Category Archives: Renungan

Tahun Injil Orang Miskin (TIOM) 2014: PENJELMAAN SABDA MELALUI POLA 3M


Oleh Kanis Kusi – Ketua Komisi PSE Keuskupan Agung Kupang

 Paus Fransiskus dalam surat apostoliknya “Evangelii Gaudium/EG”24 Nopember 2013 (Kegembiraan Injil) mengatakan : “Bagi saya adalah lebih baik sebuah Gereja yang peot, yang terluka dan bernoda, karena ia berjalan ke luar jalan-jalan, daripada sebuah Gereja yang sakit, yang karena ketertutupan dan kenyamanannya, terpaku pada keamanan diri sendiri” (EG Nr. 49).

Gereja adalah himpunan orang-orang yang digerakkan untuk berkumpul oleh Firman Allah, yakni berhimpun bersama untuk membentuk Umat Allah  dan yang diberi santapan dengan Tubuh Kristus, untuk menjadi Tubuh Kristus” (Bdk. Katekismus Gereja Katolik, art. 777).

Sebagaimana Kristus melaksanakan rencana penyelamatan Bapa-Nya di dalam dan bagi dunia, demikian juga Gereja – Keuskupan Agung Kupang –  sebagai persekutuan umat beriman yang percaya kepada-Nya melaksanakan tugas yang satu dan sama yakni “mewujudkan kegembiraan” di dalam dan bagi umat, khususnya orang-orang miskin di paroki-paroki se-Keuskupan Agung Kupang.

Oleh karena itu, pengabdian Gereja sebagai perwujudan panggilan serta perutusan Kristus dalam dunia ini menuntut keterlibatan dan tanggung jawab langsung demi utuhnya hidup manusia baik secara perorangan maupun secara bersama-sama. Pemimpin umat, sebagai pelayan Gereja (para imam, hidup bakti, dewan pastoral paroki dan pusat koordinasi pastoral/komisi), pertama-tama harus merupakan tanda kasih Allah bagi manusia, khususnya orang-orang miskin di paroki-paroki se-Keuskupan Agung Kupang.

Sehubungan dengan itu, dalam dan melalui TIOM, pemimpin umat (para imam, hidup bhakti, dewan pastoral paroki, pusat koordinasi pastoral/komisi) di Keuskupan Agung Kupang diharapkan mampu menjelmakan Sabda (baca : Evangelii Gaudium) melalui karya-karya nyata yang sungguh menjawab kebutuhan orang miskin. Fokus perhatian Keuskupan Agung Kupang dalam TIOM adalah menghadirkan kegembiraan iman yang bermutu dan efektif agar orang-orang miskin mempunyai daya dan kemampuan untuk memperbaiki nasib sendiri. Kepada mereka Gereja – Keuskupan Agung Kupang –  mewartakan kabar gembira tentang Kerajaan Allah, seperti yang sudah dilakukan Yesus sepanjang hidup-Nya. Yesus memilih hidup bersama orang kecil untuk menghadirkan Kerajaan Allah dan menanggung segala beban hidup manusia (Bdk. Mat 11:28)

Manusia sebagai gambar dan citra Allah memiliki talenta dan kemampuan  untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah. Di dalam hati nuraninya, manusia menemukan hukum yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan perbuatan baik dan menghindari perbuatan yang jahat. Sebab dalam hatinya, manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah (Bdk. Gaudium et Spes art. 16). Atas dasar hati nurani inilah, manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah melalui tindakan dan karyanya di dunia.

Dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial, dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat pembawaannya (Gaudium et Spes art. 12). Dalam dirinya, manusia membawa nilai-nilai hidup yang berasal dan bersumber dari Allah. Nilai-nilai ini menjadi bermakna manakala manusia membangun komunikasi sosial yang efektif dengan sesama. Melalui komunikasi sosial dengan sesama dan lingkungan hidup, manusia berkembang dalam segala bakat pembawaannya dan mampu menanggapi panggilannya untuk membawa kegembiraan  bagi sesama, khususnya bagi orang miskin.

Allah menciptakan manusia bukan untuk hidup sendiri-sendiri, melainkan untuk membentuk kesatuan sosial. Sebab, Sabda Yang Menjelma telah menghendaki menjadi anggota rukun hidup manusiawi. Sang Sabda menguduskan hubungan-hubungan antar manusia, terutama hubungan keluarga, sumber kehidupan sosial. Dalam pewartaan-Nya, Dia memerintahkan dengan jelas kepada manusia supaya mereka berperilaku sebagai saudara satu sama lain. Bahkan Dia sendiri hingga wafat-Nya, mengorbankan Diri bagi semua orang, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabat-Nya” (Yoh. 15 : 13).

Inkarnasi Allah, Sabda menjadi manusia menunjukkan solidaritas Allah dengan manusia, dengan “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil. 2:7), menunjukkan semangat belarasa, hati yang tergerak oleh belas kasihan kepada mereka yang menderita (Mat. 9:36), dan mengupayakan hidup baru dan berkelimpahan dengan membawa kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi tawanan, penglihatan bagi orang buta, dan pembebasan bagi orang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Bdk. Yes 61 : 1-2 dan Luk. 4 : 18-19). Dalam penjelmaan-Nya, Sang Sabda telah menyatukan diri dengan setiap orang. Sang Sabda telah bekerja memakai tangan manusiawi, Dia berpikir memakai akal budi manusiawi, Dia bertindak atas kehendak manusiawi, Dia mengasihi dengan hati manusiawi (Bdk. Gaudium et Spes art. 22).

Inilah wujud dan ungkapan keberpihakan Allah untuk melibatkan diri-Nya dalam hidup manusia, supaya manusia berkembang dalam kebersamaan-Nya dan cerdas dalam memilih dan menentukan arah hidupnya yang sesuai, bermakna dan bernilai.

Tahun Kegembiraan Injil bagi Orang Miskin (Evangelii Gaudium) adalah Sabda yang menjelma dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindak Gereja Keuskupan Agung Kupang. Dan dengan demikian mampu memberikan kesejahteraan rohani dan jasmani bagi orang miskin, sebagaimana Sabda yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.

Gerak turun Sang Sabda (inkarnasi) menjadi inspirasi bagi gerak TIOM dalam menjelmakan Evangelii Gaudium melalui kegiatan-kegiatan peduli orang miskin di wilayah pelayanan Keuskupan Agung Kupang. Penjelmaan itu harus nampak dan hadir melalui terciptanya mata pencaharian dan pekerjaan, perumahan sehat,  kesehatan dan gizi, pendidikan anak-anak dan orang muda, kerja sama dengan  program pemerintah, pembangunan pertanian/peternakan yang berkelanjutan,  pengembangan potensi kelautan bagi masyarakat pesisir, kerja sama dalam tabungan (koperasi), pengembangan usaha-usaha produktif bersama serta kerja sama antar paroki dalam upaya pemberdayaan orang miskin di paroki se- Keuskupan Agung Kupang. TIOM sebagai tahun penuh rahmat adalah bagian dari refleksi, gerakan tobat, solidaritas dan bela rasa untuk menghadirkan Sabda menjadi daging di tengah-tengah realitas kehidupan umat Keuskupan Agung Kupang, khususnya orang miskin yang ada di paroki.

TIOM membantu Gereja Keuskupan Agung Kupang untuk menjadi sarana penggerak dan gerakan Penjelmaan Sabda bagi hidup manusia untuk semakin cerdas dalam membaca realitas kehidupan umat di Keuskupan Agung Kupang, di mana umat beriman semakin melibatkan diri, mengembangkan dan mencerdaskan dalam memenuhi kebutuhan hidup orang-orang miskin sesuai tanda-tanda jaman. (Bdk.GES art 1).

Sebagaimana gerak turun dari Penjelmaan Sabda yang tinggal dan hadir dalam realitas pergumulan hidup manusia, TIOM sebagai sarana dan jalan baru pengembangan hidup manusia mengutamakan pola karya pastoral 3M : “Melibatkan, Mengembangkan, dan Mencerdaskan sesuai cara bertindak Yesus.  Pola 3M ini terinspirasi oleh misteri penjelmaan Allah dalam hidup manusia, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14).

Misteri penjelmaan Allah merupakan wujud dan ungkapan keberpihakan Allah untuk melibatkan diri-Nya dalam hidup manusia, supaya manusia berkembang dalam kebersamaan-Nya dan cerdas dalam memilih dan menentukan arah hidupnya yang sesuai, bermakna dan bernilai.

MELIBATKAN berarti menjumpai, hadir secara bermutu bagi orang lain, terutama orang-orang miskin yang berada di sekitar kita (Keluarga, KUB, Kapela, Paroki) sehingga secara cerdas dan bermutu mengenal keadaannya yang sesungguhnya. Mengajak mereka, orang-orang miskin dengan kemampuan yang ada padanya untuk terlibat bersama dalam membangun kehidupan yang lebih menggembirakan. Keterlibatan membutuhkan “keterpanggilan dan ketergerakan hati” dari para pemimpin umat, baik para imam, para hidup bakti/tarekat, dewan pastoral paroki maupun pusat koordinasi pastoral/komisi untuk memperhatikan saudara-saudari yang berada dalam kekurangan.

MENGEMBANGKAN berarti meningkatkan kualitas hidup umat secara utuh, terutama orang miskin, dengan bertumpu pada nilai-nilai dan kearifan hidup umat setempat untuk berjalan bersama memperbaiki lingkungan hidup. Kualitas hidup mencakup pola pikir, pola sikap dan pola tindak umat setempat yang berlandaskan nilai-nilai : solidaritas, tanggungjawab, saling percaya, keterbukaan, kejujuran, kerja sama, keadilan, kedamaian, pengorbanan, kesetiaan dan cinta kasih.

MENCERDASKAN berarti memberdayakan diri, secara pribadi dan bersama-sama sehingga mampu memilih dan menentukan arah kehidupan yang sesuai, bermakna dan bernilai secara berkelanjutan. Juga kecerdasan hati yang bisa berbagi dan menghargai berbagai pengalaman yang membahagiakan agar mampu secara pribadi maupun bersama-sama mengatasi berbagai kesulitan hidup orang miskin. Belajar bersahaja agar terbuka hati untuk melihat kebutuhan orang miskin serta menjadi saudara satu sama lain dan saling memperhatikan.

Manusia diciptakan dan dipanggil untuk berjumpa sepenuhnya dengan semua ciptaan menurut model dari Sabda Yesus Kristus yang masuk ke dalam dunia dengan menjadi “sama seperti kita, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr, 4.15). Kehadiran Sabda yang menjadi manusia mengarahkan manusia untuk cerdas dan kreatif mewujudkan nilai-nilai kemanusiaannya dalam membangun komunikasi sosial.

Kerja sama bersaudara dalam TIOM seturut Sabda yang Menjelma Menjadi  Daging dengan daya-daya hidup (nilai-nilai ilahi) yang semakin berkembang dalam diri umat di wilayah Keuskupan Agung Kupang : saling memperhatikan, saling menghormati, saling menghargai, saling mendukung, menjadi saudara satu sama lain, menjadi tolak ukur arah dan tujuan dari TIOM. Dengan demikian perwujudan pastoral 3M : Melibatkan, Mengembangkan dan Mencerdaskan, menjadi pola dan jalan baru Peduli Orang Miskin untuk hidup sejahtera rohani dan jasmani di Keuskupan Agung Kupang.

Percayalah …!! “Yang dinilai Allah, bukan seberapa besar hasil yang dicapai dalam “DREAM”, tapi seberapa besar KESETIAAN kita untuk tetap mencapainya dalam “DESTINY”. Semoga.

Sumber inspirasi :

  • Kompendium Ajaran Sosial Gereja (ASG), 2009
  • Konpernas Komisi PSE KWI XXII, Sept. 2011
  • Retret Sosial (Retsos) Penggerak Kerasulan PSE Regio Nusra, Nop. 2012.
  • Seminar Evangelii Gaudium dan Temu Pastoral Keuskupan Agung Kupang, Jan. 2014

 

Renungan Akhir Tahun 2013


 

Salam dalam kasih Yesus Kristus

Saudara saudara perempuan dan laki-laki terkasih,

Keadaan kita

Di tengah terpaan kesulitan hidup sosial ekonomi, kita telah merayakan Tahun Iman dan Natal 2013 dengan penuh syukur, seraya dengan penuh pengharapan menyambut kehadiran Tahun 2014. Perjalanan kita sebagai anggota masyarakat dan orang beriman telah mengalami aneka peristiwa yang menggugah nilai-nilai kemanusiaan. Kita mengalami aneka gejolak sosial ekonomi, budaya dan politik, seperti persoalan bahan pangan, upah pekerja, korupsi politik, hasil usaha tani dengan harga merosot, gerakan sosial yang sarat dengan kekerasan serta lapangan kerja yang memperbudak sebagian masyarakat sampai dengan perdagangan manusia, berbarengan dengan gejolak alam yang tidak pasti.

Di samping itu, masyarakat kita sedang bergerak menuju perhelatan demokarasi Pemilu dan Pilpres 2014. Pengalaman akan keadaan sosial ekonomi, yang mengancam pasar dan keuangan secara mendunia, memperlihatkan kerja sama sosial ekonomi yang terperangkap dalam keadaan yang berbahaya bagi kesejahteraan manusia. Kesemuanya sangat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan secara manusiawi. Keluarga-keluarga merasakan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan yang layak, yang berdampak pada pendidikan dan kesehatan.

Tantangan Hidup Kita

Kita menyaksikan bagaimana pemerintah serta pemerhati sosial ekonomi masyarakat berupaya menemukan kebijakan untuk menggerakkan kepercayaan masyarakat. Nyatanya, banyak kalangan masyarakat kita terperangkap dalam praktek-praktek jangka pendek yang belum meyakinkan rasa aman dalam mengelola penghidupan dan hidupnya. Kerjasama manusiawi tidak terjadi segera, karena masing-masing orang atau kelompok mencari keamanan untuk mempertahankan diri. Janji-janji politik tetap unggul dalam tebar pesona dengan sedikit dampak dalam proses perubahan menuju kesejahteraan bersama. Tanda-tanda kegelisahan sosial ekonomi sedang mengitari perjuangan hidup masyarakat kita. Peduli manusia nyatanya hanya bercorak sementara, karena kebijakan politik tidak berani menegaskan keberpihakan yang memberdayakan rakyat. Tantangan-tantangan di atas ini sangat mempengaruhi kejiwaan manusia dan kesadarannya mengalami gangguan akibat kemendesakan sosial ekonomi yang menekan.

Panggilan Mitra Penciptaan

Keyakinan kita bahwa Tuhan menciptakan barang-barang di dunia demi kesejahteraan hidup semua orang nampaknya tidak sepenuhnya terpahami oleh manusia yang menyebut dirinya orang beriman. Peringatan Tuhan, agar manusia berjaga-jaga, kurang menggerakkan kepedulian manusia secara mendasar, selain demi memenuhi hasrat perasaan yang kurang sejalan dengan cita-cita penciptaan. Manusia melambungkan nada-nada yang sehati sesuara, tetapi belum sesaudara, sehingga pelbagai bentuk kekerasan dengan mudah terpicu dan terjadi dalam masyarakat kita. Seringkali, perselisihan kepentingan dengan cepat  berujung pada tindakan-tindakan yang tidak sayang akan kehidupan, khususnya kekerasan dalam rumahtangga dan pelarian diri seperti narkoba, yang melahirkan pemerasan dengan segala akibatnya. Nyatanya, manusia tidak berkembang sebagai mitra Pencipta, tetapi sebaliknya menguras habis anugerah ciptaan Tuhan dengan tamak, seperti pembalakan liar, pembakaran hutan, pemakaian pupuk kimiawi dan bom ikan yang menyebabkan musnahnya keragaman hayati.

Kegembiraan Injil

Peristiwa Natal selalu mengingatkan kita bahwa Yesus Kristus menjelma menjadi manusia untuk menghadirkan damai sejahtera Allah. Keselarasan lingkungan hidup dan keserasian di antara manusia sebagai warta Natal nampaknya tidak menjadi kepedulian yang mengarahkan manusia kepada kebaikan seutuhnya. Memang, manusia mendapat arahan kembali kepada tujuan penciptaan, biarpun manusia bebas menentukan hidupnya sendiri. Dengan menjelma sebagai manusia, Allah secara mendasar menghormati dan menghargai kemanusiaan dengan kasih yang demikian besar. Gaya hidup Allah sendiri diperagakan dalam diri Yesus Kristus dan manusia diundang untuk mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri (bdk. Rom 5:1-2).

Dengan mengambil prakarsa untuk mendamaikan diri-Nya dengan manusia, Allah memanggil dan menuntun manusia ke “padang rumput yang hijau”, yaitu persaudaraan dan persahabatan. Dalam kemurahan hati dan kerahiman-Nya, Allah membuka jalan baru, agar kita membangun sikap rela berbagi demi kesejahteraan bersama. Inilah kegembiraan injil yang perlu dipahami dengan benar dan dipraktekkan dalam perjalanan hidup bersama.

Kerjasama Terbuka

Di dalam upaya menemukan cara yang tepat bagi aneka kesulitan hidup sosial ekonomi dan politik, kita perlu mengarus-utamakan kerjasama yang efektif dan kreatif. Oleh karena itu, upaya-upaya kooperatif dalam masyarakat kita hendaknya dipelihara, dihormati dan dikembangkan, sehingga keserasian hidup kita dapat tumbuh secara berdaya-guna dalam upaya mengembangkan, meningkatkan dan mencerdaskan kesejahteraan bersama. Upaya-upaya pastoral dalam komunitas basis hendaknya memperhatikan keprihatinan yang ada di dalam lingkungan hidupnya. Kerjasama yang menjunjung harkat manusiawi pasti akan membuka kemungkinan bagi setiap orang untuk merasakan hidup layak, apa pun jenis pekerjaannya. Dengan kerjasama yang terbuka dan jujur, maka pelayanan publik, pasar dan masyarakat warga akan berjalan seturut tatakrama peradaban kasih, karena itulah yang ditegaskan secara terwahyukan oleh peristiwa Natal, yaitu mendorong kita untuk meneladani gaya kerjasama Allah sendiri yang membawa damai sejahtera.

 

Kerjasama Antarumat Beragama

Kita menyaksikan bahwa terdapat keengganan, bahkan kebencian, dalam kehidupan bersama akibat perbedaan keyakinan hidup. Biarpun banyak persoalan sosial tidak dapat dipandang sebagai akibat perbedaan agama, namun akhir-akhir ini di banyak belahan dunia kita, agama diperalat sebagai ajang pelampiasan kemarahan dan kekerasan, yang mengakibatkan sesama kehilangan nyawa atau pun terpinggirkan dari hidup sosial karena perbedaan keyakinan iman. Semua umat beragama perlu tersedia dan siaga, untuk saling merangkul dan saling membantu. Dengan demikian, kerukunan dan keterbukaan dialogis dapat memajukan kebersamaan hidup, justeru karena adanya perbedaan keyakinan hidup. Dengan mengembangkan tata kelola bersama dalam hidup sosial, khususnya dalam upaya bersama memerangi ketidak-adilan dan kemiskinan, kehadiran agama-agama yang berbeda pasti semakin mampu mendorong terciptanya kerukunan sejahtera bersama.

Pengharapan Tahun 2014

Menurut iman Kristiani, kelahiran Yesus Kristus sebagai manusia adalah anugerah kemanusiaan yang paling dalam dan paling unggul. Di dalam peristiwa iman ini, umat manusia berjumpa dengan Pribadi yang murah hati bagi semua orang: Pribadi Yesus Kristus menghadirkan cakrawala baru bagi siapa saja yang berjumpa dengan-Nya secara ikhlas dan jujur. Peristiwa Natal selalu membuka cakrawala baru bagi manusia, yang sering kehilangan arah dan pegangan dalam menelusuri lorong-lorong kehidupannya. Natal membangkitkan kembali kepercayaan diri dan sikap saling percaya di tengah tantangan dan perjuangan hidup yang penuh kegamangan akibat egoisme dan kebencian (Bdk. Kol 3:12-15).

Seraya mengucap syukur atas kemurahan Tuhan, pantaslah kita tergerak dan tergetar oleh cintakasih Yesus Kristus yang turun ke bumi untuk mewartakan kebaikan dan kebenaran, yaitu damai sejahtera bagi manusia yang berkenan kepada Allah. Dengan pengantaraan perayaan kelahiran Yesus Kristus, kita siap menapaki Tahun 2014 dengan iman yang teguh dalam pengharapan. Kecakapan iman ini dapat membuat kita merasa aman dan tenteram untuk menjalani Tahun 2014 menurut kehendak Allah. Di Keuskupan Agung Kupang, Tahun 2014 akan ditetapkan sebagai “Tahun Injil Bagi Orang Miskin. Mudah-mudahan keluarga-keluarga kita tumbuh dan berkembang sebagai pewarta Injil bagi orang miskin. Keluarga kita menjadi keluarga kristiani yang sejati, bila kita memerhatikan dan peduli sejati akan hidup orang miskin. Keluarga kita harus mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam mengentaskan orang dari kemiskinan.

Dengan saling mengucapkan Salam Sejahtera Tahun Baru 2014 Dalam Kasih Yesus Kristus’, kita bersama-sama menarik pelatuk dan melakukan gerakan perubahan bersama orang-orang miskin.

 

Kupang, 30 Desember 2014

Salam dan Berkat,

Mgr. Petrus Turang

TOBAT SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PERWUJUDAN IMAN DAN IMPLIKASINYA DALAM KERJA SEORANG IMAM


*RD. Kornelis Usboko

1. PENGANTAR

Dalam rangka memasuki masa pra Paskah 2013, suatu kesempatan mempersiapkan diri untuk merayakan Hari Paskah, kita mengadakan rekoleksi seraya merenungkan tema: Tobat Sebagai Salah Satu Bentuk Perwujudan Iman dan Implikasinya Dalam Kerja Seorang Imam.

2. TOBAT

Satu aspek penting dalam kehidupan orang beriman menuju keselamatan kekal ialah tobat. Tobat adalah menyadari kekurangan, menyesali perbuatan dosa secara sungguh-sungguh dan berusaha menjadi lebih baik. Banyak nabi selalu menyerukan pertobatan agar manusia dapat menjumpai Allah Yang Kudus. Perjanjian Lama mengajak para pendosa untuk mengakui dosanya dalam bentuk puasa (1 Sam. 7:6, Yun.3:7), pengenaan pakaian berkabung dan duduk di dalam debu (2 Raj 19:1-2, Yes. 22: 12, Yun 3:5-8). Sementara Perjanjian Baru menceriterakan sikap Tuhan yang Maha rahim (Pengampun) dan para pendosa yang sungguh bertobat: Luk.5:32 menceriterakan tentang wanita pendosa yang bertobat, Luk.7:36-50, menceritakan tentang Zakeus, kepala pemungut cukai yang bertobat karena dia juga adalah keturunan Abraham.

Hakekat pertobatan adalah penyesalan akan perbuatan jahat dan kembali ke jalan yang benar, kembali kepada rencana keselamatan Allah. Syarat bagi pertobatan adalah mengaku bersalah dan terbuka terhadap anugerah rahmat. Buah-buah pertobatan adalah sukacita, damai sejati dan keselamatan kekal.

Satu catatan penting perlu kita sadari, bahwa sering kita bersikap puas diri, dan memaafkan cacad sendiri. Kita tidak takut dan malu berdosa lagi. Bahkan pula sering kita mengetahui bahwa suatu perbuatan adalah dosa. Tetapi kita tetap melakukannya. Kita mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak apa-apa. Semua orang juga berdosa. Gampang! Nanti baru bertobat.

Sering kali kita  menerapkan perhitungan matematis. Ah . . .ini dosa kecil saja. Dosa orang lain masih lebih besar. Lihat saja para koruptor, kaum atheis, pelaku prostitusi dan lain-lainya. Lagi pula perbuatan baik saya sudah banyak. Sebagai pastor saya berbuat baik setiap hari. Sementara berbuat dosa cuma satu-satu kali. Jadi bila dihitung-hitung dosa orang lain  lebih  banyak dari dosa saya. Itulah sekelumit rasionalisasi defensif untuk melegalkan dosa secara sepihak.

Menurut santo Yohanes dalam Wahyu 2:1-5, anggapan demikian ternyata tidak benar. Kendatai kebaikan jemaat Efesus itu banyak, tapi karena ada kekurangan (dosa) padanya, maka semua kebaikannya tidak ada artinya:”Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat”. Artinya setiap orang akan dibuang, karena dianggap tidak pantas.

Kesaksian yang lebih tegas lagi diberikan oleh nabi Yeheskiel: beginilah firman Allah: Kalau orang benar mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya. Tetapi kalau orang bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran….. semua dosa yang diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi; ia sudah melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia pasti hidup.”(bdk Yeh 33:13-16).

Maka kita harus segera bertobat, sebelum terlambat: Sesungguhnya Tuhan maha pengampun. Ia siap mengampuni orang berdosa dan menyediakan kebahagiaan sejati kepada orang berdosa yang bertobat. Sebab sesungguhnya akan ada kebahagiaan besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat lebih dari pada 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.Bertobat berarti mengakui kesesatan dan mau berbalik ke jalan yang benar yakni kepada Tuhan.

Sedekah, berdoa dan berpuasa     

Sedekah, berdoa dan berpuasa merupakan tiga kewajiban pokok dalam agama Yahudi. Bagaimana murid-murid Yesus harus menghayati tiga kewajiban pokok ini? Dalam injil Matius 6:1-6,16-18 kita mengetahui pengajaran tentang memberi sedekah, berdoa dan berpuasa. Di sini kita mengetahui bagaimana maksud Yesus: yakni secara tersembunyi, artinya tanpa pamer, tanpa menarik perhatian orang lain, tanpa diketahui oleh orang lain, tanpa keinginan sedikit pun untuk dipuji atau dihormati, dipandang                                                                                                                                                 saleh dan yang semacam itu. ‘Sedekah, berdoa dan berpuasa adalah urusan seorang anak dengan Bapanya di surga’. Dia harus melakukan semuanya itu dalam kepercayaan yang mendalam bahwa BapaNya yang tidak kelihatan, tidak tampak dan menampakan diri di depan umum itu melihat dan mendengarkan semua yang dilakukan anakNya.

Bapa ini berada di tempat tersembunyi. Dari sebab itu, segala-galanya harus dilakukan dengan iman bahwa Bapa di surga melihat dan mendengarkan dalam ketersembunyianNya. Sedekah, berdoa dan berpuasa harus merupakan pertemuan hati seorang anak dengan hati Bapanya di surga. Sedekah, berdoa dan berpuasa harus dilakukan hanya untuk memuliakan Bapa di surga.

Masa ret-ret agung yang akan kita jalani pada masa prapaskah mendatang, mendorong kita untuk membangun tobat yang benar dalam bentuk bersedekah, berdoa secara intens dan berpuasa secara benar.

Sedekah dalam bahasa Gereja sudah punya nama lain dan mendapat makna baru berdasarkan banyak firman Allah yang akan kita dengar selama masa tobat, masa pra paskah yang akan datang. Semangat dasarnya sama yakni membangkitkan perhatian kita akan penderitaan orang lain. Masa prapaskah dengan demikian adalah masa kita mengingat penderitaan orang lain, masa di mana kita digerakkan untuk melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain, khususnya mereka yang sungguh menderita.

Karena penderitaan orang lain itu konkrit, dapat dilihat maka sedekah yang dimaksudpun harus konkret. Sering kali kita terjebak dalam kesalahan berpikir bahwa pasti banyak orang sudah memberi maka kita tidak perlu meberi lagi. Kita menghimbau orang lain, umat untuk memberi semetara kita sendiri tidak memberi. Dan masa puasa ini adalah saatnya yang sangat tepat. Kita perlu ikut berpartisipasi secara nyata dalam aksi puasa pembangunan. Kita perlu menyisihkan sebagian dari belanja harian kita untuk meberikannya kepada orang atau teman yang berkekurangan. Sering ada orang yang sangat pelit, merasa rugi memberi sesuatu dari miliknya. Tuhan Yesus pernah berkata, kamu telah menerima dengan cuma-cuma maka berikanlah juga dengan cuma-cuma. Artinya kita juga perlu bermurah hati, tidak egois berlebihan karena akan selalu berkekurangan. Dalam pengalaman iman kita, kalau semakin kita memberi, semakin kita mendapat berkat Tuhan.

Selanjudnya kita mencoba mereflesikan doa. Masa tobat ini adalah juga masa kita harus belajar berdoa kembali. Sering karena banyak tugas dan pekerjaan yang harus kita lakukan, kita malas berdoa, menganggap kurang penting berdoa karena kita aman-aman saja. Tidak. Kita harus berdoa tak jemu-jemunya. Doa itu kekuatan kita. Banyak masalah besar yang sulit sekali  kita atasi hanya dengan kemampuan otak kita, kecuali dengan doa. Jenis ini hanya dapat dikalahkan dengan berdoa, demikian kata Yesus kepada murid-muridNya tatkala mereka tidak bisa mengalahkan kuasa setan.

Bagi kita para imam sebetulnya bukan lagi masalah besar untuk berdoa. Kita memiliki brevir. Kita juga sudah terbiasa dengan aturan waktu berdoa ketika berada di bangku pendidikan.  Hanya saja selepas bangku pendidikan disiplin itu sering memudar karena banyak waktu tersita oleh tugas lain. Kita sering mungkin melakukan tawar menawar dan menunda-nunda. Keseringan ini lama kelamaan bertumbuh menjadi kebiasaan. Pada akhirnya doa terasa menjadi beban. Doa itu memang hubungan personal dengan Tuhan. Tetapi bentuknya harus konkret dan semakin mendalam. Maka doa akan menjadi bagi kita sumber kekuatan rohani untuk menangkis segala bentuk godaan. Karena Tuhanlah kekuatan kita. Tuhan berperang besama kita untuk melawan kejahatan.

Selanjudnya kita merefleksikan puasa. Masa prapaskah atau masa tobat ini adalah masa kita harus belajar perpuasa kembali. Seringkali kita mendengar masa paskah di sebut juga masa puasa. Sebutan ini sangat benar. Puasa merupakan inti dari masa pertobatan.  Memang berpuasa itu menurut Kitab Suci sendiri mempunyai arti yang lebih luas dan dalam daripada mengurangi makan dan minum, tetapi kita mencoba membingkainya makan ‘tidak sampai kenyang’. Di sini kita melepaskan diri dari ketergantungan pada materi. Sebab manusia hidup bukan saja dari roti tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah. Dengan demikian maka kita dapat kembali pada sumber kekuatan kita yang sebenarnya yakni Tuhan. Sebab oleh godaan daya tarik barang duniawi, oleh godaan makan minum, manusia sering dengan mudah jatuh ke dalam dosa dan tak mampu mengendalikan diri. Karena itu, semangat puasa sangat berarti bagi kita.

3. IMAN

Iman adalah tanggapan manusi terhadap wahyu ilahi. Allah mewahyukan diriNya kepada manusia pertama-tama lewat para nabi. Para nabi yang mendapat panggilan istimewa dari Allah, dengan setia mewartakan Wahyu Allah kepada manusia, khususnya umat Israel. Wahyu ilahi itu kemudian mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus, Juru selamat dunia. Di dalam diri Yesus Kristus, kita melihat wajah Allah yang berbelas kasih. Dari pihak Allah, rahmat selalu tersedia. Allah selalu peduli pada manusia.

Karena itu, manusia perlu menanggapi rahmat itu. Tanggapan manusia itulah yang disebut iman. Oleh iman, kita percaya, berpasrah dan berserah pada Allah sang Pencipta dan Penyelenggara seluruh eksistensi manusia. Dalam surat kepada orang Ibrani 1:1 tertulis bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Melihat perkembangan dunia yang sangat kompleks saat ini (ada hal positif yang membantu manusia untuk kemudahan dan kebaikan hidupnya, namun juga ada hal-hal negative yang cenderung menyesatkan dan menghancurkan hidup manusia), Bapa Suci Benediktus XVI sebagai pemimpin tertinggi gereja katolik sedunia dan sebagai penanggung jawab utama iman akan Allah, menetapkan Tahun Iman agar secara khusus kita melihat kembali hakekat dan fungsi iman yang menyelamatkan itu. Agar orang tidak melupakan Tuhan sebagai sumber hidup dan tidak terjerumus ke dalam paham ateistik yang menyesatkan.

Bapa Suci mengajak seluruh kaum beriman katolik agar sepanjang Tahun Iman ini melakukan sesuatu yang bertujuan  mendewasakan iman. Iman pemberian Tuhan itu perlu dijaga, dipupuk terus-menerus lewat doa, tobat, amal dan kesaksian hidup agar menjadi kuat dan dewasa, karena oleh iman dan dengan beriman kepada Allah, kita mampu hidup dan mampu mengatsi semua masalah hidup. Ada banyak masalah di dunia ini yang tak mampu kita atasi hanya dengan kemampuan akal budi kita atau dengan teknologi secanggih apapun. Oleh bantuan Rahmat Tuhan, semua beres. Dalam pengalaman kita, kita mengakui bahwa kekuata iman akan kebaikan Allah memampukan manusia untuk

hidup di tengah dunia yang penuh dengan tantangan dan kesulitan itu. Oleh dan dalam iman, semua masalah sesulit apapun dapat diatasi.

Ada banyak saksi-saksi iman dalam Kitab Suci yang menjadi referensi bagi kita dalam membangun hidup. Dalam surat kepada orang Ibrani 11:1-40 kita melihat bagaimana iman akan Allah, memampukan tokoh-tokoh iman dan saksi-saksi iman itu  melakukan sesuatu yang secara manusiawi sangat tidak mungkin, tapi bagi Allah semua jadi bisa. (Bacakan beberapa ayat: Ibr.11:1-40). Itulah keunggulan Iman.

Aspek penting  iman yang perlu diperhatikan dalam hidup yakni bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Rasul Yakobus menegaskan dalam suratnya,  tentang iman yang harus dipraktekkan (baca teks Yak.2.14-26). Sesungguhnya iman harus dibarengi dengan perbuatan kasih. Dalam satu Korintus 13:1-3 Rasul Paulus berkata (baca teks). Iman,harapan, pengetahuan dll akan berakhir tapi kasih itu abadi karena kasih itu adalah Allah sendiri. God is love and love is God.

4. KERJA

APP tahun ini berbicara mengenai makna kerja manusia. Yang dimaksudkan dengan kerja ialah kegiatan manusia berupa kerja tangan (opus manuale) dan kegiatan akal budi. Manusia dijuluki “homo faber”makluk pekerja. Menurut julukan ini sebenarnya manusia disiapkan dari kodratnya untuk bekerja. Dengan bekerja manusia mencari nafkahnya setiap hari sekaligus menjawabi perintah Allah untuk menaklukan bumi dan menyempurnakannya sebagai co-creator Allah. Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika berkata: “ Jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia makan” (bdk.2 Tes 3:10). Karena manusia adalah homo faber dan co-creator Allah, maka dari saat ke saat ia selalu bekerja untuk kebutuhan hidupnya dan memualiakan Allah dalam karyanya.

Kerja merupakan salah satu ciri yang membedakan manusia dari makluk ciptaan lainnya. Kerja membuat manusia lebih bermartabat. Ia mampu menyediakan kebutuhannya sendiri dan dengan demikian melepaskan diri dari ketergantungan pada persediaan alam bahkan pula mengubah alam dan membuatnya menjadi lebih maju.

Tetapi tak bisa dipungkiri pula bahwa oleh kerja pula manusia telah menjadi penyumbang  atas kerusakan alam yang sering mandatangkan malapetaka dan bencana bagi manusia. Maka manusia harus selalu menyadari kerjanya. Bahwasanya kerja manusia harus sungguh-sungguh menjadi co-creator, pelanjut karya Allah untuk mengelola dan memelihara serta melestarikan alam. Manusia mendapat tugas istimewa untuk bekerja sejauh tidak merusak alam yang Tuhan  ciptakan.

Sebagai seorang imam tentu saja kita memiliki bidang kerja utama sebagai pelayan rohani. Namun sebagai pribadi, masing-masing kita juga memiliki hobi atau bakat untuk bentuk kerja tangan seperti menanam pohon dan kegiatan akal budi seperti menulis buku. Talenta atau bakat demikian juga perlu dikembangkan. Oleh rahmat tahbisan kita memiliki tugas pokok sebagai imam, raja dan nabi secara istimewa. Sebagai imam kita mendapat tugas istimewa untuk menguduskan karya manusia melalui pelayanan sakramen. Sebagai raja kita menuntun, memberi contoh dan teladan bagaimana harus bekerja  agar kerja manusia tidak keluar dari maksud Tuhan mengangkat manusia sebagai co-creatorNya. Dan sebagai nabi kita mengajarkan bagaimana manusia harus bekerja agar kerja manusia tidak sampai merusak alam tetapi menyempurnakanya.

5. PERSAUDARAAN SEJATI SEBAGAI SUMBER PELAYANAN PASTORAL

Sebagai seorang imam, salah satu hal  penting yang  mendukung dalam tugas pelayanan adalah persaudaraan. Ketika ditahbiskan kita semua mengambil bagian  dari imamat yang satu dan sama.Oleh tahbisan itu kita tergabung dalam persekutuan para imam. Persekutuan ini menjadi dasar persaudaraan kita yang tak pernah dapat terpisahkan.

Karena merupakan saudara maka sudah tentu kita harus saling mendukung dalam karya pelayanan dan segala  bentuk kebersamaan kita. Kita tidak perlu mebiarkan diri dikuasai oleh ego kita masing-masing dan kecenderungan mencari popularitas walaupun kita memiliki watak yang berbeda. Sebaliknya kita harus belajar untuk bersikap rendah hati  dan saling menghargai agar seluruh aktivitas pastoral kita benar-benar bermakna dan memerlihatkan kepada orang bahwa kita benar-benar bersaudara,  sehati, sepikir dan sejiwa. Proses ini harus terus dibina agar mempribadi dan menjadi teladan bagi kawanan domba gembalaan kita.

Seringa umat menjdi bingung menyaksikan para imamnya memperlihatkan hal-hal yang tidak lazim bahkan tidak layak bagi seorang imam seperti berselisih, saling gossip, hingga makan sendiri-sendiri, mengurus diri sendiri-sendiri dan tidak saling mempedulikan. Karena itu di masa prapaskah ini dan selanjutnya kita harus memulai hidup baru, mengoreksi diri apakah benar ada persaudaraan sejati di antara kita?

6. PENUTUP

Sebagai Imam tertahbis, kita memperoleh mandat dari Kristus untuk berkarya dalam kebun anggurNya. Kita dipanggil dan diutus ke tengah umat Allah untuk melayani mereka seperti Kristus. Kita bertanggung jawab untuk menumbuhkan iman umat dalam karya kita setiap hari. Identitas kita sebagai imam harus dilihat dalam konteks ilahi yang mau menyelamatkan, bukan mempersulit umat. Dengan kekuatan iman yang kita miliki dan oleh rahmat sakramen tahbisan, seorang imam mampu bekerja, mampu melayani dan mengantar umat kepada perjumpaan dengan Allah yang membebaskan.

Struktur asli teologis misteri imam yang dipanggil untuk menjadi pelayan keselamatan, tak boleh dilupakan, untuk memahami secara tuntas makna pelayanan pastoralnya di tengah umat yang dipercayakan kepadanya. Imam adalah abdi/pekerja Kristus, untuk dan dengan berpangkal pada Kristus, melalui Dia dan bersama Dia, menjadi abdi manusia. Hakekatnya, yang secara ontologis disatukan dengan Kristus, merupakan dasar pembaktiannya bagi pelayanan komunitas manusia. Komitmen total seorang imam kepada Kristus, mengakibatkan bahwa imam oleh kekuatan iman, siap melayani(bekerja) tanpa pamrih kapan saja dan di mana saja. Dan pasti ada upahnya. Seorang pekerja patut mendapat upahnya. Upahnya bahkan 100 kali lipat yakni keselamatan kekal.

Akhirnya, memang kita para imam yang disebut kaum klerus itu juga manusia biasa yang bisa keliru (seorang umat di Pariti bilang kaum klerus itu juga adalah kaum keliru). Karena itu kita perlu bertobat dan dengan rendah hati selalu mau memperbaiki diri dan berjuang menjadi imam yang selalu lebih baik dari waktu ke waktu. Itulah hakekat dari pertobatan.

 

(Bahan Rekoleksi masa Pra Paskah bagi Para Imam KAK, Camplong, 7 Februari 2013)

PERDAMAIAN: KARYA MESIANIK DAN USAHA MANUSIA


(Refleksi atas Pesan Sri Paus pada Hari Perdamaian se-dunia ke-46)

Gerardus Duka, pr

Pada tanggal 1 Januari 2013 diperingati sebagai hari perdamaian se-dunia ke-46. Dalam konteks hubungan internasional serta keragaman hidup manusia, momentum hari perdamaian se-dunia merupakan sebuah rahmat yang perlu kita refleksikan sebagai masyarakata dunia.  Peristiwa Natal yang telah dirayakan oleh umat kristiani se-dunia, menjadi dorongan untuk berefleksi tentang hari perdamaian, karena hari perdamaian sedua ke-46 memiliki pesan mesianik, yakni sebuah peristiwa penyelamatan Allah bagi dunia dengan pengutusan Yesus Kristus yang lahir ke dunia sebagai Raja damai. Natal memiliki nuansa damai, lalu mendorong umat manusia untuk mencintai damai. Gereja Katolik, melalui Paus Benediktus XVI, dalam refleksi hari perdamaian se-dunia ke- 46, mengeluarkan sebuah pesan bagi dunia sebagai ajakan inspiratif agar umat manusia menciptakan kerukunan dan perdamaian hidup.  Paus menegaskan beberapa prinsip dan dasar yang menyentu hakekat perdamaian itu sendiri.  Pesan hari perdamaian ke-46 mengacuh pada dasar kitab suci pada Sabda bahagia Yesus. Bahwa Sabda Bahagia Yesus tidak hanya direfleksikan sebagai pedoman moral relasi manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia tetapi Sabda Bahagia Yesus itu berisi tentang perdamaian sebagai anugerah mesianik serentak hasil usaha manusia.

Perdamaian merupakan Rahmat Allah dan hasil usaha manusia

Dalam Tahun Iman, gereja mengenang ulang tahun ke-50 Konsili Vatikan II. Sri Paus Benediktus XVI mengajak dunia dalam memasuki tahun 2013 untuk selalu menemukan hidup damai melalui hubungannya dengan Tuhan dan antara umat manusia. Perdamaian bisa tercipta apabila umat manusia menyadari panggilanya untuk menghargai keberadaan bangsa-bangsa serta hak kebebasan beragama. Bahwa keberadaan bangsa-bangsa harus diakui agar perdamaian itu boleh hadir dan umat manusia menemukan hak kesejahteraan hidupnya (bdk. Pacem in terris). Sementara itu, pengakuan akan eksistensi bangsa-bangsa di dunia, memiliki konsekuensi logis kehadiran keragaman hidup, termasuk agama dan kepercayaan. Oleh karena itu, setiap lembaga Internasional dan Nasional, para pemimpin politik bangsa-bangsa di minta untuk menciptakan regulasi yang membuka kemungkinan umat beragama menghayati iman dan kepercayaannya. Kebebasan beragama harus mendapat perhatian masyarakat Internasional agar kerukunan boleh tumbuh dan berkelanjutan dalam hidup masyarakat dunia demi menghindari konflik dan ketegangan. Merujuk pada “Pacem In Terris”(Perdamaian di dunia) dan “Dignitatis Humanae(kebebasan beragama) dalam kebebebasan beragama, Sri Paus mendorong umat manusia untuk melihat peperangan serta terorisme sebagai ancaman serius bagi perdamaian dunia. Selain kedua ancaman tersebut, ancaman lain memicu berkembangnya perdamaian adalah kesenjangan antara orang kaya dan miskin, pengutamaan pola pikir yang ingat diri yang muncul dalam suatu kapitalisme financial yang tidak tertib, fundamentalisme dan fanatisme justru menjadi hambatan tumbuhnya kesejahteran umum. Oleh sebab itu, panggilan kodrati seluruh umat manusia adalah mengupayakan perdamaian. Kehendak hidup damai adalah sebuah prinsip moral fundamental bagi manusia, karena di dalam prinsip itu, manusia memiliki kewajiban dan hak akan pembangunan sosial yang utuh. Dkl panggilan kodrati umat manusia adalah menciptakan perdamaian, manusia diciptakan untuk perdamaian, karena perdamaian itu adalah anugerah Allah.

Martabat Manusia adalah Prinsip Perdamaian

Martabat manusia merupakan prinsip dari upaya-upaya perdamaian dunia. Pelanggaran terhadap martabat manusia, mendatangkan bencana ketidakdamaian di dunia. Jalan mencapai kebaikan dan perdamaian yang pertama adalah penghargaan akan hidup manusia. Hidup manusia itu memiliki banyak aspek, mulai dari pembuahan, bertumbuh, berkembang sampai pada kematian alamiah. Maka umat manusia mesti menjaga martabat manusia agar tumbuhlah perdamaian di dunia. Setiap orang yang mencintai perdamaian tidak dapat mentolerir ancaman dan kejahatan terhadap manusia.  perilaku obortif dan perbuatan euthanasia merupakan ancaman serius atas perdamaian dunia. Perdamaian hanya tumbuh secara benar jika kehidupan manusia di hargai, dari yang paling kecil/lemah hingga pada usia lanjut yang tidak tak dapat lagi menghadirkan upaya-upaya produktif.  Maka penghinaan terhadap hidup terutama yang paling lemah dapat menyebabkan kerugian yang tak dapat diperbaiki terhadap pembangunan perdamaian dan lingkungan hidup. Sri Paus Benediktus menegaskan bahwa memasukan aturan-aturan atas nama kebebasan dan hak palsu merupakan perbuatan tidak adil dan itu hanyalah sebuah visi reduktif dan relativistik. Menurut Paus, dengan alasan apa pun, tindakan aborsi dan euthanasia merupakan suatu ancaman paling mendasar terhadap hak azasi manusia, yakni hak hidup. Paus mengajak para pemimpin bangsa dan para pengambil kebjikan politis Internasional untuk tidak menciptakan regulasi yang mengabaikan kodrat dari perkawinan alamiah, antara seornag laki-laki dan perempuan. Bahwa upaya yuridis terhadap persatuan hidup dengan tujuan kesejahteraan keluarga tidak pernah mendatangkan kesejahteraan, bahkan merugikan dan membuat perkawinan tidak stabil serta mematikan kodrat khusus dan perannya dalam masyarkat dunia.  Maka agama-agama harus mendorong penghargaan terhadap martabat manusia ini, bahwa martabat manusia bukan sebuah hasil refleksi dari pengetahuan tetapi ia tertanam dalam kodrat manusia, upaya konfensional terhadap martabat manusia, khusus yang paling lemah, merupakan penghinaan terhadap kebenaran pribadi manusia, dengan kerugian bagi keadilan dan perdamaian. Dalam hubungan dengan martabat manusia ini juga, kebebasan beragama harus menjadi perhatian dari komunitas-komunitas Internasional. Bahwa kebebasan beragama merupakan hak azasi yang perlu dihargai dan dilindungi. Mengabaikan kebebasan beragama akan mendatangkan konflik peradaban.  Konflik peradaban merupakan konflik terbesar yang harus dihindari, karena akan mendatangkan kehancuran dunia, maka keadilan dan kerukunan harus tetap diupayakan. Karena keadilan dan kerukunan hanya bisa dirasakan apabila martabat manusia dihormati dan dilindungi secara benar.

Perdamaian tumbuh jika ada keadilan ekonomi

Pembangunan manusia, tidak hanya melalui sebuah upaya dialog antar manusia demi menghindari konflik, tetapi juga sebuah pendekatan baru terhadap ekonomi. Dalam konteks pendekatan terhadap ekonomi, prinsip solidaritas serta arah politik ekonomi kepada kesejahteraan bersama harus menjadi skala prioritas dari usaha manusia menghadirkan barang-barang dan nilai-nilai iman sebagai rujukannya. Barang-barang ciptaan Tuhan bukan tujuan dari pengembangan ekonomi manusia, tetapi sarana kepada kesejateraan bersama. Barang-barang yang dihasilkan oleh karya tangan manusia harus digunakan demi kesejahteraan manusia. maka kerja manusia harus menjadi sebuah panggilan iman demi kesejahteraan bersama. Sebagai tujuan dan politik ekonomi. Sri Paus menegaskan bahwa, tata kelola ekonomi dan keuangan dari lembaga-lembaga dunia harus memajukan kehidupan dan mendorong kreativitas manusiawi dan bukannya menjadi sebab munculnya kesenjangan antar manusia. Seluruh manusia dengan kemampuan intelektual dan ketrampilan harus mendorong sebuah pertumbuhan ekonomi yang manusiawi. Untuk itu, orang harus bermurah hati dan bekerja sama bersaudara dalam membangun kehidupan ekonomi yang benar agar damai tercipta di dunia. Sri Paus menekan kerja sama negara-negara dalam bidang ekonomi sangat perlu khusus dalam mengejawantahkan aneka kebijakan pembangunan industri dan pertanian demi kemajuan sosial dan pertumbuhan  setiap negara. Setiap negara demokrasi perlu menciptakan struktur-struktur etis bagi mata uang, pasar uang dan komersial yang benar agar tidak mengorbankan orang miskin. Setiap negara dalam upaya memajukan kesejateraan bersama perlu memperhatikan persoalan pangan. Keamanan pangan harus mendapat perhatian pemerintah dan masyarakat internasional. Mengantisipasi krisis pangan, setiap pembawa damai di tuntut kerja keras, dengan semangat solidaritas untuk mendorong dan memberdaya para petani untuk melaksanakan pekerjaannya demi mendatangkan kelimpahan pangan.

Pendidikan jalan kepada perdamaian.

Setiap orang dipanggil untuk melakukan perdamaian. Maka lembaga-lembaga normatif  perlu diberdayakan, keluarga, sekolah, pemerintah, agama, kebudayaan harus mendorong sistem pendidikan yang benar sebagai jalan kepada perdamaian.  Keluarga memiliki peran besar dan utama dalam pendidikan perdamaian. Keluarga adalah basis terkecil dari pendidikan perdamaian, maka peran keluarga perlu ditumbuhkan dan dikembangkan demi upaya-upaya perddamaian. Pendidikan nilai dalam keluarga, seperti kasih, hormat terhadap hak-hak azasi perlu mendapat perhatian serius. Karena dalam keluarga nilai-nilai moral dan iman diajarkan dan menjadi dasar kehidupan bersama demi memajukan perdamaian dunia.

Perdamaian adalah kerja semua orang yang mencintai hidup damai. Tetapi perdamaian butuh juga karunia Tuhan untuk meruntuhkan tembok pemisah yang menghalangi perdamaian itu sendiri. Sri Paus meminta setiap masyarakat dunia umumnya dan orang kristiani khususnya untuk senantiasa memajukan  cinta kasih kepada sesama dan orang lain sebagai dasar tumbuhnya perdamaian. Kasih merupakan Karunia Tuhan, yang di tanam dalam hati setiap mamusia demi melakukan perdamaian sejati. ..Demikian, karya kasih adalah damai dan damai menuntut kepada kesejahteraan bersama.