Category Archives: Suara Gembala Uskup


Saudara-saudari pengunjung setia Blog Keuskupan Agung Kupang, trimakasih atas kunjungan anda selama ini. Perlu kami informasikan bahwa terhitung mulai hari ini, Kamis, 23 Oktober 2014, blog Keuskupan Agung Kupang ini dinonaktifkan, mengingat Keuskupan Agung Kupang telah meluncurkan web resmi yang baru. Untuk bisa menjelajah web Keuskupan yang baru, para pengunjung bisa langsung mengakses ke http://www.kak.or.id/

kak

Advertisements

Pesan Puasa 2014; Uskup Agung Kupang


OLYMPUS DIGITAL CAMERA“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”  (Yoh 10:10)

Saudara-saudari terkasih,

Kita telah terbiasa mendengar dan melihat, melalui media sosial, kisah-kisah yang menyedihkan dari masyarakat dewasa ini. Penayangannya membuat kita terusik karena tersentuh olehnya, mendengarnya dan melihatnya di sekitar kita. Kisah-kisah yang menyedihkan dan menggembirakan ini bercampur-baur di jalan-jalan, lingkungan tetangga, rumah kita, dan juga, mengapa tidak, dalam hati kita. Penderitaan tidak pernah sirna dari lingkungan hidup kita: pelanggaran hak-hak mereka yang rentan, cinta akan uang dengan kejahatannya seperti narkoba, korupsi, lintah darat, perdagangan manusia serta penghancuran sumber daya alam, di tengah kemelaratan serta kepapaan material, moral dan spiritual. Kesalahan dan dosa kita sebagai Gereja juga tidak luput dari pemandangan yang menyeramkan ini. Hilangnya nilai-nilai etis dalam masyarakat menyebar ke dalam keluarga-keluarga, kebersamaan bertetangga di perdesaan dan perkotaan. Para petani, peternak dan pedagang kecil tetap mengalami diri terpinggirkan, karena mereka tidak mampu menjalin hubungan dengan permodalan, pengetahuan serta ketrampilan yang memadai akibat kemiskinan. Nyatalah keterbatasan, kelemahan serta ketidak-berdayaan kita untuk mengadakan perubahan atas daftar tak terbilang dari kenyataan-kenyataan yang menyedihkan, merugikan dan merusak keutuhan ciptaan dan martabat manusiawi. Pertanyaannya, apakah kita orang beriman Katolik membiarkan lingkungan demikian berkecamuk tanpa kesadaran untuk mendorong perubahan?

Saudara-saudari terkasih,

Masa Puasa menghampiri kita sebagai suatu seruan akan kebenaran dan harapan pasti, yaitu hidup tanpa topeng dan menghilangkan senyuman palsu kita. Memang, mungkinlah bahwa segalanya menjadi baru dan berbeda, karena Allah tetap  kaya dalam kebaikan dan belaskasih, selalu suka mengampuni. Dia menyemangati kita untuk mulai lagi, yaitu melakukan suatu perjalanan kemuridan paskah menuju Kebenaran, sebuah perjalanan yang mencakup salib dan pantang, yang nampaknya tidak menyenangkan, tetapi tidak hampa makna. Kita menjadi sadar untuk mengakui bahwa terdapat sesuatu yang salah dalam diri kita, masyarakat dan  Gereja : perlu perubahan, berbalik dan bertobat. Masa liturgi yang mulai Hari Rabu Abu bukan hanya bagi diri kita, tetapi juga bagi pembaruan hidup iman keluarga-keluarga kita, komunitas-komunitas kita, Gereja kita, tanah kelahiran kita, seluruh dunia. Masa ini berlangsung selama 40 hari untuk bertobat kepada kekudusan Allah; menjadi rekan sekerja yang menerima rahmat dan peluang untuk membangun kembali hidup manusia, sehingga setiap orang akan mengalami keselamatan yang Kristus anugerahkan bagi kita melalui Wafat dan Kebangkitan-Nya. Bersama dalam doa, pantang dan pendalaman tema APP perihal “Belajar Sepanjang Hidup”, kita mengembangkan dan mencerdaskan nurani kekuatan Paskah yang mengubah segalanya, dan rela menggerakkan hati akan “amalkasih puasa kita”, yaitu Solidaritas Aksi Puasa Pembangunan, dengan murah hati dan penuh syukur.

Saudara-saudari terkasih,

Gereja Keuskupan Agung Kupang dalam usianya ke-25 Tahun bergerak bersama menuju Paskah dan percaya bahwa Kerajaan Allah adalah mungkin dalam lingkungan hidup ini. Kita perlu musim baru yang bersemi dari hati kita, merekah mempesona karena rindu akan pertobatan dan kasih, rahmat dan gerakan efektif guna meringankan kesedihan begitu banyak saudara-saudari yang berjalan bersama kita. Tiada perbuatan kebajikan dapat tumbuh besar, jika tidak disertai oleh kemanfaatan bagi orang lain. Sejalan dengan peringatan 25 Tahun Keuskupan Agung Kupang dengan gagasan “Tahun Injil Orang Miskin”, marilah kita menjalaninya  dalam nada syukur sebagai suatu kesempatan untuk menegaskan bahwa Allah menganugerahi kita daya tumbuh menjadi dewasa dalam perjumpaan dengan Tuhan yang membuat diri-Nya kelihatan dalam wajah-wajah sesama kita: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”(Mt 25:40). Kita peduli akan wajah-wajah sekian banyak kaum muda tanpa masa depan, akan tangan-tangan gemetar dari orang-orang lansia yang terlupakan dan akan sekian banyak keluarga yang terus menghadapi hidup yang berkekurangan tanpa menemukan bantuan dan sokongan apapun. Pada tahun berahmat ini, marilah kita belajar menjadi murid Kristus dengan melibatkan diri guna memberdayakan serta mencerdaskan sesama kita dalam membangun keseimbangan hidup yang layaknya manusiawi. Hai orang-orang Katolik seKeuskupan Agung Kupang, beranilah menjadi sesama sejati bagi saudara-saudari yang berkekurangan dan berbagilah sumber-sumber daya hidup dengan murah hati, karena Kristus menghendaki hidup layak bagi semua orang.

Saudara-saudari terkasih,

Akhirnya, saya menghaturkan masa Puasa yang kudus, masa Puasa yang penuh pembaruan diri dan berbuah limpah dalam “semangat Injil Orang Miskin”. Doakanlah selalu Uskupmu ini. Tuhan Yesus memberkati dan Perawan Maria melindungi kalian semua, saudara-saudariku terkasih.

Kupang, 8  Pebruari 2014

Salam Hormat dan Berkat,

Uskupmu Petrus Turang

Catatan :  Pesan Puasa ini hendaknya dibacakan tanpa komentar pada Perayaan Misa atau Ibadat Tanpa Imam, tanggal 2 Maret 2014, di semua gereja di Paroki, Stasi dan  Kapela yang bernaung dalam Keuskupan Agung Kupang. Perbuatan pantang dan puasa berlaku pada hari Rabu Abu dan setiap Hari Jumat selama masa Prapaskah.

SURAT GEMBALA PUASA 2013


USKUP AGUNG KUPANG

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Masa puasa 2013 mengambil tema “Menghargai Kerja”. Tema ini dimaksudkan untuk mengarahkan permenungan atas iman kristiani selama masa prapaskah. Dalam hubungannya dengan Tahun Iman, tema ini sungguh tepat, karena Gereja kita mengajak seluruh umat Katolik untuk menemukan kembali kegembiraan iman Kristiani dalam perjalanan hidup ini. Rasul Santu Yakobus berkata “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati” (Yak 2:17).

Saudara-saudari terkasih,

Kerja adalah suatu panggilan, yaitu ambil bagian dalam karya penciptaan Tuhan. Dengan bekerja, manusia mengalami anugerah mulia dari Tuhan. Kerja membangun pribadi manusia, menciptakan hubungan dengan sesama dan memelihara keutuhan alam ciptaan: “Beranak cuculah dan berkembangbiaklah, dan penuhilah bumi dan taklukanlah itu” (Kej 1:28). Dengan bekerja, manusia memelihara serta mengembangkan tata kelola ciptaan Tuhan demi kebaikan semua orang. Manusia menjadi  mitra Tuhan dalam mengembangkan dunia ini melalui kerja. Kerja itu adalah anugerah mendasar bagi manusia ditinjau dari pertumbuhan pribadinya, hubungan dengan sesama, pembentukkan keluarga dan sokongan bagi kebaikan bersama serta perdamaian. Oleh karena itu, dalam perjalanan hidup ini, tersedianya lapangan kerja bagi semua orang selalu bercorak hakiki utama, kapan, di mana dan dalam keadaan apa saja. Mengapa demikian? Karena pribadi manusia adalah subyek kerja dalam segala aspeknya, terutama aspek etis. Dengan melakukan pekerjaan, manusia membangun hidup bertanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan hidup yang tercipta oleh kebaikan Tuhan bagi semua orang. Rasul Paulus menasehati: “jika seorang tidak mau bekerja, janglah ia makan. … orang-orang yang demikian kami peringati dan nasehati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri” (2 Tes 10:12).

Saudara-saudari terkasih,

Dalam ensiklik “Laborem Exercens” Beato Yohanes Paulus II menjelaskan tentang panggilan dan makna kerja manusiawi dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat semasa. Beato Yohanes Paulus II sangat menekankan aspek rohani dari kerja manusia karena kerja adalah tanggungjawab manusia untuk melanjutkan karya penciptaan dalam pribadi, sesama dan lingkungan hidup ini. Tanggungjawab kita ialah memelihara dan memberdayakan nyala api yang telah ditanamkan Tuhan dalam diri kita. Oleh karena itu, kita perlu menggairahkan daya iman kita untuk menggerakkan semangat kerja. Sejatinya, kita semua menunaikan pekerjaan untuk mendapatkan keseimbangan antara memeroleh nafkah dan melayani tujuan panggilan hidup kita. Hendaknya kita berusaha, agar kendala dan halangan dalam kerja tidak menghentikan tanggungjawab hidup kita. Tetapi jika kita harus memilih antara dua tuan, maka kita harus memilih Tuhan, karena Dia menginginkan kita untuk menunaikan pekerjaan secara bermakna: “Sebab itu, apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rom 8:31).

Saudara-saudari terkasih,

Di tengah persoalan sosial tentang kerja dan ketenagakerjaan, kita perlu mengarus utamakan pribadi manusia. Aneka bentuk kerja yang tersedia (politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk agama) mempunyai tujuan agar manusia menemukan dan mengalami pertumbuhan pribadi yang terhormat bersama-sama. Manusia bekerja entah fisik atau non fisik untuk hidup seutuhnya dan bukan hanya sebagian hidup seperti kepentingan dan perolehan nafkah saja. Keyakinan iman Kristiani memberikan suatu perspektif abadi yang membantu kita untuk mengatasi persoalan sosial kerja yang sering membuat kita rentan kemanusiaan akibat kehilangan, kerapuhan, kegagalan ataupun keserakahan. Kitab Sirakh berujar: “Barangsiapa takut akan Tuhan tidak kuatir terhadap apapun, dan tidak menaruh ketakutan sebab Tuhanlah pengharapannya” (34:14). Sejalan dengan tantangan kerja ini, pemerintah hendaknya memperlancar peran penyediaan lapangan kerja, agar angkatan kerja tidak meninggalkan daerah asalnya dalam jumlah besar. Dengan membangun kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perdagangan dan kelautan, mereka mampu membangun pribadi, sesama dan keutuhan ciptaan setempat. Pekerjaan mengungkapkan talenta, prakarsa dan cintaksih setiap orang sebagai sumbangan bagi pengembangan masyarakat yang lebih baik.

Saudara-saudari terkasih,

Kerja adalah panggilan yang mendorong kita melakukan hal-hal yang bermakna sebagai warisan yang berfaedah bagi banyak orang. Kita menghargai kerja sebagai kesempatan untuk menumbuhkan sikap murah hati dan relah berbagi demi kebaikan bersama. Kehadiran pekerjaan, yang selalu kita syukuri harus menghormati sesama dengan lingkungan kerja yang sehat manusiawi, antara lain, balas karya yang layak untuk membangun hidupnya dan keluarga; semua orang bekerja dengan jujur dan rajin; terbuka dan mau bekerja sama dengan orang lain; Pemerintah membuat peraturan kerja dan ketenagakerjaan yang menghormati pribadi warganya; pekerjaan tani dan kerajinan rumahtangga mendapat dukungan dengan sarana dan prasarana yang memadai. Dengan kata lain, kerja itu hendaknya membangun martabat manusia dan menciptakan hubungan yang adil dan beradab: “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri” (Ef 6:4).

Di dalam kerjasama yang baik, manusia membangun suatu persahabatan, daya dukung bersama untuk mengembangkan lingkungan hidup yang berkelanjjutan secara manusiawi. Kerja merupakan proses pemanusiaan bersama sesama dalam lingkungan hidup tertentu. Olehnya, kita perlu menumbuhkan disiplin kerja dan mendorong tekad bersama untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian, karena “Semakin seseorang bekerja bagi orang lain, semakin ia akan mengerti Sabda Kristus dan membuatnya menjadi miliknya: “kami ini hamba yang tidak berguna” (Benediktus XVI, Deus Caritas Est,nr.35).

Saudara-saudari terkasih,

Di tengah menjamurnya kerusakan lingkungan hidup, kita perlu memberikan perhatian pada kerja yang berkaitan dengan lingkungan alam kita. Pekerjaan tertentu perlu penelitian akan dampak lingkungan, agar pengerjaannya tidak merusak lingkungan, khususnya pekerjaan perkebunan monokultur, pertambangan dan industri. Kita harus melakukan pekerjaan dengan arif, agar keutuhan lingkungan tetap terpelihara. Kita perlu mulai dari rumah kita masing-masing: antara lain, sampah rumah tangga dikelola dengan baik, ternak tidak merusak lingkungan, suka memelihara tanaman, menjauhi produk-produk kimia berbahaya dan mengembangkan taman serta pertanian selaras alam. Gaya hidup demikian akan menghadirkan nilai-nilai luhur manusiawi yang menghargai kerja dengan tekad meningkatkan daya dukung lingkungan yang sehat dan bermutu. Dengan demikian kita menunaikan pekerjaan untuk menampakkan karya kelanjutan penciptaan Tuhan. Kerja kita mudah-mudahan menghasilkan dapur sehat, lingkungan hidup sehat dengan hati serta pikiran yang sehat pula.

Saudara-saudari terkasih,

Dengan berdoa dan bekerja, kita mengungkapkan kasih Allah dalam dunia. Oleh karena itu, menghargai kerja adalah penegasan manusiawi akan kehadiran kasih Allah dalam lingkungan hidup ini. Cahaya kasih Allah menerangi dunia kita dan memberikan kepada kita keberanian untuk hidup dan bekerja dengan rendah hati. Hasil kerja kita tidak boleh membuat kita menjadi sombong dan serakah. Sebaliknya, kita menjadi sadar akan daya Ilahi yang memampukan kita belajar taat pada rencana kasih penciptaan Allah yang tertanam dalam diri kita. Dengan demikian, kita selalu sadar akan panggilan untuk membaharui diri dan menguduskan dunia kerja, agar kegembiraan iman mekar serta hadir dalam kemuliaan. Orang yang bekerja dengan rajin serta jujur bersama sesama memperindah dunia dan pada gilirannya menghadirkan kemuliaan Allah: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mt 5:16), dan dengan rendah hati memohon kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami” (Lk 17:5).

Saudara-saudari terkasih,

Akhirnya, selamat menunaikan ibadah masa puasa dengan semangat untuk membangkitkan dan menggerakkan sikap hidup yang menghargai kerja sebagai panggilan serta pelayanan hidup, dan “…selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Ef 6:10), inilah makna menghargai kerja bertanggungjawab dan berkelanjutan secara manusiawi, bertepatan dengan perayaan Tahun Iman untuk mengenang 50 Tahun Konsili Vatikan II dan 20 Tahun Katekismus Gereja Katolik. Kita menghadirkan evangelisasi baru melalui pekerjaan kita, karena jaringan kerja dalam kerendahan hati adalah wujud kemuridan Kristus yang menggembirakan dan menyelamatkan dunia, seraya senantiasa bersyukur atas berkat karya Tuhan!

 

Diberikan di Kupang pada 2 Februari 2013, Pesta Yesus dipersembahkan di Kenizah.

Salam Hormat dan Berkat,

Uskup Petrus Turang

KADERISASI PENGGERAK SOSIAL EKONOMI


Mgr.Petrus Turang

Mgr. Petrus Turang

                                                           

Konteksi martabat manusiawi jaman ini

“Kristus telah mati untuk semua orang,

supaya mereka yang hidup,

                                              tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri,                      

tetapi untuk Dia, yang telah mati

dan telah dibangkitkan untuk mereka”

 (2Kor.  5:15)

 

Gereja kita mendapat perutusan dari Yesus Kristus untuk menghadirkan peradaban kasih dalam dunia ini. Perutusan ini adalah bagian utuh rahmat permandian yang menjadikan kita murid-murid dan saudara laki-laki serta perempuan dari Yesus Kristus. Yesus hadir dalam dunia untuk membuka kemungkinan bagi manusia mengalami kebebasan dari pengaruh kuasa kegelapan. Oleh karena itu, para murid Kristus ditempatkan dalam dunia dengan martabat anak-anak Allah, anak-anak terang untuk menyinari dunia menurut teladan Yesus sendiri. Dia adalah Terang dan Jalan bagi umat manusia yang punya kehendak baik. Di dalam gerak perjalanan ini, Gereja kita mendorong kerasulan dalam membangun komunikasi sosial ekonomi. Keterlibatan para murid Kristus dalam perjalanan bersama ini merupakan panggilan mendasar untuk menghadirkan martabat manusiawi bagi setiap orang atau kelompok orang, tanpa membedakan. Konsili Vatikan II dalam konstitusi pastoral “Gaudium et Spes” sangat menekankan keterlibatan dalam tata dunia berdasarkan panggilan untuk memajukan martabat manusiawi.

Gereja kita hadir dalam dunia dengan melibatkan diri dalam pusaran sejarah dunia, sejarah manusia sendiri, dalam menggerakkan semangat bersaudara, pun dalam perkara-perkara yang dapat dihitung dan diukur secara manusiawi. Dalam perjalanan ini, karya para rasul dalam komunikasi sosial ekonomi memerlukan kemampuan iman yang terarah kepada kesejahteraan bersama. Dalam upaya mewujudkan kerasulan sosial ekonomi di tengah masyarakat yang berkembang cepat, para murid Kristus mendapat perutusan untuk mengambil bagian dengan sikap tanpa pamrih. Gambaran visioner Kristus dalam memajukan martabat manusia baik secara pribadi maupun bersama-sama, menuntut kejelian hati serta kejernihan pikiran, agar perutusan rasuli ini tetap setia pada teladan Kristus yang datang ke dunia untuk memberikan pelayanan bagi sesama. Teladan Yesus dalam gerakan kemanusiaan ini memberikan bukti nyata sampai dengan penyerahan diri-Nya sehabis-habisnya demi pembebasan manusia dari kuasa kegelapan, terutama dalam mewujudkan sikap rela berbagi terhadap barang-barang duniawi.

Barang-barang di dunia ini sesungguhnya diperuntukkan bagi semua orang. Nyatanya, banyak orang yang tidak mendapatkan akses untuk membangun diri dengan ketersediaan barang-barang duniawi dalam hidup ini. Keterpinggiran dan kemiskinan masih saja menjadi bagian utuh perjalanan hidup, khususnya di daerah perdesaan dan pinggiran perkotaan. Banyak sesama warga yang masih mengalami kekurangan dan kelangkaan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusiawi, seperti sandang, pangan, kesehatan dan pendidikan, termasuk pekerjaan. Kenyataan yang memprihatinkan ini mendorong persekutuan gerejawi kita untuk mencari jalan, agar kemanusiaan yang berkekurangan dalam kemartabatan manusiawi boleh menemukan cara yang efektif untuk mengalami perubahan dalam hidup ini. Ketimpangan dan ketidak-seimbangan ini pertama-tama terkait dengan sikap manusiawi, yang pada dasarnya sangat mementingkan diri sendiri. Perutusan iman Kristiani tidak boleh gagal dalam menemukan cara yang efektif untuk menghadirkan peradaban kasih dalam berbagi barang-barang duniawi.

Di jaman yang maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dewasa ini, sebagian warga kita tetap berada dalam keadaan terpinggirkan. Infrastruktur manusiawi dan non manusiawi tidak tersedia secara memadai, khususnya sikap manusiawi dalam menggerakkan kesejahteraan bersama dalam masyarakat kita. Kekurangan dalam pengetahuan, termasuk ketrampilan kerja manusiawi, dan keterasingan dari aneka informasi pembangunan, menyebabkan terjadinya ketidak-seimbangan dalam upaya memenuhi kebutuhan mendasar manusiawi. Peluncuran pelbagai program pembangunan masyarakat, pada umumnya tidak memerhatikan saudara-saudara yang berada dalam keadaan pinggiran. Perkembangan dalam komunikasi moderen tidak menyentuh pengembangan diri, selain ikut serta mengambil bagian dalam kemajuan teknologi komunikasi yang nyatanya semakin memiskinkan masyarakat warga di daerah terpencil. Upaya-upaya dari pelbagai pihak untuk mengembangkan kemampuan manusiawi dalam mengadakan perubahan keadaan tidak sepenuhnya membawa hasil yang diharapkan. Banyak tenaga-tenaga penggerak pembangunan masyarakat lebih cenderung hidup di daerah yang sudah maju dengan aneka alasan, karena pelatihan tenaga penggerak tidak terlaksana dengan efektif, khususnya dalam membangun komitmen serta motivasi diri dalam proses pemberdayaan masyarakat. Para penggerak muncul sebagai pegawai dengan tuntutan birokrasi yang membekukan diri di kursi empuk di kantor-kantor yang jauh dari keadaan nyata dalam masyarakat. Amanat serta pidato, lokakarya dan seminar tentang gerakan pembangunan masyarakat bertumpah ruah, tetapi perwujudannya tetap menjadi impian di siang bolong. Kenyataan ini juga berlaku bagi para tenaga penggerak kerasulan sosial ekonomi dalam Gereja kita. Komitmen serta motivasi diri sebagai rasul sudah menjadi beku akibat sikap ingat kepentingan diri yang mengasingkannya dari pergumulan yang sesungguhnya.

Perubahan hidup memang memerlukan para pelaku gerakan perubahan yang handal dan bermutu dalam motivasi dan komitmen, karena mereka merupakan satuan kepemimpinan dalam proses perubahan diri masyarakat. Komitmen serta motivasi rasul sosial ekonomi harus efektif dalam mendorong serta menghargai kemampuan setempat, agar perubahan hidup dapat terjadi dalam diri masyarakat setempat. Kehadiran para rasul penggerak pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu bagian dari keterlibatan Gereja dalam tata komunikasi sosial ekonomi yang nyatanya sangat tidak seimbang dalam prakteknya. Oleh karena itu, dalam konteks perkembangan jaman yang demikian cepat, para rasul sosial ekonomi harus mengembangkan diri bermutu dalam motivasi dan komitmen menuju gerakan bersama sejahtera bagi setiap orang. Panggilan ini tidak mudah, karena pelbagai pengaruh yang lebih cenderung untuk memelihara kepentingan diri sendiri berhadapan dengan ketersediaan barang-barang duniawi yang serba terbatas. Dalam konteks globalisasi yang serba mengekang peluang lapisan masyarakat bawah, para rasul sosial ekonomi berhadapan dengan tantangan berat akibat tuntutan mutu serta ketrampilan dalam mengadakan negosiasi perubahan.

Persekutuan gerejawi bersama masyarakat setempat di tanah air kita memang menghadapi aneka persoalan dalam mengembangkan mutu kehadiran tenaga penggerak masyarakat, khususnya dalam mengupayakan pemberdayaan hidup menurut dimensi sosial ekonomi. Keadaan infrastruktur yang kurang memadai dalam tata kelola kepemerintahan menyebabkan kekurang-mampuan untuk menggerakkan kerjasama efektif dan kolaboratif dalam pemahaman serta komitmen. Persoalannya, para tenaga penggerak lebih memerhatikan kelembagaan dan kesejahteraan hidup keluarganya ketimbang tuntutan keadaan nyata hidup masyarakat yang memerlukan kinerja perubahan bersama. Banyak lembaga pelayanan pemberdayaan masyarakat lebih mengarus-utamakan pemberdayaan lembaga, bahkan penumpukan kemampuan pemerhati kelembagaan, sehingga proses pemberdayaan oleh tenaga penggerak tidak terlaksana dengan baik dan benar. Misalnya, lembaga Komisi PSE Keuskupan lebih memperhatikan pengembangan kemampuan lembaganya ketimbang hadir bersama dengan umat setempat untuk memberdayakan kepemilikan masyarakat setempat dalam hal pengetahuan, pemahaman, ketrampilan guna memajukan diri. Dengan kata lain, Komisi lebih peduli membangun kepemilikan lembaga daripada melaksanakan fungsinya untuk mempermudah kemampuan umat dalam mengembangkan diri terlepas dari pelbagai penyakit sosial yang melilitnya.

Setiap orang yang dipermandikan mempunyai kewajiban iman untuk menyatukan diri dengan perutusan Yesus Kristus. Dalam perutusan-Nya, Yesus mewujudkan kehendak Bapa-Nya, yaitu kebaikan semua orang. Kebaikan semua orang adalah terpeliharanya dan berkembangnya martabat yang diciptakan Allah dalam dirinya, yaitu gambaran hidup serupa dengan Allah. Martabat manusiawi ini membangun diri dengan mengambil bagian dalam tanggungjawab bersama sebagaimana dititahkan Allah sendiri (bdk. Kej 1:26-27). Dengan mengambil bagian di dalam tanggungjawab bersama Allah, orang beriman melibatkan diri dalam upaya-upaya pemajuan harkat hidup sesama dengan penuh rasa syukur. Dengan kata lain, tanggungjawab bersama ini mengisyaratkan bahwa manusia beriman punya kewajiban untuk menjamin hidup sesama dalam keadilan dan perdamaian, karena itulah rencana cinta kasih Allah bagi umat manusia. Persoalannya, di jaman maju dan moderen sekarang ini, manusia berlomba untuk mengumpulkan (‘hoarding’) sebanyak mungkin bagi dirinya sendiri baik material maupun spiritual. Ketidak-taatan manusia terhadap tanggungjawab bersama karena keserakahan telah membawa akibat bahwa hidup antar manusia semakin menjadi tidak seimbang dan timpang. Kesenjangan ini menghadirkan dalam dunia aneka kenyataan yang merugikan serta merusak hubungan antar sesama, khususnya dalam komunikasi sosial ekonomi. Kapital sebagai tanggungjawab bersama sudah semakin menjadi kapitalisme yang menimbulkan keterpinggiran atau pun pengasingan antar sesama: kaya-miskin, terpelajar-bodoh, berkuasa-tanpa kuasa, majikan-buruh, trampil-tidak trampil, punya rumah-tanpa rumah, pekerjaan-tanpa pekerjaan. Masyarakat semasa tidak mengalami apa yang disebut St. Agustinus sebagai “tranquilitas ordinis” (ketenangan tata tertib) dalam hidup politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan agama. Manusia dewasa ini sangat mengutamakan hasil-hasil bagi diri atau kelompok sendiri, tanpa peduli akan dampak-dampak bagi sesama.

Dari penegasan serta pemikiran di atas ini, baiklah kita meninjau kembali apa yang penting, bermakna dan bermutu dalam hal “tenaga penggerak kerasulan sosial ekonomi” dalam perutusan Gereja di jaman kita:

  1. Persekutuan gerejawi semasa, sekurang-kurangnya sesudah Konsili Vatikan II, menyadari pentingnya perhatian akan martabat manusia menurut gambaran yang diciptakan Allah sendiri, yaitu kesetaraan dalam semua aspeknya, tanpa membedakan. Di tengah maraknya kemajuan teknologi, khususnya informasi dan komunikasi, martabat manusia adalah yang paling utama mendapat penghormatan dan penghargaan.
  2. Lingkungan hidup manusiawi sebagai penyangga keutuhan alam tercipta memerlukan kehadiran kemampuan rasuli yang dari dalam dirinya mendorong lahirnya komitmen yang bernafaskan keadilan dan perdamaian. Di dalam lingkungan demikian, manusia membangun kerjasama kolaboratif dalam wujud semangat dan sikap rela berbagi, baik pemahaman maupun praktek hidup.
  3. Perwujudan keadilan dan perdamaian menjadi nyata dalam bentuk-bentuk kepelayanan sesama, sebagaimana diteladankan oleh Yesus Kristus dalam menjalankan karya perutusan-Nya di atas bumi ini. Di dalam teladan ini, umat beriman harus belajar bagaimana menjadi pelayan sesama yang kompeten dan bermutu bagi perubahan hidup dalam lingkungan pengabdian bersama.
  4. Pengabdian sesama memerlukan sikap bakti seutuhnya dan sepenuhnya dalam semangat bersaudara menurut  tuntutan keadaan yang  cepat berubah. Olehnya, para rasul sosial ekonomi mudah-mudahan memiliki semangat belajar yang memadai, agar mereka mampu menanggapi harapan sesama secara efektif dan berhasil guna menurut tuntutan pemberdayaan setempat.
  5. Pemberdayaan martabat manusiawi memerlukan tata kelola kepemerintahan (good governance) yang sesuai dengan daya kemampuan setempat, dengan memperhitungkan tantangan yang berkembang semasa, khususnya teknologi tepat guna dalam komunikasi sosial ekonomi.  Oleh karena itu, para tenaga kerasulan sosial ekonomi perlu memiliki daya kompetensi dan daya bakti yang mengarus-utamakan kebaikan sesama, khususnya mereka  yang berkekurangan.
  6. Para penggerak kerasulan sosial ekonomi harus memandang karyanya sebagai panggilan untuk belajar mendengarkan sesama yang berkepentingan dalam kerendahan hati dan kemurahan hati, agar gerakan sehati sepikiran dalam proses pemberdayaan dapat terlaksana berkelanjutan secara manusiawi. Dengan demikian kerasulan sosial ekonomi menjadi tanggungjawab bersama yang melibatkan sesama dengan gembira.
  7. Para penggerak kerasulan sosial ekonomi perlu menyadari diri sebagai bentara-bentara kabar Gembira dalam komunikasi sosial ekonomi. Dalam lingkungan sosial ekonomi yang cepat mengalami perubahan dewasa ini, para penggerak kerasulan sosial ekonomi perlu memiliki kemampuan manajerial dalam hal perubahan sesuai dengan tantangan yang berkembang setempat dan meluas.
  8. Di tengah arus globalisasi yang membawa dampak-dampak yang menggembirakan dan menyedihkan, para penggerak kerasulan sosial ekonomi kiranya bersikap cakap dalam menanggapi perkembangan lingkungan hidup manusiawi, agar kehadirannya sejatinya menumbuhkan pengharapan. Dengan demikian, kehadiran kerasulan sosial ekonomi semasa dapat menghadirkan “gaudium et spes” dalam proses pemberdayaan hidup sesama. Dengan kata lain, kehadiran kerasulan sosial ekonomi membangun wawasan serta kesadaran baru dalam persekutuan gerejawi sebagai wujud keterlibatan sosial gerejawi yang memelihara dan memajukan martabat setiap orang berkelanjutan secara manusiawi.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan

apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,

demikianlah firman Tuhan,

yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan,

untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”

(Yer 29:11)

 

Butir-butir utama di atas ini mendorong Komisi PSE KWI, Komisi PSE Keuskupan dan Seksi Sosial Paroki untuk memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Gereja kita memiliki perangkat penyadaran dengan bahan serta gagasan iman yang tertuang dalam Ajaran Sosial Gereja. Kerasulan sosial ekonomi harus mendasarkan diri pada pemahaman serta perutusan yang ditegaskan dalam Ajaran Sosial Gereja, karena ASG merupakan pengejawantahkan rencana cinta kasih Allah bagi umat manusia. Dengan memahami Ajaran Sosial Gereja, para penggerak kerasulan sosial ekonomi memiliki pendasaran iman untuk melibatkan diri dalam pergumulan kemanusiaan di jaman yang berkembang sekarang ini.
  2. Perlunya pendidikan serta pelatihan pembangunan bagi para tenaga penggerak, agar mereka menjadi lengkap dalam pengetahuan serta ketrampilan guna mendampingi umat bersama masyarakat menuju pemberdayaan komunikasi sosial ekonomi yang sejatinya membangun persaudaraan. Dengan pendasaran ASG dan kompetensi yang tepat-guna, mereka mampu mendorong sesama dan dirinya sendiri untuk berani mengadakan perubahan dalam pola pikir dan pola hidup.
  3. Para penggerak kerasulan sosial ekonomi harus berada di tengah umat bersama masyarakat, agar secara nyata dapat mendengarkan persoalan hidupnya dan bersama-sama mencari cara pemberdayaan yang sesuai dengan daya dukung setempat. Dengan demikian mereka menjadi pemimpin pemberdayaan yang menghormati serta menghargai martabat manusia setempat. Olehnya, perlu upaya-upaya kunjungan animatif yang dipersiapkan secara matang bersaudara dengan sasaran yang jelas.
  4. Kerjasama kolaboratif, di mana peran serta tanggungjawab masing-masing jelas, perlu menjadi bagian utuh dari tata kelola kerasulan sosial ekonomi di tingkat KWI, Keuskupan dan Paroki, agar semangat bersaudara dalam komunikasi sosial ekonomi terwujud secara bermartabat manusiawi, yaitu dalam keadilan dan perdamaian dengan semua orang.
  5. Kesadaran kerasulan sosial ekonomi bukanlah suatu kemampuan untuk mengumpulkan barang-barang duniawi bagi diri sendiri, tetapi dalam kebersamaan yang saling melayani demi berkembangnya jati diri kemuridan Kristus, yaitu praktek cinta kasih. Tentu saja akan muncul perbedaan, sebagaimana kasih karunia yang dianugerahkan berbeda, tetapi perbedaan itu menjadi bagian dari kekayaan bersama dalam sikap murah hati.
  6. Pemajuan martabat manusiawi dalam kerasulan sosial ekonomi merupakan hasil dari karya pelayanan sesama yang saling mendukung dan saling memberdayakan. Olehnya, para penggerak kerasulan sosial ekonomi adalah pelayan sesama yang berkompetensi dan bermutu dalam menggerakkan kepelayanan bersama yang bermartabat manusiawi.
  7. Kepelayanan kerasulan sosial ekonomi terlaksana menurut kenyataan setempat. Olehnya, para penggerak kerasulan sosial ekonomi perlu saling belajar dalam membangun kepelayanan sosial ekonomi yang efektif, agar gerakan kerasulan sosial ekonomi semakin meliputi kawasan luas yang menyebarkan gagasan pemajuan martabat manusiawi melalui kerasulan khusus ini. Para pelayan kerasulan sosial ekonomi harus memperhatikan sumber daya manusiawi yang dipercayakan kepada mereka dengan rasa belas kasih, penuh tanggungjawab dan terpercaya.
  8. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam gerakan kerasulan sosial ekonomi Gereja kita adalah kerjasama  dengan semua pihak, khususnya dengan pemerintah setempat, umat beragama setempat dan lembaga swadaya masyarakat setempat. Kerjasama ini merupakan kesadaran Gereja kita akan perutusan bagi kebaikan semua orang. Kerjasama antar umat Kristiani, dialog antar umat beragama dan budaya hendaknya menjadi kepedulian bersama dalam menjalani kerasulan sosial ekonomi dalam masyarakat kita.

Kerasulan sosial ekonomi berhubungan dengan tiga unsur, yaitu pribadi, keadaan dan mutu. Semua unsur ini berhubungan dengan panggilan perutusan untuk mengikuti Yesus Kristus (pengajaran, hidup dan teladan: bdk. Lk 22:24-27) yang juga memberikan kemampuan dalam mewujudkannya. Dalam kerjasama bersaudara penggerak yang memahami keadaan umat bersama masyarakat mampu menghadirkan pelayanan yang memberikan harapan dengan kekuatan iman kepada Tuhan dalam kerendahan hati. Hasil kerasulan sosial ekonomi tidak terutama membangun ketercukupan diri, tetapi kemandirian hidup berbagi. Kerasulan sosial ekonomi memang perlu sarana yang memadai untuk menggerakkan semua pemangku kepentingan: semua harus mengambil peran sesuai dengan tanggungjawab masing-masing demi kebaikan bersama. Dalam perjalanan kerasulan sosial ekonomi tetap ada keadaan pertikaian pemahaman dan pelaksanaan. Perselisihan pendapat merupakan kenyataan yang sehat dalam kerjasama, dan dapat menjadi sangat bermanfaat dan bermakna bagi pemajuan martabat manusiawi. Hal utama adalah terjadinya transformasi dalam sikap relasional dan pola pikir masyarakat yang berkepentingan. Olehnya, kehadiran para penggerak kerasulan sosial ekonomi harus dipandang sebagai anugerah dalam persekutuan gerejawi menurut dimensi komunikasi sosial ekonomi.

Simpulannya, marilah kita bersama Rasul St. Paulus, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu” (Fil 4:8-9).

* (Uskup Agung Kupang)

Pesan Akhir Tahun 2012 – Uskup Agung Kupang


Pesan Akhir Tahun 2012

Uskup Agung Kupang

Perjalanan hidup kita penuh dengan tantangan, bahkan kebingungan dan ketidak-pastian. Kita telah mendapat pengharapan yang pasti dalam diri Pribadi Yesus Kristus. Oleh karena itu, kita harus memandang perjalanan hidup kita dalam Cahaya ilahi yang bersinar dalam dunia karena penjelmaan Yesus Kristus. Kita semua bersyukur kepada Tuhan Allah atas anugerah yang sudah kita terima selama tahun lampau, terutama yang terungkap dalam sikap semua orang yang berkehendak baik dan berkenan kepada-Nya.

Di tengah aneka krisis kemanusiaan yang meliputi iman kepercayaan, sosial, ekonomi, politik dan budaya, umat Kristiani mendapat dorongan baru untuk mengupayakan pembaruan hati nurani. Pembaruan hati nurani kita berhubungan dengan sikap kita terhadap sesama. Kita belajar bagaimana Yesus Kristus bersikap terhadap kita: Dia baik dengan semua orang dan menghadirkan kebaikan bagi semua, tanpa membedakan.

Pergumulan dalam bidang sosial politik selalu mengundang pelbagai sikap mencari keuntungan. Nyatanya memang baik demikian, tetapi haruslah terbukti dalam membangun kesejahteraan bersama, agar kehidupan sosial politik kita semakin kuat dan mantap dalam menggerakkan kebersamaan yang damai sejahtera. Kepentingan dan keuntungan harus berfaedah bagi kemaslahatan bersama menurut tanggungjawab masing-masing. Pergumulan kepemimpinan masyarakat haruslah diupayakan dengan sikap dan tindakan yang berkarakter manusiawi, agar pesta demokrasi sesungguhnya membawa keadilan dan perdamaian.

Pergumulan sosial ekonomi harus membuka peluang bagi semua untuk membangun kemandirian hidup. Dengan demikian lapangan kerja yang terbuka bagi semua akan memantapkan kemampuan gerak sosial ekonomi bersama, terutama dalam menghadapi arus globalisasi yang semakin kuat. Oleh karena itu, pemerintah, dunia pasar dan masyarakat seluruhnya harus bekerjasama demi menumbuhkan kekuatan sosial ekonomi yang secara kolaboratif memerdekakan semua  orang dari aneka kekurangan. Solidaritas yang benar, yaitu kemandirian bersama, akan menjadi senjata pemungkas dalam menghilangkan kemiskinan dalam masyarakat kita.

Pergumulan sosial-budaya hendaknya mendorong pendidikan nilai dalam masyarakat kita. Tanpa pendidikan nilai yang baik dan benar, masyarakat kita selalu akan menghadapi pelbagai pertikaian serta perselisihan yang merugikan kebersamaan lingkungan hidup kita. Dengan pendidikan nilai yang membangun kemanusiaan yang adil dan beradab, masyarakat kita semakin  mampu menghindari pelbagai jenis dan bentuk kekerasan, diskriminasi dan korupsi dalam perjalanan hidup bersama. Tempat dan ruang utama pendidikan nilai adalah keluarga, karena di dalam keluarga manusia mengalami relasi manusiawi yang paling unggul, yaitu pendidikan sikap dan tindakan rela berbagi dalam suasana bersaudara.

Pergumulan bersama sebagai umat beriman dengan keyakinan yang berbeda merupakan anugerah kekayaan yang dianugerahkan Tuhan kepada masyarakat kita. Kerjasama antarumat beragama dalam membangun kebersamaan yang rukun dan saling menghormati hendaknya menjadi perhatian serta kepedulian utama masing-masing agama. Tanpa sikap saling menghargai dan saling menghormati seluruh perkembangan masyarakat kita akan merosot, hancur dan menjadi bencana yang sangat merugikan masyarakat kita. Kerukunan hidup antarumat beragama hanya mungkin terlaksana secara dinamis, jika semua penganut agama memahami agamanya masing-masing dan belajar menjadi kaya dengan nilai-nilai rohani yang tumbuh dalam agama berbeda dengan sikap saling menghormati.

Dalam seluruh perjuangan bersama, kita hendaknya memerhatikan kelestarian seluruh alam tercipta, agar lingkungan hidup kita semakin tersedia untuk menjamin kehidupan yang berkelanjutan secara manusiawi. Dengan demikian pembaruan hati nurani akan menjadi daya bersama yang kuat untuk membangun nilai-nilai kebangsaan, dengan mana kita mendorong dinamika kehidupan yang berselimutkan sikap rela berbagi dalam peradaban kasih. Umat kristiani wajib melibatkan diri untuk membangun kesejahteraan bersama, karena kenangan kelahiran Kristus sudah membubuhkan cahaya baru untuk menjadi terang dunia. Dengan berkarya dalam kejujuran dan penuh tanggungjawab, umat Kristiani menghadirkan serta menyebar-luaskan tanda-tanda Kerajaan Allah. Dengan melakukan karya kemanusiaan dalam lingkungan dunia kita, umat Kristiani menebarkan dan mengembangkan peradaban kasih, karena senjata Kristus adalah kasih persaudaraan.

Dengan pesan ini, saya mengucapkan “selamat menjalani Tahun Baru 2013”, masa yang dianugerahkan Tuhan Allah bagi kita untuk menemukan dan berbagi kasih karunia-Nya dalam perjalanan hidup bersama di dunia kita. Umat kristiani sadar akan kekuatan yang dianugerahkan oleh Cahaya Ilahi Kelahiran Tuhan Yesus Kristus, yang diutus ke dalam dunia untuk mewartakan dan mewujudkan peradaban kasih Bapa-Nya.

Kupang, 30 Desember 2012.

Salam hormat dan berkat,   +  Petrus Turang