Pesan Puasa 2014; Uskup Agung Kupang


OLYMPUS DIGITAL CAMERA“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”  (Yoh 10:10)

Saudara-saudari terkasih,

Kita telah terbiasa mendengar dan melihat, melalui media sosial, kisah-kisah yang menyedihkan dari masyarakat dewasa ini. Penayangannya membuat kita terusik karena tersentuh olehnya, mendengarnya dan melihatnya di sekitar kita. Kisah-kisah yang menyedihkan dan menggembirakan ini bercampur-baur di jalan-jalan, lingkungan tetangga, rumah kita, dan juga, mengapa tidak, dalam hati kita. Penderitaan tidak pernah sirna dari lingkungan hidup kita: pelanggaran hak-hak mereka yang rentan, cinta akan uang dengan kejahatannya seperti narkoba, korupsi, lintah darat, perdagangan manusia serta penghancuran sumber daya alam, di tengah kemelaratan serta kepapaan material, moral dan spiritual. Kesalahan dan dosa kita sebagai Gereja juga tidak luput dari pemandangan yang menyeramkan ini. Hilangnya nilai-nilai etis dalam masyarakat menyebar ke dalam keluarga-keluarga, kebersamaan bertetangga di perdesaan dan perkotaan. Para petani, peternak dan pedagang kecil tetap mengalami diri terpinggirkan, karena mereka tidak mampu menjalin hubungan dengan permodalan, pengetahuan serta ketrampilan yang memadai akibat kemiskinan. Nyatalah keterbatasan, kelemahan serta ketidak-berdayaan kita untuk mengadakan perubahan atas daftar tak terbilang dari kenyataan-kenyataan yang menyedihkan, merugikan dan merusak keutuhan ciptaan dan martabat manusiawi. Pertanyaannya, apakah kita orang beriman Katolik membiarkan lingkungan demikian berkecamuk tanpa kesadaran untuk mendorong perubahan?

Saudara-saudari terkasih,

Masa Puasa menghampiri kita sebagai suatu seruan akan kebenaran dan harapan pasti, yaitu hidup tanpa topeng dan menghilangkan senyuman palsu kita. Memang, mungkinlah bahwa segalanya menjadi baru dan berbeda, karena Allah tetap  kaya dalam kebaikan dan belaskasih, selalu suka mengampuni. Dia menyemangati kita untuk mulai lagi, yaitu melakukan suatu perjalanan kemuridan paskah menuju Kebenaran, sebuah perjalanan yang mencakup salib dan pantang, yang nampaknya tidak menyenangkan, tetapi tidak hampa makna. Kita menjadi sadar untuk mengakui bahwa terdapat sesuatu yang salah dalam diri kita, masyarakat dan  Gereja : perlu perubahan, berbalik dan bertobat. Masa liturgi yang mulai Hari Rabu Abu bukan hanya bagi diri kita, tetapi juga bagi pembaruan hidup iman keluarga-keluarga kita, komunitas-komunitas kita, Gereja kita, tanah kelahiran kita, seluruh dunia. Masa ini berlangsung selama 40 hari untuk bertobat kepada kekudusan Allah; menjadi rekan sekerja yang menerima rahmat dan peluang untuk membangun kembali hidup manusia, sehingga setiap orang akan mengalami keselamatan yang Kristus anugerahkan bagi kita melalui Wafat dan Kebangkitan-Nya. Bersama dalam doa, pantang dan pendalaman tema APP perihal “Belajar Sepanjang Hidup”, kita mengembangkan dan mencerdaskan nurani kekuatan Paskah yang mengubah segalanya, dan rela menggerakkan hati akan “amalkasih puasa kita”, yaitu Solidaritas Aksi Puasa Pembangunan, dengan murah hati dan penuh syukur.

Saudara-saudari terkasih,

Gereja Keuskupan Agung Kupang dalam usianya ke-25 Tahun bergerak bersama menuju Paskah dan percaya bahwa Kerajaan Allah adalah mungkin dalam lingkungan hidup ini. Kita perlu musim baru yang bersemi dari hati kita, merekah mempesona karena rindu akan pertobatan dan kasih, rahmat dan gerakan efektif guna meringankan kesedihan begitu banyak saudara-saudari yang berjalan bersama kita. Tiada perbuatan kebajikan dapat tumbuh besar, jika tidak disertai oleh kemanfaatan bagi orang lain. Sejalan dengan peringatan 25 Tahun Keuskupan Agung Kupang dengan gagasan “Tahun Injil Orang Miskin”, marilah kita menjalaninya  dalam nada syukur sebagai suatu kesempatan untuk menegaskan bahwa Allah menganugerahi kita daya tumbuh menjadi dewasa dalam perjumpaan dengan Tuhan yang membuat diri-Nya kelihatan dalam wajah-wajah sesama kita: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”(Mt 25:40). Kita peduli akan wajah-wajah sekian banyak kaum muda tanpa masa depan, akan tangan-tangan gemetar dari orang-orang lansia yang terlupakan dan akan sekian banyak keluarga yang terus menghadapi hidup yang berkekurangan tanpa menemukan bantuan dan sokongan apapun. Pada tahun berahmat ini, marilah kita belajar menjadi murid Kristus dengan melibatkan diri guna memberdayakan serta mencerdaskan sesama kita dalam membangun keseimbangan hidup yang layaknya manusiawi. Hai orang-orang Katolik seKeuskupan Agung Kupang, beranilah menjadi sesama sejati bagi saudara-saudari yang berkekurangan dan berbagilah sumber-sumber daya hidup dengan murah hati, karena Kristus menghendaki hidup layak bagi semua orang.

Saudara-saudari terkasih,

Akhirnya, saya menghaturkan masa Puasa yang kudus, masa Puasa yang penuh pembaruan diri dan berbuah limpah dalam “semangat Injil Orang Miskin”. Doakanlah selalu Uskupmu ini. Tuhan Yesus memberkati dan Perawan Maria melindungi kalian semua, saudara-saudariku terkasih.

Kupang, 8  Pebruari 2014

Salam Hormat dan Berkat,

Uskupmu Petrus Turang

Catatan :  Pesan Puasa ini hendaknya dibacakan tanpa komentar pada Perayaan Misa atau Ibadat Tanpa Imam, tanggal 2 Maret 2014, di semua gereja di Paroki, Stasi dan  Kapela yang bernaung dalam Keuskupan Agung Kupang. Perbuatan pantang dan puasa berlaku pada hari Rabu Abu dan setiap Hari Jumat selama masa Prapaskah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: