Category Archives: Paskah

Belajar Sepanjang Hidup


Surat Puasa 2014

Saudara-saudari terkasih,

Dalam masa puasa Prapaska 2014, kita ingin merenungkan tentang “belajar sepanjang hidup”, anugerah kehidupan bagi setiap orang. Dengan belajar, orang membangun pribadinya, sesama dan lingkungan hidup ini. Melalui belajar, manusia memerhatikan karya penciptaan Tuhan dalam dirinya. Manusia sadar mengambil bagian dalam karya Tuhan dengan belajar demi ketenteraman dan kesejahteraan hidup ini. Dengan belajar seumur hidup manusia juga mengambil bagian dalam memelihara keutuhaan dunia yang diciptakan dalam keseimbangan dan keselarasan oleh Tuhan sendiri. Oleh karena itu belajar sepanjang hidup adalah keindahan dan kemuliaan bagi manusia. Dengan memperindah dunia melalui ketekunan belajar, manusia menghadirkan Kemuliaan Tuhan dalam lingkungan hidup ini. ”Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan dan orang mendapat balasan daripada yang dikerjakan tangannya” (Ams 12:13).

Saudara-saudari terkasih,

Belajar sepanjang hidup adalah kebaikan mendasar bagi manusia ditinjau dari kepribadiannya, hubungan dengan sesama, pembentukan sebuah keluarga, sokongan akan kebaikan umum, penegakan keadilan dan pencerdasan perdamaian. Oleh karena itu, tujuan dari ketersediaan sarana belajar bagi semua orang selalu bercorak utama, juga dalam masa kesulitan hidup ekonomi. Dengan belajar sepanjang hidup, manusia sendiri menemukan jati diri dan martabatnya sebagai gambaran dan rupa Allah melalui kerja yang dilakukannya. Juga manusia menemukan cara-cara baru dan teknologi baru yang berdampak dan berdaya-guna bagi perkembangan kepribadian serta lingkungan hidupnya. Pentinglah kita menemukan lingkungan yang membuka peluang bagi bakat dan mengakui sumbangannya sepanjang perjalanan hidup. Kita semua dipanggil untuk tumbuh dan berkembang melalui budaya pikir dan budaya laku yang baik. Kita berada dalam lingkungan yang benar untuk maju dan berkembang, bilamana kita selalu belajar membangun peradaban kasih. Dalam mengembangkan pengetahuan yang bertanggungjawab dan jujur, kita menjadi orang yang bermartabat dalam dunia kita. Rasul Paulus berkata : “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu” (Fil 4:9).

Saudara-saudari terkasih,

Ketekunan untuk belajar mempunyai sumbangannya bagi perjalanan hidup duniawi. Tugas dan tanggungjawab kita adalah memelihara dan memberdayakan nyala api yang telah ditanamkan Tuhan Allah dalam diri kita. Kita perlu mengadakan lompatan iman untuk menggerakkan semangat belajar kita, karena “Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita, kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perbuatan yang baik”(2Tes 2:16-17). Sejatinya, keluarga kita semua berjuang untuk mendapatkan keseimbangan yang tepat antara memperoleh penghasilan hidup dan melayani suatu tujuan. Hendaklah kita berusaha agar keluarga kita menjadi penebar kasih bersaudara dalam perjalanan belajar terus menerus, seperti Keluarga Kudus di Nazareth belajar membangun peradaban kasih. Manusia dipanggil untuk berjumpa dengan semua makhluk ciptaan menurut model dari Sabda Yesus Kristus yang masuk ke dalam dunia dengan menjadi “sama dengan kita, hanya tidak berbuat dosa”(Ibr 4:15). Kehadiran Sabda yang menjadi manusia mengarahkan manusia untuk belajar hidup cerdas, kreatif dan inovatif dalam mengembangkan inteleknya, mengasah perasaannya dan mewujudkannya dengan Membangkitkan (menjumpai dan melibatkan, hadir bagi orang lain dan mengajak untuk berpartisipasi bersama dalam membangun kehidupan), dengan Mengerakkan  (meningkatkan kreativitas hidup secara utuh dan bertumpu pada nilai-nilai dan kearifan hidup masyarakat setempat), dengan Memberdayakan (memperluas, menguatkan dan memperbesar kepercayaan diri dalam kerjasama dengan semua pihak) dan dengan Mencerdaskan (menghadirkan hati nurani pribadi dan komunitas untuk menentukan arah kehidupan yang sesuai dan bermakna berdasarkan iman Kristiani). Jika kita ingin mengarahkan hidup yang bermakna, kita mendorong kemauan serta ketekunan belajar sebagai yang utama dalam hidup sehari-hari: selalu “siap sedia menarik pelatuk: lakukan untuk bangkit dan bergerak maju ! Manusia belajar untuk seluruh hidup dan bukan saja sebagian dari hidup: “Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim 6:10).

Saudara-saudari terkasih,

Belajar tidak saja ditarik oleh kemauan dan kemampuan diri kita, tetapi terdorong oleh suatu panggilan. Kita sadar bahwa kita hidup untuk menjadi tekun belajar secara bermakna dalam hidup bersama sesama. Kita sadar bahwa apa saja yang kita pelajari seharusnya mempunyai hubungan dengan hasil yang melampaui panca indera kita. Kita belajar untuk meninggalkan suatu warisan yang berfaedah bagi banyak orang, sebab “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”(2Tim 3:16-17).  Kita dapat melakukan suatu manfaat besar dalam hidup sesama kita dan dengan demikian membuat hidup kita bermakna dan bermartabat melalui belajar sepanjang hidup ini. Dengan belajar berpikir dan bertindak benar, maka kita dapat menghindarkan diri dari pola hidup pintas untuk mencapai kepuasan hidup. Pola belajar jalan pintas antara lain pengedaran narkoba yang merusak perjalanan hidup manusia, karena manusia ditempatkan dalam keadaan penderitaan sepanjang hidup dan merugikan serta menghancurkan hidup keluarga dan masyarakat. Sejalan dengan jalan pintas ini, terdapat juga orang yang membawa “perolehan” ke rumah sebagai hasil suap, pemerasan ataupun korupsi. Dengan uang kotor, orang semacam ini memenuhi kebutuhan dan memelihara anak-anaknya, tetapi anak-anaknya tetap berada dalam “kehampaan dan kemelaratan”, karena anak-anak tidak punya martabat manusiawi lagi. Dengan “berlaku” demikian, orang tidak mengalami ketenteraman dan kedamaian karena tiada kejujuran dan keadilan dalam pembelajaran hidup. Cara demikian tidak sesuai dengan panggilan hidupnya sebagai manusia yang bermartabat, yaitu memperluas wawasan dalam kebenaran. Oleh karena itu, kita harus belajar hidup benar dan bersih utamanya dalam tatanan hidup politik. Jika terjadi penyelenggaraan pemilihan, maka warga yang baik harus menolak uang politik, tetapi memilih calon yang bersih dan bermartabat. Menerima uang politik berarti bahwa kita menyuburkan sikap dan praktek korupsi dalam hidup kita. Pada galibnya kita tidak menerima apapun dan memilih orang yang tepat dengan hati nurani yang cerdas.

Saudara-saudari terkasih,

Dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial, dan tanpa berkomunikasi dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat pembawaannya. Realitas sosial menjadi tempat perjumpaan dengan sesama dan medan belajar untuk mengembangkan kehidupannya. Hal ini bisa terjadi kalau manusia terbuka dan peka, serta berani masuk sepenuhnya untuk mengalami dinamika sosial yang terjadi. Perkembangan dunia sesungguhnya memerlukan kehadiran orang-orang yang suka belajar bekerja sama. Di dalam belajar bekerja sama yang baik dan benar, manusia mengalami suatu persahabatan, daya dukung bersama untuk mengembangkan lingkungan hidup yang berkelanjutan secara manusiawi. Dengan belajar bersama, manusia memanusiawikan diri bersama sesama dalam lingkungan hidup tertentu dan dengan demikian mendorong komitmen bersama untuk mewujudkan peradaban kasih keadilan dan perdamaian: “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah … supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus”(1Ptr 4:10, 11).

Saudara-saudari terkasih,

Dalam upaya untuk memerangi kemiskinan dalam masyarakat, kehadiran proses belajar merupakan unsur utama. Dengan meningkatkan pengetahuan dalam hidup ini, orang dapat mengisi keperluan mendasar hidup manusiawi. Di samping pelbagai upaya untuk mengatasi kemiskinan, pertama-tama kehadiran pendidikan bagi semua merupakan prasyarat utama. Kelompok orang “miskin” yang memperoleh pendidikan yang sepadan akan membantu mereka untuk mengadakan perubahan dalam hidupnya. Kemiskinan hanya mungkin terhapus oleh orang miskin sendiri. Dengan membuka kesempatan yang luas bagi kelompok orang ini, kita menebar anugerah kebaikan Tuhan, agar semua orang boleh mengalami martabat manusiawi selayaknya.  Perubahan hidup orang miskin memerlukan sumber daya yang membuat mereka mampu mengatasi persoalan hidupnya. Mereka dapat semakin mengembangkan dirinya dengan belajar dari peristiwa hidup yang dijumpainya dalam keluarga, lingkungan hidup, lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga kerjasama yang tersedia. Oleh karena itu, Keuskupan kita membaktikan Tahun 2014 sebagai Tahun Injil Orang Miskin.

Saudara-saudari terkasih,

Mudah-mudahan semangat “belajar sepanjang hidup” mendorong kita untuk membangkitkan serta menggerakkan pola pikir dan pola laku yang baik dan benar guna mengambil bagian dalam perutusan Kristus tentang Kerajaan Allah. Dengan belajar berdasarkan kegembiraan hidup iman, kita menghadirkan dalam dunia kita suatu lingkungan di mana orang belajar bersama untuk saling percaya dalam berbagi hidup bagi semua. Dalam perjalanan hidup ini, kita belajar menekuni kehidupan dengan perilaku jujur dan terbuka, agar melalui upaya belajar sepanjang hidup, kita saling berbagi anugerah kebaikan Tuhan: “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus yang telah memanggil kamu …”(1Ptr 1:14-15).

Dalam masa puasa ini, seraya kita mempersiapkan diri untuk perayaan peristiwa salib dan kebangkitan – di mana kasih Allah menebus dunia dan menyinarkan cahaya ke dalam sejarah umat manusia – saya berharap bahwa kita sekalian memanfaatkan waktu bernilai untuk mengobarkan kembali kegembiraan iman kita akan Yesus Kristus. Dengan demikian kita masuk bersama Dia ke dalam dinamika kasih akan Allah Bapa dan setiap saudara-saudari yang kita jumpai selama perjalanan hidup kita dalam daya Roh Kudus. Saya berdoa kepada Allah dan mohon berkat bagi anda sekalian. Selamat menunaikan ibadah bakti puasa 2014 !  Puasa dan pantang berlaku untuk Hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat selama masa Prapaskah. Marilah kita belajar sepanjang hidup untuk menjadi orang yang murah hati dan peduli sesama dengan penuh sukacita!

Kupang, 2  Pebruari  2014

Salam dan Berkat,

Mgr. Petrus Turang

Advertisements

NILAI DARI KERJA MANUSIA


RD. Gerardus DukaRm. Gerardus Duka,Pr

Gereja katolik Indonesia menetapkan tema Aksi Puasa Pembangunan 2013 (APP) berjudul “ Menghargai Kerja Manusia”. Sebuah tema yang sangat akrab dengan kehidupan manusia setiap hari. Semua orang dari lapisan apa pun, dan tingkat sosial apa pun tidak pernah luput dari kerja. Tema ini akan menjadi buah permenungan umat katolik selama masa prapaskah. Keuskupan Agung Kupang, dalam merefleksikan tema ini, mendapat masukan dan arahan dari Uskup Agung Kupang, yang pada intinya mengajak umat untuk melihat setiap pekerjaan sebagai panggilan Tuhan. Karena pekerjaan itu merupakan panggilan Tuhan maka manusia yang bekerja harus menyadari bahwa aktivitas pekerjaan akan membentuk perilakunya. Dengan bekerja manusia menghormati Tuhan dan sesama. Supaya manusia bisa menjadi bermutu, maka ia harus menyiapkan “dapur sehat”, tandas uskup. Bagi gereja Keuskupan Agung Kupang, roh dari kerja harus menyata pada setiap umat sebagai gereja. Tugas gereja bukan untuk menyiapkan lapangan pekerjaan, tetapi memberi dorongan bagi  warga umat yang bergerak pada lapangan pekerjaan untuk menyadari pekerjaan sebagai panggilan meningkatkan martabatnya. Dalam kerangka APP 2013 di wilayah gerejawi Keuskupan Agung Kupang, saya mencoba memberi catatan atasnya:

 1. Spiritualitas Kerja Manusia

 Dalam Kitab suci, khusus pada kisah-kisah awal penciptaan, ditegaskan bahwa manusia diciptakan untuk bekerja, untuk menaklukkan bumi, untuk mengolah dan memelihara taman yang ditanami Allah baginya (bdk. Kej. 2: 15). Allah juga memberi spesialisasi kerja kepada manusia dengan disebutkan pada silsilah penciptaan yang memperlihatkan bagaimana berkat Allah yang pertama itu dilaksanakan. Disini, kita melihat spiritualitas kerja harus dialami dalam konteks bahwa  manusia dalam kerja, ia mengambil bagian dalam penciptaan baru Allah. Nilai kerja manusia menurut rencana Allah ada pada usaha untuk menaklukan bumi dan menguasainya. Dengan kerja, manusia menghubungkan dirinya dengan Allah yang harus diakui sebagai Tuhan dan Pencipta segala sesuatu. Jadi dengan menundukan segala sesuatu ke bawah manusia, nama Allah akan dipermuliakan di seluruh dunia (bdk. GS. 34). Jadi, dengan bekerja manusia merealisir martabatnya sekaligus menunjuk tentang dirinya sebagai puncak dari segala ciptaan.

Selanjutnya, kita melihat bahwa nilai dan arti dari kerja adalah menghadirkan Allah bagi dunia dan memuliakan Allah yang memberi kemampuan bagi manusia untuk menguasai dan mengolah ciptaan lain. Manusia dan pekerjaannya bukan sesuatu yang terpisah sama sekali. Kerja bukan unsur tambahan dari hidup manusia, tetapi hal yang menyatu dengan manusia. Manusia dan kerjanya di lihat dalam nilai yang paling tinggi, karena di dalam dan melalui pekerjaan itu manusia melaksanakan diri sebagai “co-Creator” dari Allah. Artinya, manusia menjadi bagian yang tidak terpisah dari penciptaan Allah yang masih berlangsung. Manusia mewarisi tanggungjawab untuk melanjutkan karya ciptaan Allah melalui kerja yang baik dan produktif. Dengan kerja yang baik dan produktif, manusia menunjukkan dirinya sebagai makluk ciptaan yang bermartabat tinggi dari ciptaan lain. Kerja membuat manusia semakin manusiawi dan juga menjadikannya sebagai makluk rohani yang berkenan di hadapan Allah.  Melalui spiritualitas kerja manusia, kita lalu bisa melihat beberapa dimensi dari kerja manusia itu sendiri, dengan kata lain  melalui kerja manusia menghadirkan beberapa dimensi sebagai makluk yang beradab.

2. Dimensi kerja manusia

Kerja mendorong manusia untuk menghormati Tuhan dan sesama. Indikasi kerja manusia bisa ditemukan dalam dimensi-dimensi:

2. 1. Dimensi personal

Kerja manusia, tidak saja menjadi tempat mendapatkan kehidupan dan penghidupan yang layak, tetapi dengan kerja manusia mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang utuh, total bagi dunia dan bagi Allah. Kerja menunjuk pada perealisasian seluruh kapasitas dirinya sebagai pribadi yang lain dari orang lain. Karena itu sering di lihat bahwa orang yang bekerja keras dan berkualitas akan menjadi orang yang berhasil. Kerja membentuk seseorang menjadi lebih matang dan bertanggungjawab atas hidupnya sebagai anugerah yang paling tinggi. Dengan kata lain  melalui kerja, seseorang menampakan bagi dunia dirinya dan seluruh kemampuannya sebagai anugerah Allah yang harus dikembangkan dan ditumbuhkan menuju kepada kesempurnaan seperti Allah.

2. 2. Dimensi sosial

Dengan kerja, manusia tidak hanya mengenal dirinya, tetapi juga membangun relasi dengan orang lain. Kerja akan menjadi bermutu apabila hasil dari pekerjaan itu mendatangkan kesejahteraan juga bagi orang lain. Realisasi diri manusia hanya bisa berkembang dengan baik, jika kerja itu diarahkan kepada kesejahteraan bersama, bagi orang lain. Melalui kerja, manusia dapat mengenal dunianya sebagai perpaduan ciptaan yang menarik, indah. Orang yang bekerja dengan tekun, ia akan memberi ruang bagi orang lain untuk menikmati hasil dari kerjanya. Kerja yang mendatangkan kesejahteraan bagi orang lain merupakan juga ibadah kepada Allah. Dimensi sosial dari kerja tidak sebagai hal yang ditambahkan, tetapi menunjuk pada manusia dari kodratnya tidak hidup sendiri, tidak bekerja sendiri tetapi selalu bersama-sama. Kitab Kejadian mengatakan.

…” Ketika manusia pertama Adam diciptakan, ia tetap merasa sepi. Allah menempatkan seluruh ciptaan lain dihadapannya tetapi seluruh ciptaan itu tidak mampu mengusir kesepian Adam. Maka dibentuklah oleh Allah seorang wanita (Eva). Dan ketika Adam melihat Eva ia berseru- inilah dia, (Kej.2: 18, 22, 23).

Kisah ini menunjuk bahwa manusia membutuhkan orang lain, Adam membutuhkan Eva untuk bisa mengusir kesepiannya. Manusia butuh orang lain yang sesuai dengan dirinya (martabatnya) untuk bekerja sama membangun dunia demi kesejahteraan bersama.

2. 3. Dimensi Rohani

Kerja harus dipandang sebagai sebuah ibadah. Artinya, dengan bekerja, orang semakin menjadi manusiawi. Karena kerja merupakan kodrat dirinya sebagai manusia pekerja (homo faber). Berarti, kerja tidak ikut selera, tetapi kerja harus mendapat aspek rohani agar kerja itu bisa mendatangkan nilai kebaikan bagi dirinya, bagi sesama, lingkungan dan demi kemuliaan Tuhan. Dengan bekerja, manusia memberi arti baru bagi karya ciptaan lain.

Melalui kerja yang tekun, orang menemukan relasi mendalam dengan dirinya. Artinyanya ia menemukan nilai kemanusiaan secara sempurna dan dari sana ia menemukan Tuhan yang tidak kelihatan tetapi nampak dari kerja yang ia lakukan. Melalui kerja yang tekun dan benar, manusia menemukan dirinya sebagai pribadi pendoa, yang bisa memampukan orang untuk selalu menghadirkan dalam dirinya nilai iman, khusus dalam relasi dengan kemampuannya yang kadang mengalami kerapuhan, tetapi disempurnakan oleh Tuhan. Inilah yang perlu disyukuri, karena melalui kerja itu manusia menghadirkan dalam dunia nilai kebaikan bagi orang lain dalam aspek kesejahteran bersama. Bekerja lalu bisa diartikan dengan berdoa, dengan demikian ikatan manusia dengan Tuhan teralami dalam sebuah kerja yang terahmati.

3. Butir kesimpulan

Mengakhiri pemikiran singkat di atas, saya memberi beberapa butir yang menjadi fokus dalam menjalani refleksi pra-paskah melalui tema APP 2013 “Menghargai Kerja”, untuk melihat manusia sebagai seorang pekerja:

  • Kerja merupakan partisipasi manusia dalam penerusan karya penciptaan baru Allah.
  • Dengan bekerja, manusia akan lebih manusiawi. Dkl. kemanusiaan manusia nampak dalam kerja yang tekun dan menghasilkan kesejahteaan bagi orang lain dan bagi kemuliaan Tuhan.
  • Kerja manusia tidak saja untuk kehidupan secara ekonomis, tetapi melalui kerja nampak dimensi personal, sosial dan rohani sebagai dasar dalam hidup menuju persekutuan yang sempurna dengan Allah.
  • Melalui kerja manusia tumbuh dalam Iman, Harapan dan Kasih, kepada tanggungjawab meneruskan karya penciptaan baru Allah.
  • Tahun iman yang telah diumumkan oleh Paus Benediktus XVI,  melalui Surat Apostolik “Porta Fidei” lalu dapat menjadi ruang menjalankan gerakan APP 2013 di Keuskupan Agung Kupang. Karena manusia beriman yang bekerja, ia mewujudkan panggilan imannya dalam upaya menuju kepada kehidupan sempurna bersama Allah.  Yesus bersabda, ‘’Bapa bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja, dan setiap pengikutku, muridKu juga harus bekerja sama seperti Aku bekerja bagi dunia dan murid-muridKu bekerja untuk memuliakan Allah. Mari mewujudkan gerakan APP 2013 dalam roh Tahun Iman, agar tumbuh pengenalan yang benar akan Allah dan hidup manusia penuh suka cita..

*(Sekretaris Keuskupan Agung Kupang)

 

Karya kerasulan sosial ekonomi Gereja Katolik Indonesia perlu dikembangkan  melalui  “Kaderisasi Penggerak Sosial Ekonomi”. Untuk itu sebagai  bahan refleksi bersama termuat gagasan  dari Mgr. Petrus Turang bagi para penggerak sosial ekonomi di tingkat keuskupan dan paroki.