Tahun Injil Orang Miskin (TIOM) 2014: PENJELMAAN SABDA MELALUI POLA 3M


Oleh Kanis Kusi – Ketua Komisi PSE Keuskupan Agung Kupang

 Paus Fransiskus dalam surat apostoliknya “Evangelii Gaudium/EG”24 Nopember 2013 (Kegembiraan Injil) mengatakan : “Bagi saya adalah lebih baik sebuah Gereja yang peot, yang terluka dan bernoda, karena ia berjalan ke luar jalan-jalan, daripada sebuah Gereja yang sakit, yang karena ketertutupan dan kenyamanannya, terpaku pada keamanan diri sendiri” (EG Nr. 49).

Gereja adalah himpunan orang-orang yang digerakkan untuk berkumpul oleh Firman Allah, yakni berhimpun bersama untuk membentuk Umat Allah  dan yang diberi santapan dengan Tubuh Kristus, untuk menjadi Tubuh Kristus” (Bdk. Katekismus Gereja Katolik, art. 777).

Sebagaimana Kristus melaksanakan rencana penyelamatan Bapa-Nya di dalam dan bagi dunia, demikian juga Gereja – Keuskupan Agung Kupang –  sebagai persekutuan umat beriman yang percaya kepada-Nya melaksanakan tugas yang satu dan sama yakni “mewujudkan kegembiraan” di dalam dan bagi umat, khususnya orang-orang miskin di paroki-paroki se-Keuskupan Agung Kupang.

Oleh karena itu, pengabdian Gereja sebagai perwujudan panggilan serta perutusan Kristus dalam dunia ini menuntut keterlibatan dan tanggung jawab langsung demi utuhnya hidup manusia baik secara perorangan maupun secara bersama-sama. Pemimpin umat, sebagai pelayan Gereja (para imam, hidup bakti, dewan pastoral paroki dan pusat koordinasi pastoral/komisi), pertama-tama harus merupakan tanda kasih Allah bagi manusia, khususnya orang-orang miskin di paroki-paroki se-Keuskupan Agung Kupang.

Sehubungan dengan itu, dalam dan melalui TIOM, pemimpin umat (para imam, hidup bhakti, dewan pastoral paroki, pusat koordinasi pastoral/komisi) di Keuskupan Agung Kupang diharapkan mampu menjelmakan Sabda (baca : Evangelii Gaudium) melalui karya-karya nyata yang sungguh menjawab kebutuhan orang miskin. Fokus perhatian Keuskupan Agung Kupang dalam TIOM adalah menghadirkan kegembiraan iman yang bermutu dan efektif agar orang-orang miskin mempunyai daya dan kemampuan untuk memperbaiki nasib sendiri. Kepada mereka Gereja – Keuskupan Agung Kupang –  mewartakan kabar gembira tentang Kerajaan Allah, seperti yang sudah dilakukan Yesus sepanjang hidup-Nya. Yesus memilih hidup bersama orang kecil untuk menghadirkan Kerajaan Allah dan menanggung segala beban hidup manusia (Bdk. Mat 11:28)

Manusia sebagai gambar dan citra Allah memiliki talenta dan kemampuan  untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah. Di dalam hati nuraninya, manusia menemukan hukum yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan perbuatan baik dan menghindari perbuatan yang jahat. Sebab dalam hatinya, manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah (Bdk. Gaudium et Spes art. 16). Atas dasar hati nurani inilah, manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah melalui tindakan dan karyanya di dunia.

Dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial, dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat pembawaannya (Gaudium et Spes art. 12). Dalam dirinya, manusia membawa nilai-nilai hidup yang berasal dan bersumber dari Allah. Nilai-nilai ini menjadi bermakna manakala manusia membangun komunikasi sosial yang efektif dengan sesama. Melalui komunikasi sosial dengan sesama dan lingkungan hidup, manusia berkembang dalam segala bakat pembawaannya dan mampu menanggapi panggilannya untuk membawa kegembiraan  bagi sesama, khususnya bagi orang miskin.

Allah menciptakan manusia bukan untuk hidup sendiri-sendiri, melainkan untuk membentuk kesatuan sosial. Sebab, Sabda Yang Menjelma telah menghendaki menjadi anggota rukun hidup manusiawi. Sang Sabda menguduskan hubungan-hubungan antar manusia, terutama hubungan keluarga, sumber kehidupan sosial. Dalam pewartaan-Nya, Dia memerintahkan dengan jelas kepada manusia supaya mereka berperilaku sebagai saudara satu sama lain. Bahkan Dia sendiri hingga wafat-Nya, mengorbankan Diri bagi semua orang, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabat-Nya” (Yoh. 15 : 13).

Inkarnasi Allah, Sabda menjadi manusia menunjukkan solidaritas Allah dengan manusia, dengan “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil. 2:7), menunjukkan semangat belarasa, hati yang tergerak oleh belas kasihan kepada mereka yang menderita (Mat. 9:36), dan mengupayakan hidup baru dan berkelimpahan dengan membawa kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi tawanan, penglihatan bagi orang buta, dan pembebasan bagi orang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Bdk. Yes 61 : 1-2 dan Luk. 4 : 18-19). Dalam penjelmaan-Nya, Sang Sabda telah menyatukan diri dengan setiap orang. Sang Sabda telah bekerja memakai tangan manusiawi, Dia berpikir memakai akal budi manusiawi, Dia bertindak atas kehendak manusiawi, Dia mengasihi dengan hati manusiawi (Bdk. Gaudium et Spes art. 22).

Inilah wujud dan ungkapan keberpihakan Allah untuk melibatkan diri-Nya dalam hidup manusia, supaya manusia berkembang dalam kebersamaan-Nya dan cerdas dalam memilih dan menentukan arah hidupnya yang sesuai, bermakna dan bernilai.

Tahun Kegembiraan Injil bagi Orang Miskin (Evangelii Gaudium) adalah Sabda yang menjelma dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindak Gereja Keuskupan Agung Kupang. Dan dengan demikian mampu memberikan kesejahteraan rohani dan jasmani bagi orang miskin, sebagaimana Sabda yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.

Gerak turun Sang Sabda (inkarnasi) menjadi inspirasi bagi gerak TIOM dalam menjelmakan Evangelii Gaudium melalui kegiatan-kegiatan peduli orang miskin di wilayah pelayanan Keuskupan Agung Kupang. Penjelmaan itu harus nampak dan hadir melalui terciptanya mata pencaharian dan pekerjaan, perumahan sehat,  kesehatan dan gizi, pendidikan anak-anak dan orang muda, kerja sama dengan  program pemerintah, pembangunan pertanian/peternakan yang berkelanjutan,  pengembangan potensi kelautan bagi masyarakat pesisir, kerja sama dalam tabungan (koperasi), pengembangan usaha-usaha produktif bersama serta kerja sama antar paroki dalam upaya pemberdayaan orang miskin di paroki se- Keuskupan Agung Kupang. TIOM sebagai tahun penuh rahmat adalah bagian dari refleksi, gerakan tobat, solidaritas dan bela rasa untuk menghadirkan Sabda menjadi daging di tengah-tengah realitas kehidupan umat Keuskupan Agung Kupang, khususnya orang miskin yang ada di paroki.

TIOM membantu Gereja Keuskupan Agung Kupang untuk menjadi sarana penggerak dan gerakan Penjelmaan Sabda bagi hidup manusia untuk semakin cerdas dalam membaca realitas kehidupan umat di Keuskupan Agung Kupang, di mana umat beriman semakin melibatkan diri, mengembangkan dan mencerdaskan dalam memenuhi kebutuhan hidup orang-orang miskin sesuai tanda-tanda jaman. (Bdk.GES art 1).

Sebagaimana gerak turun dari Penjelmaan Sabda yang tinggal dan hadir dalam realitas pergumulan hidup manusia, TIOM sebagai sarana dan jalan baru pengembangan hidup manusia mengutamakan pola karya pastoral 3M : “Melibatkan, Mengembangkan, dan Mencerdaskan sesuai cara bertindak Yesus.  Pola 3M ini terinspirasi oleh misteri penjelmaan Allah dalam hidup manusia, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14).

Misteri penjelmaan Allah merupakan wujud dan ungkapan keberpihakan Allah untuk melibatkan diri-Nya dalam hidup manusia, supaya manusia berkembang dalam kebersamaan-Nya dan cerdas dalam memilih dan menentukan arah hidupnya yang sesuai, bermakna dan bernilai.

MELIBATKAN berarti menjumpai, hadir secara bermutu bagi orang lain, terutama orang-orang miskin yang berada di sekitar kita (Keluarga, KUB, Kapela, Paroki) sehingga secara cerdas dan bermutu mengenal keadaannya yang sesungguhnya. Mengajak mereka, orang-orang miskin dengan kemampuan yang ada padanya untuk terlibat bersama dalam membangun kehidupan yang lebih menggembirakan. Keterlibatan membutuhkan “keterpanggilan dan ketergerakan hati” dari para pemimpin umat, baik para imam, para hidup bakti/tarekat, dewan pastoral paroki maupun pusat koordinasi pastoral/komisi untuk memperhatikan saudara-saudari yang berada dalam kekurangan.

MENGEMBANGKAN berarti meningkatkan kualitas hidup umat secara utuh, terutama orang miskin, dengan bertumpu pada nilai-nilai dan kearifan hidup umat setempat untuk berjalan bersama memperbaiki lingkungan hidup. Kualitas hidup mencakup pola pikir, pola sikap dan pola tindak umat setempat yang berlandaskan nilai-nilai : solidaritas, tanggungjawab, saling percaya, keterbukaan, kejujuran, kerja sama, keadilan, kedamaian, pengorbanan, kesetiaan dan cinta kasih.

MENCERDASKAN berarti memberdayakan diri, secara pribadi dan bersama-sama sehingga mampu memilih dan menentukan arah kehidupan yang sesuai, bermakna dan bernilai secara berkelanjutan. Juga kecerdasan hati yang bisa berbagi dan menghargai berbagai pengalaman yang membahagiakan agar mampu secara pribadi maupun bersama-sama mengatasi berbagai kesulitan hidup orang miskin. Belajar bersahaja agar terbuka hati untuk melihat kebutuhan orang miskin serta menjadi saudara satu sama lain dan saling memperhatikan.

Manusia diciptakan dan dipanggil untuk berjumpa sepenuhnya dengan semua ciptaan menurut model dari Sabda Yesus Kristus yang masuk ke dalam dunia dengan menjadi “sama seperti kita, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr, 4.15). Kehadiran Sabda yang menjadi manusia mengarahkan manusia untuk cerdas dan kreatif mewujudkan nilai-nilai kemanusiaannya dalam membangun komunikasi sosial.

Kerja sama bersaudara dalam TIOM seturut Sabda yang Menjelma Menjadi  Daging dengan daya-daya hidup (nilai-nilai ilahi) yang semakin berkembang dalam diri umat di wilayah Keuskupan Agung Kupang : saling memperhatikan, saling menghormati, saling menghargai, saling mendukung, menjadi saudara satu sama lain, menjadi tolak ukur arah dan tujuan dari TIOM. Dengan demikian perwujudan pastoral 3M : Melibatkan, Mengembangkan dan Mencerdaskan, menjadi pola dan jalan baru Peduli Orang Miskin untuk hidup sejahtera rohani dan jasmani di Keuskupan Agung Kupang.

Percayalah …!! “Yang dinilai Allah, bukan seberapa besar hasil yang dicapai dalam “DREAM”, tapi seberapa besar KESETIAAN kita untuk tetap mencapainya dalam “DESTINY”. Semoga.

Sumber inspirasi :

  • Kompendium Ajaran Sosial Gereja (ASG), 2009
  • Konpernas Komisi PSE KWI XXII, Sept. 2011
  • Retret Sosial (Retsos) Penggerak Kerasulan PSE Regio Nusra, Nop. 2012.
  • Seminar Evangelii Gaudium dan Temu Pastoral Keuskupan Agung Kupang, Jan. 2014

 

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: