Category Archives: Sekretariat

Roadmap Tahun Injil Orang Miskin (TIOM) 2014


“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”.
(Mt 5:3-10)

TAHUN  INJIL  ORANG  MISKIN
Keuskupan Agung Kupang

1. Dasar dan Tujuan TIOM
Pada tahun 2014 Keuskupan kita merayakan 25 Tahun keberadaan dan kedudukan sebagai Keuskupan Agung. Perjalanan persekutuan gerejawi di Keuskupan kita telah menciptakan dan mengayunkan langkah-langkah untuk menyusun kehadiran yang bermartabat sebagai Gereja setempat yang mendapat perutusan untuk menyampaikan Kabar Gembira dalam lingkungan hidup kita.

Pelbagai tantangan dan kesulitan, tetapi juga kegembiraan dan pengharapan sudah menyertai dan meliputi perjalanan gerejawi kita dalam kerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik. Nyatanya, pewartaan Kabar Gembira bagi kaum terpinggirkan (lemah, kecil dan miskin) belum sepenuhnya menyentuh kehadiran yang melibatkan pengembangan, peningkatan, pemberdayaan dan pencerdasan mutu hidup orang miskin !

Kerjasama pemberdayaan manusiawi nampaknya belum seluruhnya menunjukkan pertumbuhan mutu hidup yang saling memberdayakan sebagai saudara dan saudari yang bermartabat anak-anak Allah. Namun, pertumbuhan hidup iman dalam semangat bersaudara sudah menjadi suatu kesaksian yang memperbesar kerinduan persekutuan gerejawi kita akan mutu hidup yang bermartabat bagi semua orang.

Pengadaan serta pencapaian program sudah berjalan seiring dengan tanda-tanda perkembangan jaman dengan aneka tantangan dan pengharapan. Kehadiran para pelayan yang silih berganti telah menorehkan aneka jejak sebagai petunjuk arah dalam perjalanan bersama di tengah perubahan masyarakat yang demikian cepat dan mengagumkan. Oleh karena itu, Tahun Injil Orang Miskin bertujuan untuk membangkitkan, menggerakkan upaya-upaya yang melibatkan, mengembangkan, meningkatkan, memberdayakan dan mencerdaskan persekutuan gerejawi Keuskupan Agung Kupang, agar kegembiraan Injil semakin meliputi seluruh umat dalam semangat bersaudara, khususnya keseimbangan komunikasi sosial ekonomi yang berkelanjutan secara manusiawi di kalangan orang miskin.

2. Panggilan dan perutusan bersama
Pada tahun yang keduapuluh lima tegaknya Keuskupan Agung Kupang, persekutuan gerejawi kita akan merayakannya sebagai Tahun Injil Orang Miskin yang merupakan sebuah kelompok rentan dalam persekutuan gerejawi kita. Injil Yesus Kristus mewartakan bahwa “kabar baik disampaikan kepada orang miskin” sebagai bentuk perutusan yang harus terlaksana dalam persekutuan gerejawi.

Dasarnya adalah bahwa Kristus sendiri menyamakan diri-Nya dengan mereka yang miskin dan berkekurangan dalam pelbagai hal yang menyangkut hidup manusiawi. Dengan menjadi manusia Yesus Kristus bersolider dengan seluruh keberadaan manusiawi, kecuali dalam hal dosa, dan mengutamakan keberpihakan-Nya bagi kaum yang terpinggirkan dalam masyarakat: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mt 25:40).

3. Para pelayan evangelisasi
Para imam dan pemimpin umat setempat menyadari dengan sungguh hati bahwa perhatian dan peduli orang miskin harus menjadi utama dalam karya pastoral di tahun rahmat Keuskupan kita. Kesungguhan hati ini mudah-mudahan mampu menggariskan program kerjasama yang secara efektif dan kreatif menggerakkan kebersamaan persekutuan gerejawi kita untuk mengadakan perubahan yang saling memberdayakan hidup.

Tugas dan tanggungjawab kita bersama untuk menemukan kemampuan serta peluang yang tersedia setempat dan menetrapkan kepedulian bersama dalam bentuk program kerja pastoral yang sepenuhnya memberdayakan hidup orang miskin. Anggota-anggota umat dalam persekutuan gerejawi keuskupan kita yang berkemampuan (kedudukan dan kepemilikan) hendaknya menyadari perutusan bersaudara dan siap sedia membangun kemurahan hati demi kebaikan saudara-saudari yang miskin dan berkekurangan.

Orang-orang yang miskin dan berkekurangan adalah saudara dan saudari kita yang berjalan bersama dalam persekutuan gerejawi kita. Kehadiran mereka tidak perlu menjadi beban belas kasih kita, tetapi sebaliknya harus dipandang sebagai panggilan untuk menggerakkan hati kita menuju kerjasama bersaudara yang saling menggembirakan dalam perjalanan hidup ini. Kehadiran kaum miskin yang tanpa kepedulian merupakan “tanda-tanda kedosaan” yang perlu diperbaiki dan dimurnikan melalui sikap dan tindakan bersaudara yang baik dan benar. Kelemahan dalam peduli akan kaum miskin harus dipandang sebagai “kemalangan manusiawi” dalam Gereja kita yang mendapat perutusan untuk menyampaikan kabar baik bagi kaum miskin.

Oleh karena ini, perayaan 25 Tahun Keuskupan kita mudah-mudahan menjadi waktu yang istimewa untuk mengadakan perubahan dalam sikap dan perilaku kita bersama saudara-saudari yang berkekurangan di lingkungan hidup kita (Paroki, Stasi, Kapela dan Kelompok Umat Basis). Sri Paus Fransiskus sejak terpilihnya selalu mengingatkan Gereja akan panggilan untuk peduli bagi orang miskin dan sudah mencanangkan tema Masa Puasa 2014 untuk peduli orang miskin.

Para Pastor dan Dewan Pastoral Paroki mempunyai kewajiban untuk menelisik dan menemukan jalan keluar, agar kaum miskin di lingkungan pelayanannya men- dapat bimbingan serta perte- manan dalam mendorong pemberdayaan mutu hidupnya. Kewajiban pastoral ini bukan sesuatu yang ditambahkan, tetapi melekat (‘built-in’ ) pada perutusan pastoral, kapan dan di mana saja. Keberpihakan atau pengutamaan bagi kaum miskin harus menjadi bagian utuh dari seluruh pewartaan Gereja, karena iman akan Yesus Kristus hanya bermakna, bila kita melakukan perbuatan kasih, khususnya terhadap kaum terpinggirkan dalam hidup masyarakat.

4. Program Strategis Tahun Injil Orang Miskin (TIOM):

  • 1. Ketetapan Uskup setempat
  • 2. Temu Pastoral para Imam, Dewan Pastoral Paroki bersama para Hidup Bakti (Januari 2014)
  • 3. Penyusunan Program Strategis  Keuskupan (Januari-Pebruari 2014)
  • 4. Penetrapan dalam Program Paroki (Maret-April 2014)
  • 5. Pelaksanaan Kegiatan TIOM di Paroki (Mei-Oktober 2014)
  • 6. Evaluasi TIOM (November-Desember 2014)

5. Hasil Kesepakatan Temu Pastoral Keuskupan Agung Kupang
Para Pastor dan Dewan Pastoral Paroki bersama para anggota Hidup Bakti se-Keuskupan Agung Kupang telah menyelenggarakan Temu Pastoral dan Seminar Evangelii Gaudium. Dalam Temu Pastoral tersebut, para peserta telah mendalami sejenak dan menyepakati pokok-pokok pengalaman dan pengharapan dalam hubungan dengan tujuan dari Tahun Injil Orang Miskin.

Pemahaman bersama mudah-mudahan membuahkan komitmen pastoral bersama untuk menetrapkan apa yang disebut “Injil Orang Miskin”, agar persaudaraan sungguh nyata dalam komunikasi sosial ekonomi yang berkembang menurut tuntutan perkembangan jaman. Nyatanya, perlu suatu gerakan hati bersama untuk masuk ke dalam pusaran perutusan bagi pemberdayaan orang miskin. Keterbukaan serta kemurahan hati dari semua pihak, utamanya dari para pemimpin, harus menjadi andalan awal dalam menumbuhkan serta mengembangkan peduli bersama akan kaum miskin rohani dan jasmani.

Hal ini menuntut kecakapan pastoral bersama dalam semangat bersaudara, agar kemampuan yang tersedia setempat dapat digerakkan menuju suatu perubahan yang berfaedah bagi pemberdayaan hidup sesama yang berkekurangan:
1.  Keadaan umum keluarga-keluarga miskin: setiap paroki mempunyai pengalaman serta pergumulan akan “orang miskin”, yang pada umumnya terhubungkan dengan keadaan material. Kegembiraan hadir, karena persekutuan gerejawi tanggap dan peka terhadap saudara dan saudari yang berada dalam kekurangan. Banyak kegembiraan yang tercatat dalam kaitannya dengan peduli dan perhatian akan keluarga-keluarga miskin di paroki. Kegembiraan itu meliputi kesadaran diri dan sikap berbela rasa dengan saudara dan saudari kita yang amat berkepentingan dalam memerangi keadaan miskin. Banyak juga upaya-upaya bersama untuk menghadirkan kegembiraan hidup di kalangan orang miskin, yang mewujud dalam program pelayanan Paroki dan Tarekat Hidup bakti.
2. Pekerjaan serta mata pencaharian keluarga-keluarga miskin: keluarga-keluarga miskin untuk sementara merasakan kecukupan dalam memenuhi kebutuhan mendasar manusiawi. Pangan hasil pekerjaan cukup tersedia. Banyak juga uluran tangan kasih bagi saudara-saudari yang berkekurangan. Persekutuan gerejawi setempat berupaya untuk memerhatikan keluarga-keluarga yang berkekurangan melalui kejasama pelatihan dan kerjasama gotongroyong. Nampaknya, keadaan persekutuan gerejawi kita tidak membiarkan sebagian umatnya merasa terasing, karena keadaan yang disebut “miskin”.
3. Keadaan perumahan keluarga-keluarga miskin: Persekutuan gerejawi setempat peduli akan tempat tinggal dengan program bedah rumah bagi yang berkekurangan dalam perumahan yang sehat. Sentuhan bersama dalam soal papan akan menjadi tanda kegembiraan hidup dalam perjalanan bersama.
4. Kesehatan dan hidup gizi keluarga-keluarga miskin: orang-orang sakit dan tertimpa gizi buruk di paroki mendapat perhatian yang memadai melalui kunjungan dan bantuan seperlunya. Pendidikan hidup sehat juga mendapat perhatian, agar hidup gizi dapat terpenuhi dengan benar, biarpun tidak berlangsung lama karena keterbatasan sumber daya bersama. Ketersediaan pangan yang cukup dan sehat pun tidak luput dari perhatian pastoral, mislanya dalam bentuk lumbung pangan.
5. Pendidikan dalam keluarga-keluarga miskin:  Persekutuan gerejawi setempat juga memberikan perhatian pada pendidikan anak-anak dan orang muda. Pelatihan-pelatihan dijalankan sesuai dengan sumber daya yang tersedia setempat. Terdapat juga gerakan untuk menghimpun biaya pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu, baik formal maupun informal. Para orangtua perlu memiliki kesadaran untuk memandang masa depan anak-anaknya melalui dunia pendidikan.
6. Peluang-peluang yang tersedia pada keluarga-keluarga miskin: kerjasama untuk membangun hidup lebih baik cukup berkembang dalam persekutuan gerejawi setempat, seperti tabungan bersama dalam bentuk koperasi. Pelatihan ketrampilan perempuan yang membuka peluang kerja bagi kaum perempuan. Para petani serta peternak juga mendapatkan bimbingan melalui pembuatan pupuk bokasi atau pun contoh pertanian organik.
7. Program Pemerintah bagi keluarga-keluarga miskin: Persekutuan gerejawi setempat tidak menutup mata terhadap program-program dalam masyarakat lingkungan hidupnya, baik oleh pemerintah maupun kelompok swadaya. Keterlibatan umat dalam program kesejahteraan ini juga menunjukkan peduli akan perbaikan hidup bersama.
8. Peduli pastoral bagi keluarga-keluarga miskin: Paroki-paroki memang peka akan perjuangan orang miskin. Program sejahtera bersama selalu hadir dalam rencana pastoral di paroki. Persoalannya, apakah semua umat di paroki memang sadar akan panggilan dan perutusan Injil Orang Miskin. Oleh karena itu, tetap perlu penyadaran bersama, khususnya dalam upaya untuk menetrapkan Ajaran Sosial Gereja dalam persekutuan gerejawi setempat.

6. Rencana Strategis bagi pemberdayaan keluarga miskin dalam semangat bersaudara :
Kita sadar bahwa orang miskin adalah saudara-saudari kita. Mereka sama bermartabat manusiawi dengan kita yang menyebut diri berkecukupan. Kita harus mengayunkan langkah bersama untuk berbuat sesuatu sebagai kesaksian iman. Itulah tanggungjawab iman Kristiani yang membuat kita bersekutu dan peduli satu sama lain. Kehadirannya dalam lingkungan gerejawi kita sudah memperkaya kebersamaan kita, tetapi kita berkewajiban untuk menjalin kerjasama, agar mutu hidup mereka mengalami perkembangan yang lebih manusiawi.

Salah satu ucapan syukur kita yang berhubungan dengan ulangtahun keuskupan kita adalah peduli istimewa akan pemberdayaan hidup orang miskin yang berada di antara kita. Kita tidak boleh gagal untuk ikut serta membangun kehidupan yang lebih baik bersama mereka. Perayaan keuskupan kita yang teristimewa adalah bahwasanya kita peduli akan perubahan hidup orang miskin. Segala bentuk perayaan yang “memisahkan satu sama lain” harus berhenti di hadapan saudara-saudari kita yang bergelimangan dalam kemiskinan.

Kebersamaan hidup kita yang bersahaja dapat menghimpun kekuatan bersama untuk berbagi hidup dengan orang miskin. Dengan semangat bersaudara, kita mampu berbuat sesuatu yang sejatinya berfaedah bagi perbaikan hidup orang miskin. Oleh karena itu, marilah kita bangkit dan bergerak bersama untuk mengentaskan saudara-saudari kita dari kemiskinan, agar mereka berdaya dan cerdas dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Persekutuan gerejawi kita bertekad untuk menyatukan kekuatan setempat guna mencapai hasil-hasil nyata dalam hal-hal berikut:
1. Mata pencaharian dan pekerjaan: Paroki-paroki mengupayakan pelatihan kerja bagi kaum muda, agar mereka tidak mudah terpengaruh untuk mencari pekerjaan di tempat yang jauh dengan segala akibat yang merendahkan martabatnya. Pekerjaan di bidang pertanian dan peternakan juga mendapatkan peduli yang efektif, agar pertanian/peternakan selaras alam semakin menjadi kepedulian bersama. Umat Katolik mengalami kegembiraan hidup dalam bertanam pohon buah-buahan dan tanaman perdagangan, di samping pola tanam pangan seperti jagung, padi dan ubi-ubian.
2. Perumahan sehat: Program bersama untuk menghadirkan rumah sehat bagi saudara-saudari kita di paroki/stasi/kapela/ KUB. Perlu suatu rencana yang terpahami dan tersepakati oleh seluruh umat di Paroki, agar gerakan manusiawi ini sungguh menggerakkan hati untuk berbuat dengan murah hati, tanpa paksaan. Kita berbagi kegembiraan Injil Orang Miskin sebagai penegasan iman Kristiani yang berbuah efektif dan kreatif.
3. Kesehatan dan gizi: Paroki harus masuk ke dalam perjuangan orang akan suatu kehidupan yang sehat dan bergizi. Pengembangan hidup pertanian dan peternakan yang selaras alam, agar hidup orang yang berkekurangan lambat laun mengalami perbaikan dalam mutu kesehatannya. Kaum miskin harus bekerja demi kesehatan hidup dan bukan saja bekerja untuk memenuhi kebutuhan pasar dan menggantikan pemenuhan kebutuhan dasar manusiawi dengan hal-hal yang instan dan siap saji.
4. Pendidikan anak-anak dan orang muda: Pendidkan anak-anak di kalangan keluarga-keluarga miskin mendapat perhatian yang seimbang dalam persekutuan gerejawi setempat, agar di masa depan mereka mampu menghadirkan perubahan hidupnya. Melalui pendidikan yang benar, keluarga-keluarga yang berkekurangan dapat mengalami perubahan dalam anak-anaknya. Orang muda perlu pendidikan dan pelatihan kerja yang sesuai dengan sumber daya yang tersedia setempat.
5. Kerjasama dengan program Pemerintah: Umat Katolik harus lebih tersedia untuk membangun dan melibatkan diri dalam program kesejahteraan yang diprakarsai oleh pemerintah. Para pemimpin umat setempat harus belajar cakap untuk memahami program yang tersedia setempat dan menggerakkan umatnya untuk melibatkan diri secara bertanggungjawab.
6. Pembangunan pertanian/peternakan yang berkelanjutan: Umat setempat yang bermata pencaharian bertani atau beternak hendaknya belajar bagaimana menjaga, memelihara dan merawat alam ciptaan, agar alam dapat memberikan hasil panenan yang berkecukupan bagi penghidupan keluarga, terutama dalam memenuhi pangan, pendidikan dan kesehatan.
7. Pencerdasan dalam pekerjaan kelautan bagi masyarakat pesisir: Pengembangan usaha-usaha penghidupan para nelayan, seperti pengembangan rumput laut, pengadaan pukat dan alat penangkapan ikan, termasuk kerjasama pemasaran.
8. Kerjasama dalam tabungan: Koperasi umat di paroki perlu dipelihara dan dikembangkan dengan baik dan benar. Persekutuan gerejawi setempat hendaknya belajar membangun hidup saling percaya dalam hal komunikasi sosial ekonomi, agar kerjasamanya dapat membantu perbaikan hidup orang miskin di masa depan. Hidup dengan sikap menabung harus menjadi hal utama dalam upaya memerangi kemiskinan dalam masyarkat kita.
9. Pengembangan usaha-usaha produktif bersama: Persekutuan gerejawi setempat tahu dan sadar akan kemampuan sumber daya setempat untuk menggerakkan komunikasi sosial ekonomi yang produktif. Kesadaran ini harus diperkembangkan dan dilengkapi dengan sarana-sarana yang memadai, utamanya dalam pola berpikir, agar peluang-peluang untuk memajukan hidup orang miskin dapat tumbuh dan berkembang secara produktif dalam sikap solidaritas Kristiani yang bermutu ekonomis.
10. Kerjasama antar Paroki dalam upaya pemberdayaan orang miskin:  Paroki-paroki harus membangun kerjasama yang bermutu dalam upaya pemberdayaan hidup orang miskin. Kerjasama ini hendaknya bergerak dalam sumber daya insani, sumber daya prasarana usaha dan sumber daya pemasaran. Persekutuan gerejawi yang bekerjasama dalam pemberdayaan orang miskin akan menemukan dirinya sebagai persekutuan para murid Yesus Kristus yang hidup karena komunikasi cintakasih yang kreatif dan efektif.

Di atas semuanya, persekutuan gerejawi harus menyadari bahwa karya cintakasih orang miskin berasal dari keyakinan perutusan Kristiani, yaitu berbagi kegembiraan hidup yang dianugerah Tuhan secara beragam dalam perjalanan hidup bersama. Setiap umat Katolik, bagaimana pun keadaan, kedudukan dan kepemilikannya, bertanggungjawab atas terwujudnya solidaritas Kristiani dalam komunikasi barang-barang duniawi.

Orang miskin dalam persekutuan gerejawi kita punya martabat yang sama dengan siapa saja, dan mereka bukanlah “sampah” dalam masyarakat, yang perlu remah-remah yang tersisa dari keserakahan dan ketamakan sesamanya. Orang miskin adalah tanggungjawab bersama dalam persekutuan gerejawi kita, karena mereka pun adalah pelaku evangelisasi. Oleh karena itu, Injil Orang Miskin adalah kesadaran baru dalam persekutuan gerejawi kita. Itulah cara melakukan evangelisasi baru dalam dunia yang terpecah akibat individualisme dan konsumerisme yang sering melampaui tapal batas manusiawi.

7. Kehadiran bersaudara orang kaya
Orang kaya dalam persekutuan gerejawi adalah anugerah Tuhan. Kehadirannya menjadi tanda keberagaman dalam persekutuan gerejawi menurut dimensi sosial ekonomi. Orang kaya memiliki hati yang sama dengan orang miskin. Dalam perihal sosial ekonomi kedua hati ini dapat bercorak murah hati atau serakah. Keduanya perlu penyadaran kewajiban iman menurut petunjuk dan pedoman yang digariskan dalam Ajaran Sosial Gereja. Keduanya harus belajar bagaimana menjadi murid-murid Kristus untuk mengembangkan komunikasi sosial ekonomi dalam keseimbangan manusiawi.

Orang kaya memiliki harta, bakat, ketrampilan serta hubungan usaha yang dapat memenuhi serta memperkaya lingkungan sahabat-sahabat Yesus Kristus. Pada dasarnya, orang kaya serta orang miskin yang berjumpa dengan Kristus masuk ke dalam tanggungjawab bersama untuk saling membantu dan saling melengkapi dalam perjalanan bersama sebagai saudara dan saudari. Yesus sendiri selama perjalanan evangelisasi di atas bumi menyambut dan bekerjasama dengan siapa saja, juga dengan orang-orang kaya, agar kehadiran-Nya menjadi bagian utuh dari keberadaan-Nya yang melayani semua orang secara manusiawi.

Yesus berjalan berkeliling sambil berbuat baik bagi semua orang, khususnya mereka yang memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus dalam hal makanan, kesehatan, martabat dan pembebasan. Oleh karena itu, orang-orang kaya yang menyebut dirinya murid-murid Kristus mudah-mudahan selalu siap sedia untuk melakukan perintah baru, yaitu cinta kasih, guna mendukung kebenaran tentang hidup manusia, khususnya kemanusiaan saudara-saudari yang miskin dan berkekurangan.

Orang kaya yang tidak merasa terusik oleh keadaan orang miskin bukanlah murid-murid Kristus yang sejati !

8. Tindak-lanjut di Persekutuan Gerejawi Setempat: Paroki
Pada galibnya, Tahun Injil Orang Miskin merupakan bagian hidup panggilan serta perutusan para murid Kristus untuk membangun suatu keseimbangan hidup. Oleh karena itu pentinglah kehadiran serta pemahaman seluruh persekutuan gerejawi setempat, agar masing-masing melibatkan diri dan menemukan peran dalam upaya menggerakkan hati demi keseimbangan hidup, khususnya komunikasi sosial ekonomi.

Persekutuan gerejawi setempat membangun kesadaran diri guna menggerakkan seluruh anugerah Tuhan (pengetahuan, ketrampilan, kepemilikan dan sikap hidup) demi kebaikan bersama, terutama mereka yang berada dalam kekurangan material, moral dan spiritual. Persekutuan gerejawi setempat, dalam hal ini Paroki, mudah-mudahan siap hati untuk mengisi Tahun Injil Orang Miskin, sebagai berikut:
1).  Paroki bersama seluruh lingkungan pelayanan mewujud-nyatakan program “roadmap” yang sesuai dengan keadaan dan tanggap atas kebutuhan “orang miskin” untuk mengalami perbaikan serta perubahan hidup
2). Program “roadmap” paroki harus menjadi bagian utuh dari seluruh rencana pastoral di paroki, terpahami bersama dan melibatkan seluruh umat di paroki
3).  Permulaan komunikasi roadmap paroki adalah penyampaian kepada umat dan penyadaran umat, agar umat menjadi paham, aktif dan kreatif untuk melibatkan diri dalam upaya menghadirkan kegembiraan Injil di tengah perjuangan hidup persekutuan gerejawinya
4).  Gerakan penyadaran Injil Orang Miskin secara kreatif yang tertuang dalam roadmap paroki harus mendorong komitmen bersama untuk melakukan evangelisasi pemajuan hidup manusiawi menurut dimensi sosial ekonomi
5).  Upaya-upaya nyata yang diprogramkan dalam “roadmap” paroki harus terbuka bagi semua umat untuk berperan aktif, agar persaudaraan dalam komunikasi sosial ekonomi semakin menjadi sikap hidup dan tindakan hidup sehari-hari dalam persekutuan gerejawi setempat
6).  Kesejahteraan dan kegembiraan hidup di paroki hanya dapat terwujud, jika persekutuan gerejawi peka dan peduli akan hidup orang miskin, dan demikian Gereja mengalami kesahajaan hidup yang menyaksikan tanda Kerajaan Allah di dalam persekutuan gerejawi setempat
7).  Roadmap paroki “Injil Orang Miskin” adalah bentuk dan sarana pendidikan iman dalam solidaritas kristiani menuju kehadiran Gereja setempat yang “berwatak roh kemiskinan dan punya keberpihakan bersama orang miskin”.

9. Penutup
Roadmap TIOM Keuskupan Agung Kupang ini tersusun dalam bentuk rumusan berdasarkan pemikiran dasar Ajakan Apostolik “Evangelii Gaudium” Sri Paus Fransiskus dan perenungan Temu Pastoral yang dihadiri oleh para imam, para Hidup Bakti dan perwakilan Dewan Pastoral Paroki. Ulasan TIOM ini dimaksudkan menjadi sebuah bahan dasar atau pedoman bagi program pembaruan komunikasi iman dari hati ke hati di masing-masing paroki dalam upaya bersama untuk menggerakkan keadaan inklusif orang miskin dalam hidup persekutuan gerejawi dan masyarakat setempat.

Selamat berkarya, melayani, mengembangkan dan mencerdaskan kesaksi- an hidup iman dalam Gereja “yang berwatak roh kemiskinan dan berbagi bersama orang miskin”. Semoga Tahun Injil Orang Miskin menjadi berkat bagi perjalanan persekutuan gerejawi di Keuskupan Agung Kupang yang berusia 25 tahun. Dalam semangat bekerjasama kolaboratif bersaudara, kita dapat mengalami kehadiran orang-orang miskin yang bermutu saudara dan saudari kita.

Persaudaraan adalah dasar dan jalan menuju perubahan hidup orang miskin. Persaudaraan itu bercorak “ragam”, dan oleh karena itu, persaudaraan memerlukan sikap rela berkorban dalam kemurahan hati yang bergembira dan berkelanjutan secara manusiawi berdasarkan komunikasi iman yang mengakui Yesus Kristus Yang Tersalib dan Yang Bangkit !

Camplong, 16  Januari  2014