakahan manusia. Damai dan ketentraman Natal memberikan semangat baru, agar kita membangun tata kelola hidup yang bebas dari korupsi, bersih dari barkoba, bersahabat dengan sesama dan rela berbagi dalam kepemilikan. Oleh karena itu, “selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal 6:10).

 

Saudara-saudari terkasih,

Peristiwa Natal mengingatkan juga akan tangungjawab sosial kita. Kita harus peduli akan sesama, khususnya mereka yang selalu berada dalam kekurangan akibat kemiskinan atau perlakuan yang tidak adil. Keadaan demikian, yang menghancurkan rasa damai, hendaknya mendorong kita untuk berani melakukan sesuatu demi perubahan serta perbaikan yang bercorak manusiawi. Sesunguhnya, masyarakat konsumeristik sekarang ini semakin menjerumuskan manusia ke dalam persaingan yang tidak sehat, sehingga peduli sesama semakin merosot. Kita ingat persoalan lapangan kerja dan penderitaan para pekerja baik di dalam negeri maupun mancanegara. Kita lihat kehadiran alat-alat komunikasih digital yang tanpa disadari juga semakin memiskinkan banyak orang hanya karena keinginan untuk memilikinya. Akibatnya, rasa damai memudar, bahkan menimbulkan perilaku-perilaku yang menyimpang dalam hampir semua segi kehidupan bersama.

Marilah kita menghadapinya dengan kesabaran, penuh kegembiraan Natal yang menguatkan kita untuk berharap akan kehidupan yang lebih baik dalam keadilan dan perdamaian, karena ” Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, Yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring  di dalam palungan” (Luk 2:11-12).

Pada masa Natal tahun 2013, mudah-mudahan kita berani merenungkan kebaikan Tuhan yang nyata dalam diri Yesus Kristus. Kita mengungkapkan kembali bela rasa dan peduli kita akan sesama yang hidup dalam kekurangan. Kita sadar kembali untuk berbuat baik, bermurah hati dan bergairah demi hidup rukun damai dalam keluarga dan lingkungan hidup kita. Kita mudah-mudahan hidup berdasarkan kerja  kita dan tidak melibatkan diri dalam kejahatan sosial yang merugikan diri kita dan orang lain. Inilah kesadaran akan damai sejahtera Natal! Inilah perayaan Natal yang bermakna dan bermartabat anak-anak Allah!

Dalam nada sadar ini, saya mengucapkan “Selamat Hari Raya Natal 2013 dan Selamat Tahun Baru 2014”!

 

Diberikan di Kupang, 15 Desember 2013,

Salam dan berkat,

Uskup Petrus Turang

Uskup Keuskupan Agung Kupang

SURAT GEMBALA PUASA 2013


USKUP AGUNG KUPANG

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Masa puasa 2013 mengambil tema “Menghargai Kerja”. Tema ini dimaksudkan untuk mengarahkan permenungan atas iman kristiani selama masa prapaskah. Dalam hubungannya dengan Tahun Iman, tema ini sungguh tepat, karena Gereja kita mengajak seluruh umat Katolik untuk menemukan kembali kegembiraan iman Kristiani dalam perjalanan hidup ini. Rasul Santu Yakobus berkata “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati” (Yak 2:17).

Saudara-saudari terkasih,

Kerja adalah suatu panggilan, yaitu ambil bagian dalam karya penciptaan Tuhan. Dengan bekerja, manusia mengalami anugerah mulia dari Tuhan. Kerja membangun pribadi manusia, menciptakan hubungan dengan sesama dan memelihara keutuhan alam ciptaan: “Beranak cuculah dan berkembangbiaklah, dan penuhilah bumi dan taklukanlah itu” (Kej 1:28). Dengan bekerja, manusia memelihara serta mengembangkan tata kelola ciptaan Tuhan demi kebaikan semua orang. Manusia menjadi  mitra Tuhan dalam mengembangkan dunia ini melalui kerja. Kerja itu adalah anugerah mendasar bagi manusia ditinjau dari pertumbuhan pribadinya, hubungan dengan sesama, pembentukkan keluarga dan sokongan bagi kebaikan bersama serta perdamaian. Oleh karena itu, dalam perjalanan hidup ini, tersedianya lapangan kerja bagi semua orang selalu bercorak hakiki utama, kapan, di mana dan dalam keadaan apa saja. Mengapa demikian? Karena pribadi manusia adalah subyek kerja dalam segala aspeknya, terutama aspek etis. Dengan melakukan pekerjaan, manusia membangun hidup bertanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan hidup yang tercipta oleh kebaikan Tuhan bagi semua orang. Rasul Paulus menasehati: “jika seorang tidak mau bekerja, janglah ia makan. … orang-orang yang demikian kami peringati dan nasehati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri” (2 Tes 10:12).

Saudara-saudari terkasih,

Dalam ensiklik “Laborem Exercens” Beato Yohanes Paulus II menjelaskan tentang panggilan dan makna kerja manusiawi dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat semasa. Beato Yohanes Paulus II sangat menekankan aspek rohani dari kerja manusia karena kerja adalah tanggungjawab manusia untuk melanjutkan karya penciptaan dalam pribadi, sesama dan lingkungan hidup ini. Tanggungjawab kita ialah memelihara dan memberdayakan nyala api yang telah ditanamkan Tuhan dalam diri kita. Oleh karena itu, kita perlu menggairahkan daya iman kita untuk menggerakkan semangat kerja. Sejatinya, kita semua menunaikan pekerjaan untuk mendapatkan keseimbangan antara memeroleh nafkah dan melayani tujuan panggilan hidup kita. Hendaknya kita berusaha, agar kendala dan halangan dalam kerja tidak menghentikan tanggungjawab hidup kita. Tetapi jika kita harus memilih antara dua tuan, maka kita harus memilih Tuhan, karena Dia menginginkan kita untuk menunaikan pekerjaan secara bermakna: “Sebab itu, apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rom 8:31).

Saudara-saudari terkasih,

Di tengah persoalan sosial tentang kerja dan ketenagakerjaan, kita perlu mengarus utamakan pribadi manusia. Aneka bentuk kerja yang tersedia (politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk agama) mempunyai tujuan agar manusia menemukan dan mengalami pertumbuhan pribadi yang terhormat bersama-sama. Manusia bekerja entah fisik atau non fisik untuk hidup seutuhnya dan bukan hanya sebagian hidup seperti kepentingan dan perolehan nafkah saja. Keyakinan iman Kristiani memberikan suatu perspektif abadi yang membantu kita untuk mengatasi persoalan sosial kerja yang sering membuat kita rentan kemanusiaan akibat kehilangan, kerapuhan, kegagalan ataupun keserakahan. Kitab Sirakh berujar: “Barangsiapa takut akan Tuhan tidak kuatir terhadap apapun, dan tidak menaruh ketakutan sebab Tuhanlah pengharapannya” (34:14). Sejalan dengan tantangan kerja ini, pemerintah hendaknya memperlancar peran penyediaan lapangan kerja, agar angkatan kerja tidak meninggalkan daerah asalnya dalam jumlah besar. Dengan membangun kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perdagangan dan kelautan, mereka mampu membangun pribadi, sesama dan keutuhan ciptaan setempat. Pekerjaan mengungkapkan talenta, prakarsa dan cintaksih setiap orang sebagai sumbangan bagi pengembangan masyarakat yang lebih baik.

Saudara-saudari terkasih,

Kerja adalah panggilan yang mendorong kita melakukan hal-hal yang bermakna sebagai warisan yang berfaedah bagi banyak orang. Kita menghargai kerja sebagai kesempatan untuk menumbuhkan sikap murah hati dan relah berbagi demi kebaikan bersama. Kehadiran pekerjaan, yang selalu kita syukuri harus menghormati sesama dengan lingkungan kerja yang sehat manusiawi, antara lain, balas karya yang layak untuk membangun hidupnya dan keluarga; semua orang bekerja dengan jujur dan rajin; terbuka dan mau bekerja sama dengan orang lain; Pemerintah membuat peraturan kerja dan ketenagakerjaan yang menghormati pribadi warganya; pekerjaan tani dan kerajinan rumahtangga mendapat dukungan dengan sarana dan prasarana yang memadai. Dengan kata lain, kerja itu hendaknya membangun martabat manusia dan menciptakan hubungan yang adil dan beradab: “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri” (Ef 6:4).

Di dalam kerjasama yang baik, manusia membangun suatu persahabatan, daya dukung bersama untuk mengembangkan lingkungan hidup yang berkelanjjutan secara manusiawi. Kerja merupakan proses pemanusiaan bersama sesama dalam lingkungan hidup tertentu. Olehnya, kita perlu menumbuhkan disiplin kerja dan mendorong tekad bersama untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian, karena “Semakin seseorang bekerja bagi orang lain, semakin ia akan mengerti Sabda Kristus dan membuatnya menjadi miliknya: “kami ini hamba yang tidak berguna” (Benediktus XVI, Deus Caritas Est,nr.35).

Saudara-saudari terkasih,

Di tengah menjamurnya kerusakan lingkungan hidup, kita perlu memberikan perhatian pada kerja yang berkaitan dengan lingkungan alam kita. Pekerjaan tertentu perlu penelitian akan dampak lingkungan, agar pengerjaannya tidak merusak lingkungan, khususnya pekerjaan perkebunan monokultur, pertambangan dan industri. Kita harus melakukan pekerjaan dengan arif, agar keutuhan lingkungan tetap terpelihara. Kita perlu mulai dari rumah kita masing-masing: antara lain, sampah rumah tangga dikelola dengan baik, ternak tidak merusak lingkungan, suka memelihara tanaman, menjauhi produk-produk kimia berbahaya dan mengembangkan taman serta pertanian selaras alam. Gaya hidup demikian akan menghadirkan nilai-nilai luhur manusiawi yang menghargai kerja dengan tekad meningkatkan daya dukung lingkungan yang sehat dan bermutu. Dengan demikian kita menunaikan pekerjaan untuk menampakkan karya kelanjutan penciptaan Tuhan. Kerja kita mudah-mudahan menghasilkan dapur sehat, lingkungan hidup sehat dengan hati serta pikiran yang sehat pula.

Saudara-saudari terkasih,

Dengan berdoa dan bekerja, kita mengungkapkan kasih Allah dalam dunia. Oleh karena itu, menghargai kerja adalah penegasan manusiawi akan kehadiran kasih Allah dalam lingkungan hidup ini. Cahaya kasih Allah menerangi dunia kita dan memberikan kepada kita keberanian untuk hidup dan bekerja dengan rendah hati. Hasil kerja kita tidak boleh membuat kita menjadi sombong dan serakah. Sebaliknya, kita menjadi sadar akan daya Ilahi yang memampukan kita belajar taat pada rencana kasih penciptaan Allah yang tertanam dalam diri kita. Dengan demikian, kita selalu sadar akan panggilan untuk membaharui diri dan menguduskan dunia kerja, agar kegembiraan iman mekar serta hadir dalam kemuliaan. Orang yang bekerja dengan rajin serta jujur bersama sesama memperindah dunia dan pada gilirannya menghadirkan kemuliaan Allah: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mt 5:16), dan dengan rendah hati memohon kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami” (Lk 17:5).

Saudara-saudari terkasih,

Akhirnya, selamat menunaikan ibadah masa puasa dengan semangat untuk membangkitkan dan menggerakkan sikap hidup yang menghargai kerja sebagai panggilan serta pelayanan hidup, dan “…selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Ef 6:10), inilah makna menghargai kerja bertanggungjawab dan berkelanjutan secara manusiawi, bertepatan dengan perayaan Tahun Iman untuk mengenang 50 Tahun Konsili Vatikan II dan 20 Tahun Katekismus Gereja Katolik. Kita menghadirkan evangelisasi baru melalui pekerjaan kita, karena jaringan kerja dalam kerendahan hati adalah wujud kemuridan Kristus yang menggembirakan dan menyelamatkan dunia, seraya senantiasa bersyukur atas berkat karya Tuhan!

 

Diberikan di Kupang pada 2 Februari 2013, Pesta Yesus dipersembahkan di Kenizah.

Salam Hormat dan Berkat,

Uskup Petrus Turang

TOBAT SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PERWUJUDAN IMAN DAN IMPLIKASINYA DALAM KERJA SEORANG IMAM


*RD. Kornelis Usboko

1. PENGANTAR

Dalam rangka memasuki masa pra Paskah 2013, suatu kesempatan mempersiapkan diri untuk merayakan Hari Paskah, kita mengadakan rekoleksi seraya merenungkan tema: Tobat Sebagai Salah Satu Bentuk Perwujudan Iman dan Implikasinya Dalam Kerja Seorang Imam.

2. TOBAT

Satu aspek penting dalam kehidupan orang beriman menuju keselamatan kekal ialah tobat. Tobat adalah menyadari kekurangan, menyesali perbuatan dosa secara sungguh-sungguh dan berusaha menjadi lebih baik. Banyak nabi selalu menyerukan pertobatan agar manusia dapat menjumpai Allah Yang Kudus. Perjanjian Lama mengajak para pendosa untuk mengakui dosanya dalam bentuk puasa (1 Sam. 7:6, Yun.3:7), pengenaan pakaian berkabung dan duduk di dalam debu (2 Raj 19:1-2, Yes. 22: 12, Yun 3:5-8). Sementara Perjanjian Baru menceriterakan sikap Tuhan yang Maha rahim (Pengampun) dan para pendosa yang sungguh bertobat: Luk.5:32 menceriterakan tentang wanita pendosa yang bertobat, Luk.7:36-50, menceritakan tentang Zakeus, kepala pemungut cukai yang bertobat karena dia juga adalah keturunan Abraham.

Hakekat pertobatan adalah penyesalan akan perbuatan jahat dan kembali ke jalan yang benar, kembali kepada rencana keselamatan Allah. Syarat bagi pertobatan adalah mengaku bersalah dan terbuka terhadap anugerah rahmat. Buah-buah pertobatan adalah sukacita, damai sejati dan keselamatan kekal.

Satu catatan penting perlu kita sadari, bahwa sering kita bersikap puas diri, dan memaafkan cacad sendiri. Kita tidak takut dan malu berdosa lagi. Bahkan pula sering kita mengetahui bahwa suatu perbuatan adalah dosa. Tetapi kita tetap melakukannya. Kita mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak apa-apa. Semua orang juga berdosa. Gampang! Nanti baru bertobat.

Sering kali kita  menerapkan perhitungan matematis. Ah . . .ini dosa kecil saja. Dosa orang lain masih lebih besar. Lihat saja para koruptor, kaum atheis, pelaku prostitusi dan lain-lainya. Lagi pula perbuatan baik saya sudah banyak. Sebagai pastor saya berbuat baik setiap hari. Sementara berbuat dosa cuma satu-satu kali. Jadi bila dihitung-hitung dosa orang lain  lebih  banyak dari dosa saya. Itulah sekelumit rasionalisasi defensif untuk melegalkan dosa secara sepihak.

Menurut santo Yohanes dalam Wahyu 2:1-5, anggapan demikian ternyata tidak benar. Kendatai kebaikan jemaat Efesus itu banyak, tapi karena ada kekurangan (dosa) padanya, maka semua kebaikannya tidak ada artinya:”Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat”. Artinya setiap orang akan dibuang, karena dianggap tidak pantas.

Kesaksian yang lebih tegas lagi diberikan oleh nabi Yeheskiel: beginilah firman Allah: Kalau orang benar mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya. Tetapi kalau orang bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran….. semua dosa yang diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi; ia sudah melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia pasti hidup.”(bdk Yeh 33:13-16).

Maka kita harus segera bertobat, sebelum terlambat: Sesungguhnya Tuhan maha pengampun. Ia siap mengampuni orang berdosa dan menyediakan kebahagiaan sejati kepada orang berdosa yang bertobat. Sebab sesungguhnya akan ada kebahagiaan besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat lebih dari pada 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.Bertobat berarti mengakui kesesatan dan mau berbalik ke jalan yang benar yakni kepada Tuhan.

Sedekah, berdoa dan berpuasa     

Sedekah, berdoa dan berpuasa merupakan tiga kewajiban pokok dalam agama Yahudi. Bagaimana murid-murid Yesus harus menghayati tiga kewajiban pokok ini? Dalam injil Matius 6:1-6,16-18 kita mengetahui pengajaran tentang memberi sedekah, berdoa dan berpuasa. Di sini kita mengetahui bagaimana maksud Yesus: yakni secara tersembunyi, artinya tanpa pamer, tanpa menarik perhatian orang lain, tanpa diketahui oleh orang lain, tanpa keinginan sedikit pun untuk dipuji atau dihormati, dipandang                                                                                                                                                 saleh dan yang semacam itu. ‘Sedekah, berdoa dan berpuasa adalah urusan seorang anak dengan Bapanya di surga’. Dia harus melakukan semuanya itu dalam kepercayaan yang mendalam bahwa BapaNya yang tidak kelihatan, tidak tampak dan menampakan diri di depan umum itu melihat dan mendengarkan semua yang dilakukan anakNya.

Bapa ini berada di tempat tersembunyi. Dari sebab itu, segala-galanya harus dilakukan dengan iman bahwa Bapa di surga melihat dan mendengarkan dalam ketersembunyianNya. Sedekah, berdoa dan berpuasa harus merupakan pertemuan hati seorang anak dengan hati Bapanya di surga. Sedekah, berdoa dan berpuasa harus dilakukan hanya untuk memuliakan Bapa di surga.

Masa ret-ret agung yang akan kita jalani pada masa prapaskah mendatang, mendorong kita untuk membangun tobat yang benar dalam bentuk bersedekah, berdoa secara intens dan berpuasa secara benar.

Sedekah dalam bahasa Gereja sudah punya nama lain dan mendapat makna baru berdasarkan banyak firman Allah yang akan kita dengar selama masa tobat, masa pra paskah yang akan datang. Semangat dasarnya sama yakni membangkitkan perhatian kita akan penderitaan orang lain. Masa prapaskah dengan demikian adalah masa kita mengingat penderitaan orang lain, masa di mana kita digerakkan untuk melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain, khususnya mereka yang sungguh menderita.

Karena penderitaan orang lain itu konkrit, dapat dilihat maka sedekah yang dimaksudpun harus konkret. Sering kali kita terjebak dalam kesalahan berpikir bahwa pasti banyak orang sudah memberi maka kita tidak perlu meberi lagi. Kita menghimbau orang lain, umat untuk memberi semetara kita sendiri tidak memberi. Dan masa puasa ini adalah saatnya yang sangat tepat. Kita perlu ikut berpartisipasi secara nyata dalam aksi puasa pembangunan. Kita perlu menyisihkan sebagian dari belanja harian kita untuk meberikannya kepada orang atau teman yang berkekurangan. Sering ada orang yang sangat pelit, merasa rugi memberi sesuatu dari miliknya. Tuhan Yesus pernah berkata, kamu telah menerima dengan cuma-cuma maka berikanlah juga dengan cuma-cuma. Artinya kita juga perlu bermurah hati, tidak egois berlebihan karena akan selalu berkekurangan. Dalam pengalaman iman kita, kalau semakin kita memberi, semakin kita mendapat berkat Tuhan.

Selanjudnya kita mencoba mereflesikan doa. Masa tobat ini adalah juga masa kita harus belajar berdoa kembali. Sering karena banyak tugas dan pekerjaan yang harus kita lakukan, kita malas berdoa, menganggap kurang penting berdoa karena kita aman-aman saja. Tidak. Kita harus berdoa tak jemu-jemunya. Doa itu kekuatan kita. Banyak masalah besar yang sulit sekali  kita atasi hanya dengan kemampuan otak kita, kecuali dengan doa. Jenis ini hanya dapat dikalahkan dengan berdoa, demikian kata Yesus kepada murid-muridNya tatkala mereka tidak bisa mengalahkan kuasa setan.

Bagi kita para imam sebetulnya bukan lagi masalah besar untuk berdoa. Kita memiliki brevir. Kita juga sudah terbiasa dengan aturan waktu berdoa ketika berada di bangku pendidikan.  Hanya saja selepas bangku pendidikan disiplin itu sering memudar karena banyak waktu tersita oleh tugas lain. Kita sering mungkin melakukan tawar menawar dan menunda-nunda. Keseringan ini lama kelamaan bertumbuh menjadi kebiasaan. Pada akhirnya doa terasa menjadi beban. Doa itu memang hubungan personal dengan Tuhan. Tetapi bentuknya harus konkret dan semakin mendalam. Maka doa akan menjadi bagi kita sumber kekuatan rohani untuk menangkis segala bentuk godaan. Karena Tuhanlah kekuatan kita. Tuhan berperang besama kita untuk melawan kejahatan.

Selanjudnya kita merefleksikan puasa. Masa prapaskah atau masa tobat ini adalah masa kita harus belajar perpuasa kembali. Seringkali kita mendengar masa paskah di sebut juga masa puasa. Sebutan ini sangat benar. Puasa merupakan inti dari masa pertobatan.  Memang berpuasa itu menurut Kitab Suci sendiri mempunyai arti yang lebih luas dan dalam daripada mengurangi makan dan minum, tetapi kita mencoba membingkainya makan ‘tidak sampai kenyang’. Di sini kita melepaskan diri dari ketergantungan pada materi. Sebab manusia hidup bukan saja dari roti tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah. Dengan demikian maka kita dapat kembali pada sumber kekuatan kita yang sebenarnya yakni Tuhan. Sebab oleh godaan daya tarik barang duniawi, oleh godaan makan minum, manusia sering dengan mudah jatuh ke dalam dosa dan tak mampu mengendalikan diri. Karena itu, semangat puasa sangat berarti bagi kita.

3. IMAN

Iman adalah tanggapan manusi terhadap wahyu ilahi. Allah mewahyukan diriNya kepada manusia pertama-tama lewat para nabi. Para nabi yang mendapat panggilan istimewa dari Allah, dengan setia mewartakan Wahyu Allah kepada manusia, khususnya umat Israel. Wahyu ilahi itu kemudian mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus, Juru selamat dunia. Di dalam diri Yesus Kristus, kita melihat wajah Allah yang berbelas kasih. Dari pihak Allah, rahmat selalu tersedia. Allah selalu peduli pada manusia.

Karena itu, manusia perlu menanggapi rahmat itu. Tanggapan manusia itulah yang disebut iman. Oleh iman, kita percaya, berpasrah dan berserah pada Allah sang Pencipta dan Penyelenggara seluruh eksistensi manusia. Dalam surat kepada orang Ibrani 1:1 tertulis bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Melihat perkembangan dunia yang sangat kompleks saat ini (ada hal positif yang membantu manusia untuk kemudahan dan kebaikan hidupnya, namun juga ada hal-hal negative yang cenderung menyesatkan dan menghancurkan hidup manusia), Bapa Suci Benediktus XVI sebagai pemimpin tertinggi gereja katolik sedunia dan sebagai penanggung jawab utama iman akan Allah, menetapkan Tahun Iman agar secara khusus kita melihat kembali hakekat dan fungsi iman yang menyelamatkan itu. Agar orang tidak melupakan Tuhan sebagai sumber hidup dan tidak terjerumus ke dalam paham ateistik yang menyesatkan.

Bapa Suci mengajak seluruh kaum beriman katolik agar sepanjang Tahun Iman ini melakukan sesuatu yang bertujuan  mendewasakan iman. Iman pemberian Tuhan itu perlu dijaga, dipupuk terus-menerus lewat doa, tobat, amal dan kesaksian hidup agar menjadi kuat dan dewasa, karena oleh iman dan dengan beriman kepada Allah, kita mampu hidup dan mampu mengatsi semua masalah hidup. Ada banyak masalah di dunia ini yang tak mampu kita atasi hanya dengan kemampuan akal budi kita atau dengan teknologi secanggih apapun. Oleh bantuan Rahmat Tuhan, semua beres. Dalam pengalaman kita, kita mengakui bahwa kekuata iman akan kebaikan Allah memampukan manusia untuk

hidup di tengah dunia yang penuh dengan tantangan dan kesulitan itu. Oleh dan dalam iman, semua masalah sesulit apapun dapat diatasi.

Ada banyak saksi-saksi iman dalam Kitab Suci yang menjadi referensi bagi kita dalam membangun hidup. Dalam surat kepada orang Ibrani 11:1-40 kita melihat bagaimana iman akan Allah, memampukan tokoh-tokoh iman dan saksi-saksi iman itu  melakukan sesuatu yang secara manusiawi sangat tidak mungkin, tapi bagi Allah semua jadi bisa. (Bacakan beberapa ayat: Ibr.11:1-40). Itulah keunggulan Iman.

Aspek penting  iman yang perlu diperhatikan dalam hidup yakni bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Rasul Yakobus menegaskan dalam suratnya,  tentang iman yang harus dipraktekkan (baca teks Yak.2.14-26). Sesungguhnya iman harus dibarengi dengan perbuatan kasih. Dalam satu Korintus 13:1-3 Rasul Paulus berkata (baca teks). Iman,harapan, pengetahuan dll akan berakhir tapi kasih itu abadi karena kasih itu adalah Allah sendiri. God is love and love is God.

4. KERJA

APP tahun ini berbicara mengenai makna kerja manusia. Yang dimaksudkan dengan kerja ialah kegiatan manusia berupa kerja tangan (opus manuale) dan kegiatan akal budi. Manusia dijuluki “homo faber”makluk pekerja. Menurut julukan ini sebenarnya manusia disiapkan dari kodratnya untuk bekerja. Dengan bekerja manusia mencari nafkahnya setiap hari sekaligus menjawabi perintah Allah untuk menaklukan bumi dan menyempurnakannya sebagai co-creator Allah. Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika berkata: “ Jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia makan” (bdk.2 Tes 3:10). Karena manusia adalah homo faber dan co-creator Allah, maka dari saat ke saat ia selalu bekerja untuk kebutuhan hidupnya dan memualiakan Allah dalam karyanya.

Kerja merupakan salah satu ciri yang membedakan manusia dari makluk ciptaan lainnya. Kerja membuat manusia lebih bermartabat. Ia mampu menyediakan kebutuhannya sendiri dan dengan demikian melepaskan diri dari ketergantungan pada persediaan alam bahkan pula mengubah alam dan membuatnya menjadi lebih maju.

Tetapi tak bisa dipungkiri pula bahwa oleh kerja pula manusia telah menjadi penyumbang  atas kerusakan alam yang sering mandatangkan malapetaka dan bencana bagi manusia. Maka manusia harus selalu menyadari kerjanya. Bahwasanya kerja manusia harus sungguh-sungguh menjadi co-creator, pelanjut karya Allah untuk mengelola dan memelihara serta melestarikan alam. Manusia mendapat tugas istimewa untuk bekerja sejauh tidak merusak alam yang Tuhan  ciptakan.

Sebagai seorang imam tentu saja kita memiliki bidang kerja utama sebagai pelayan rohani. Namun sebagai pribadi, masing-masing kita juga memiliki hobi atau bakat untuk bentuk kerja tangan seperti menanam pohon dan kegiatan akal budi seperti menulis buku. Talenta atau bakat demikian juga perlu dikembangkan. Oleh rahmat tahbisan kita memiliki tugas pokok sebagai imam, raja dan nabi secara istimewa. Sebagai imam kita mendapat tugas istimewa untuk menguduskan karya manusia melalui pelayanan sakramen. Sebagai raja kita menuntun, memberi contoh dan teladan bagaimana harus bekerja  agar kerja manusia tidak keluar dari maksud Tuhan mengangkat manusia sebagai co-creatorNya. Dan sebagai nabi kita mengajarkan bagaimana manusia harus bekerja agar kerja manusia tidak sampai merusak alam tetapi menyempurnakanya.

5. PERSAUDARAAN SEJATI SEBAGAI SUMBER PELAYANAN PASTORAL

Sebagai seorang imam, salah satu hal  penting yang  mendukung dalam tugas pelayanan adalah persaudaraan. Ketika ditahbiskan kita semua mengambil bagian  dari imamat yang satu dan sama.Oleh tahbisan itu kita tergabung dalam persekutuan para imam. Persekutuan ini menjadi dasar persaudaraan kita yang tak pernah dapat terpisahkan.

Karena merupakan saudara maka sudah tentu kita harus saling mendukung dalam karya pelayanan dan segala  bentuk kebersamaan kita. Kita tidak perlu mebiarkan diri dikuasai oleh ego kita masing-masing dan kecenderungan mencari popularitas walaupun kita memiliki watak yang berbeda. Sebaliknya kita harus belajar untuk bersikap rendah hati  dan saling menghargai agar seluruh aktivitas pastoral kita benar-benar bermakna dan memerlihatkan kepada orang bahwa kita benar-benar bersaudara,  sehati, sepikir dan sejiwa. Proses ini harus terus dibina agar mempribadi dan menjadi teladan bagi kawanan domba gembalaan kita.

Seringa umat menjdi bingung menyaksikan para imamnya memperlihatkan hal-hal yang tidak lazim bahkan tidak layak bagi seorang imam seperti berselisih, saling gossip, hingga makan sendiri-sendiri, mengurus diri sendiri-sendiri dan tidak saling mempedulikan. Karena itu di masa prapaskah ini dan selanjutnya kita harus memulai hidup baru, mengoreksi diri apakah benar ada persaudaraan sejati di antara kita?

6. PENUTUP

Sebagai Imam tertahbis, kita memperoleh mandat dari Kristus untuk berkarya dalam kebun anggurNya. Kita dipanggil dan diutus ke tengah umat Allah untuk melayani mereka seperti Kristus. Kita bertanggung jawab untuk menumbuhkan iman umat dalam karya kita setiap hari. Identitas kita sebagai imam harus dilihat dalam konteks ilahi yang mau menyelamatkan, bukan mempersulit umat. Dengan kekuatan iman yang kita miliki dan oleh rahmat sakramen tahbisan, seorang imam mampu bekerja, mampu melayani dan mengantar umat kepada perjumpaan dengan Allah yang membebaskan.

Struktur asli teologis misteri imam yang dipanggil untuk menjadi pelayan keselamatan, tak boleh dilupakan, untuk memahami secara tuntas makna pelayanan pastoralnya di tengah umat yang dipercayakan kepadanya. Imam adalah abdi/pekerja Kristus, untuk dan dengan berpangkal pada Kristus, melalui Dia dan bersama Dia, menjadi abdi manusia. Hakekatnya, yang secara ontologis disatukan dengan Kristus, merupakan dasar pembaktiannya bagi pelayanan komunitas manusia. Komitmen total seorang imam kepada Kristus, mengakibatkan bahwa imam oleh kekuatan iman, siap melayani(bekerja) tanpa pamrih kapan saja dan di mana saja. Dan pasti ada upahnya. Seorang pekerja patut mendapat upahnya. Upahnya bahkan 100 kali lipat yakni keselamatan kekal.

Akhirnya, memang kita para imam yang disebut kaum klerus itu juga manusia biasa yang bisa keliru (seorang umat di Pariti bilang kaum klerus itu juga adalah kaum keliru). Karena itu kita perlu bertobat dan dengan rendah hati selalu mau memperbaiki diri dan berjuang menjadi imam yang selalu lebih baik dari waktu ke waktu. Itulah hakekat dari pertobatan.

 

(Bahan Rekoleksi masa Pra Paskah bagi Para Imam KAK, Camplong, 7 Februari 2013)

MELIHAT SISI DUNIA BERSAMA ANAK SLB


1

Anak- anak Misdinar Paroki Aryos Niki-Niki mengisi hari liburnya dengan mengunjungi anak-anak sekolah luar biasa (SLB) di Kabupaten TTU, Kamis, (24/01/13).

Mereka menamakan kegiatan ini “melihat sisi dunia“. Aneka kegiatan yang dilaksanakan anak-anak Misdinar dan SLB. Mereka saling bertanya jawab dan berdiskusi, rekreasi bersama, lomba menggambar dan mewarnai, bernyanyi bersama, sumbangan amal kepada anak-anak SLB. Selain itu juga dilangsungkan pembagian hadiah kepada anak yang berprestasi dalam misdinar, aktif dalam kegiatan misdinar, berprestasi di sekolah, berprestasi dalam menggambar dan mewarnai.

Dari kota Kefa, anak-anak Misdinar bertolak menuju kecamatan Maubesi bersama dengan anak-anak asrama Susteran Providentia Divini (PI). Di sana mereka mengadakan pertandingan bola kaki putra dan voly putri. Kendati pulang dalam posisi kekalahan, semuanya terlihat begitu gembira.

Lewat kegiatan ini, anak-anak Misdinar menimba hal yang berarti bahwa ternyata di balik kekurangan manusia (cacat fisik dan mental), Tuhan selalu memberikan keistimewaan bagi ciptaan-Nya.

Anak-anak Misdinar pulang dengan membawa harapan bagi orang tua dan para pembinanya agar senantiasa saling membangun kerjasama di dalam membimbing dan membina anak-anak sebagai kader gereja masa depan.

Tak lupa pula anak-anak Misdinar menyampaikan rasa terimakasihnya yang berlimpah kepada para penjasa yang telah membantu terlaksananya kegiatan ini.

Nah inilah kegiatan Misdinar Paroki Aryos, bagi teman-teman  misdinar yang lain, apa kegiatan di Parokimu?

*Yuf Fernandez

(Misdinar kelompok Titus, kelas IX SMP Negeri I niki-Niki)

2

Pesan Pastoral Sidang KWI Tahun 2012 – Tentang Ekopastoral


Keterlibatan Gereja dalam melestarikan keutuhan ciptaan

Pendahuluan

1. ” Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari tanah” (Mzm. 104:14). Yang dikutip untuk mengawali Pesan Pastoral ini adalah Mazmur Pujian atas keagungan Tuhan yang tampak dalam segala ciptaan-Nya. Pujian itu mengandung kesadaran iman pemazmur akan tanggungjawab dan  panggilannya untuk menjaga dan melestarikan keutuhan ciptaan, dengan mengusahakan keselarasan dan perkembangan seluruh ciptaan (Kej 2:15). Inilah kesadaran Gereja juga.  Sadar akan pentingnya tanggungjawab dan panggilan tersebut, para Uskup yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia menyampaikan Pesan Pastoral sebagai buah dari sidang yang diselenggarakan pada tanggal 5 – 15 November 2012.

Kondisi yang memprihatinkan

2.  Alam semesta  dan manusia  sama-sama diciptakan oleh Allah karena kasih-Nya, sehingga manusia tidak bisa tidak menyadari kesatuannya dengan alam. Itulah sebabnya manusia harus memperlakukan alam sebagai sesama ciptaan dan mengolahnya secara bertanggung jawab. Bumi sendiri merupakan rumah bagi manusia dan seluruh makhluk yang lain. Hal ini mengharuskan manusia melihat lingkungan hidup sebagai tempat kediaman dan sumber kehidupan. Oleh karena itu, sejak awal Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya baik adanya (Kej 1:10.12.18.21.25.31) dan Allah mempercayakan alam kepada manusia untuk diusahakan dan dipelihara.

3. Alam semesta bukanlah obyek yang dapat dieksploitasi sesuka hati tetapi  merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan  dari kehidupan manusia. Sumber daya alam yang diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia di bumi ini diperuntukkan bagi siapa saja tanpa memandang suku, agama dan  status sosial. Sumber daya itu akan cukup apabila dikelola secara bertanggung jawab, baik untuk kebutuhan generasi saat ini maupun generasi yang akan datang.  Oleh karena itu, alam harus diperlakukan dengan adil,  dikelola dan digarap dengan penuh rasa hormat dan tanggung jawab.

4. Tetapi kenyataannya, lingkungan yang adalah anugerah Allah itu,  dieksploitasi oleh manusia secara serakah dan ceroboh serta tidak memperhitungan kebaikan bersama, misalnya penebangan hutan, pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan yang kurang bertanggung jawab.  Lingkungan menjadi rusak, terjadi bencana alam, lahir konflik sosial, akses pada sumber daya alam hilang dan terjadi marginalisasi masyarakat lokal/adat, perempuan dan anak-anak. Keadaan itu diperparah oleh kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada kepentingan politik sesaat dan pola pikir jangka pendek yang mengabaikan keadilan lingkungan. Akibatnya antara lain pemanasan bumi, bertumpuknya sampah, pencemaran air tanah, laut, udara serta tanah, pengurasan sumber daya alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan dalam skala besar.

Gereja peduli

5. Gereja telah lama menaruh keprihatinan atas masalah lingkungan yang berakibat buruk pada manusia. Paus Paulus VI dalam Ensiklik Populorum Progressio (1967, No. 12) mengingatkan kita bahwa masyarakat setempat  harus dilindungi dari kerakusan pendatang. Hal ini diperjelas oleh Paus Yohanes II dalam Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis(1987, No. 34) yang menekankan bahwa alam ciptaan sebagai kosmos tidak boleh digunakan semaunya dan pengelolaannya harus tunduk pada tuntunan moral karena dampak pengelolaan yang tidak bermoral tidak hanya dirasakan oleh manusia saat ini tetapi juga generasi mendatang. Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Caritas in Veritate(2009, No. 48) menyadarkan kita bahwa alam adalah anugerah Allah untuk semua orang sehingga harus dikelola secara bertanggungjawab bagi seluruh umat manusia.

6. Gereja Katolik Indonesia pun telah menaruh perhatian besar pada masalah lingkungan. Hal ini ditegaskan dalam Pesan SAGKI 2005 berjudul “Bangkit dan Bergeraklah” yang mengajak kita untuk segera mengatasi berbagai ketidakadaban publik yang paling mendesak, khususnya yang berhubungan dengan lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan. Gereja juga telah melakukan banyak usaha seperti edukasi, advokasi dan negosiasi dalam mengatasi pengrusakan lingkungan yang masih berlangsung terus bahkan kian meningkat kualitas dan kuantitasnya.

Gereja meningkatkan kepedulian

7. Kami mengajak seluruh umat untuk  meneruskan langkah dan meningkatkan kepedulian dalam pelestarian keutuhan ciptaan dalam semangat pertobatan ekologis dan gerak ekopastoral. Kita menyadari bahwa perjuangan ekopastoral untuk melestarikan keutuhan ciptaan tak mungkin dilakukan sendiri. Oleh karenanya, komitmen ini hendaknya diwujudkan dalam bentuk kemitraan dan gerakan bersama, baik dalam Gereja sendiri maupun dengan semua pihak yang terlibat dalam pelestarian keutuhan ciptaan.

8.Pada akhir Pesan Pastoral ini, kami akan menyampaikan  beberapa pesan:

8.1.Kepada saudara-saudari kami yang berada pada posisi pengambil kebijakan publik : kebijakan terhadap pemanfaatan sumber daya alam dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) hendaknya membawa peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup. Undang-undang yang mengabaikan kepentingan masyarakat perlu ditinjau ulang dan pengawasan terhadap pelaksanaannya haruslah lebih diperketat.

8.2. Kepada saudara-saudari kami yang bekerja di dunia bisnis : pemanfaatan sumber daya alam hendaknya tidak hanya mengejar keuntungan ekonomis, tetapi juga keuntungan sosial yaitu tetap terpenuhinya hak hidup masyarakat setempat dan adanya jaminan bahwa sumber daya alam  akan tetap cukup tersedia untuk generasi yang akan datang. Di samping itu, usaha-usaha produksi di kalangan masyarakat kecil dan terpinggirkan, terutama masyarakat adat, petani dan nelayan, serta mereka yang rentan terhadap perubahan iklim dan bencana lingkungan, perlu lebih didukung.

8.3. Kepada umat kristiani sekalian : umat kristiani hendaknya mengembangkan habitus baru, khususnya hidup selaras dengan alam berdasarkan  kesadaran dan perilaku yang peduli lingkungan sebagai bagian perwujudan iman dan pewartaan dalam bentuk tindakan pemulihan keutuhan ciptaan. Untuk itu, perlu dicari usaha bersama misalnya pengolahan sampah, penghematan listrik dan air, penanaman pohon, gerakan percontohan di bidang ekologi, advokasi persuasif di bidang hukum terkait dengan hak hidup dan keberlanjutan alam serta lingkungan. Secara khusus lembaga-lembaga pendidikan diharapkan dapat mengambil peranan yang besar  dalam gerakan penyadaran akan masalah lingkungan dan pentingnya kearifan lokal.

9. Tahun Iman yang dibuka oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 11 Oktober 2012, antara lain mengingatkan kita untuk mewujudkan iman kita pada Tuhan secara nyata dalam tindakan kasih (bdk. Mat 25: 31-40). Dengan demikian tanggungjawab dan panggilan kita untuk memulihkan keutuhan ciptaan sebagai wujud iman makin dikuatkan dan komitmen ekopastoral kita untuk peduli pada lingkungan kian diteguhkan. Kita semua berharap agar sikap dan gerakan ekopastoral kita menjadi kesaksian kasih nyata dan “pintu kepada iman” yang “mengantar kita pada hidup dalam persekutuan dengan Allah” (Porta Fidei, No.1). Kita yakin bahwa karya mulia di bidang ekopastoral ini diberkati Tuhan dan mendapat dukungan semua pihak yang berkehendak baik.

Penutup

10. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudari yang telah setia menekuni, mengusahakan dan memperjuangkan kelestarian keutuhan ciptaan dengan caranya masing-masing. Semoga Allah yang telah mencipta segala sesuatu, senantiasa memberkati rencana dan usaha kita bersama ini.

Jakarta,  15 November 2012

Presidium Konferensi Waligereja Indonesia,

Mgr. Ignatius Suharyo
Ketua

Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal

Menyantap Gorengan Usai kerja…


Berita Misdinar paroki Aryos Niki-Niki

Sekitar enampuluh-an remaja Paroki Aryos Niki-Niki—TTS,  yang tergabung dalam kelompok Misdinar Aryos, membersihkan rumput-rumput liar di halaman paroki, Sabtu (19/01/13).

Di musim penghujan seperti sekarang ini, di sela-sela aneka tanaman yang terlihat begitu subur di halaman Paroki Aryos, bertumbuh subur juga rumput-rumput. Melihat hal ini, anak-anak Misdinar Aryos mengusulkan pembersihan rumput-rumput di halaman Gereja sekalian olah raga kata beberapa anak.

Mereka beramai-ramai datang, membawa alat kerja “tofa” di tangan mereka dan mulai membagi petak-petakan antara laki-laki dan perempuan untuk saling beradu siapa yang lebih cepat membersihkan rumput-rumput ini.

12

Melihat semangat dan kerja mereka, Rm. Fariz lPaut,Pr langsung memotret mereka sambil berkata; “ayo kelompok mana yang menang akan diberi hadiah satu pak bon-bon, dan setelah itu kita makan gorengan ramai-ramai…” Sorak-sorai pecah dari mulut mereka sebagai tanda menyetujui tawaran itu.

Usai bekerja itu, para misdinar beramai-ramai menikmati gorengan panas. Tim ceweklah yang mendapatkan hadiah gula-gula (bon-bon) karena memenangkan perlombaan itu.

Para Misdinar di samping diajar untuk mencintai pelayanan altar, mereka juga diajar dan dibina untuk mencintai kerja oleh Romo Fariz Paut, Pr sebagai pendamping mereka. Pastor Fariz mengatakan bahwa dalam bekerja manusia juga melayani. Putra-putri altar (misdinar) tidak sekedar bisa melayani meja altar pada setiap perayaan ekaristi, juga tidak sebatas diberi pendampingan dan pengetahuan mengenai iman Gereja Katolik, tetapi juga harus diajarkan rasa kecintaan mereka untuk mencintai kerja tangan, tambah Pastor berdarah Cina itu.

Inilah anak-anak Misdinar Paroki Aryos yang selalu bersorak:

God is good all the time, so always be happy”.

Bagaimana dengan kalian teman-teman Misdinar?

Apa yang kalian buat di paroki dan Gerejamu?

Salam dari Aryos Niki-Niki”.