Renungan Akhir Tahun 2013


 

Salam dalam kasih Yesus Kristus

Saudara saudara perempuan dan laki-laki terkasih,

Keadaan kita

Di tengah terpaan kesulitan hidup sosial ekonomi, kita telah merayakan Tahun Iman dan Natal 2013 dengan penuh syukur, seraya dengan penuh pengharapan menyambut kehadiran Tahun 2014. Perjalanan kita sebagai anggota masyarakat dan orang beriman telah mengalami aneka peristiwa yang menggugah nilai-nilai kemanusiaan. Kita mengalami aneka gejolak sosial ekonomi, budaya dan politik, seperti persoalan bahan pangan, upah pekerja, korupsi politik, hasil usaha tani dengan harga merosot, gerakan sosial yang sarat dengan kekerasan serta lapangan kerja yang memperbudak sebagian masyarakat sampai dengan perdagangan manusia, berbarengan dengan gejolak alam yang tidak pasti.

Di samping itu, masyarakat kita sedang bergerak menuju perhelatan demokarasi Pemilu dan Pilpres 2014. Pengalaman akan keadaan sosial ekonomi, yang mengancam pasar dan keuangan secara mendunia, memperlihatkan kerja sama sosial ekonomi yang terperangkap dalam keadaan yang berbahaya bagi kesejahteraan manusia. Kesemuanya sangat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan secara manusiawi. Keluarga-keluarga merasakan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan yang layak, yang berdampak pada pendidikan dan kesehatan.

Tantangan Hidup Kita

Kita menyaksikan bagaimana pemerintah serta pemerhati sosial ekonomi masyarakat berupaya menemukan kebijakan untuk menggerakkan kepercayaan masyarakat. Nyatanya, banyak kalangan masyarakat kita terperangkap dalam praktek-praktek jangka pendek yang belum meyakinkan rasa aman dalam mengelola penghidupan dan hidupnya. Kerjasama manusiawi tidak terjadi segera, karena masing-masing orang atau kelompok mencari keamanan untuk mempertahankan diri. Janji-janji politik tetap unggul dalam tebar pesona dengan sedikit dampak dalam proses perubahan menuju kesejahteraan bersama. Tanda-tanda kegelisahan sosial ekonomi sedang mengitari perjuangan hidup masyarakat kita. Peduli manusia nyatanya hanya bercorak sementara, karena kebijakan politik tidak berani menegaskan keberpihakan yang memberdayakan rakyat. Tantangan-tantangan di atas ini sangat mempengaruhi kejiwaan manusia dan kesadarannya mengalami gangguan akibat kemendesakan sosial ekonomi yang menekan.

Panggilan Mitra Penciptaan

Keyakinan kita bahwa Tuhan menciptakan barang-barang di dunia demi kesejahteraan hidup semua orang nampaknya tidak sepenuhnya terpahami oleh manusia yang menyebut dirinya orang beriman. Peringatan Tuhan, agar manusia berjaga-jaga, kurang menggerakkan kepedulian manusia secara mendasar, selain demi memenuhi hasrat perasaan yang kurang sejalan dengan cita-cita penciptaan. Manusia melambungkan nada-nada yang sehati sesuara, tetapi belum sesaudara, sehingga pelbagai bentuk kekerasan dengan mudah terpicu dan terjadi dalam masyarakat kita. Seringkali, perselisihan kepentingan dengan cepat  berujung pada tindakan-tindakan yang tidak sayang akan kehidupan, khususnya kekerasan dalam rumahtangga dan pelarian diri seperti narkoba, yang melahirkan pemerasan dengan segala akibatnya. Nyatanya, manusia tidak berkembang sebagai mitra Pencipta, tetapi sebaliknya menguras habis anugerah ciptaan Tuhan dengan tamak, seperti pembalakan liar, pembakaran hutan, pemakaian pupuk kimiawi dan bom ikan yang menyebabkan musnahnya keragaman hayati.

Kegembiraan Injil

Peristiwa Natal selalu mengingatkan kita bahwa Yesus Kristus menjelma menjadi manusia untuk menghadirkan damai sejahtera Allah. Keselarasan lingkungan hidup dan keserasian di antara manusia sebagai warta Natal nampaknya tidak menjadi kepedulian yang mengarahkan manusia kepada kebaikan seutuhnya. Memang, manusia mendapat arahan kembali kepada tujuan penciptaan, biarpun manusia bebas menentukan hidupnya sendiri. Dengan menjelma sebagai manusia, Allah secara mendasar menghormati dan menghargai kemanusiaan dengan kasih yang demikian besar. Gaya hidup Allah sendiri diperagakan dalam diri Yesus Kristus dan manusia diundang untuk mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri (bdk. Rom 5:1-2).

Dengan mengambil prakarsa untuk mendamaikan diri-Nya dengan manusia, Allah memanggil dan menuntun manusia ke “padang rumput yang hijau”, yaitu persaudaraan dan persahabatan. Dalam kemurahan hati dan kerahiman-Nya, Allah membuka jalan baru, agar kita membangun sikap rela berbagi demi kesejahteraan bersama. Inilah kegembiraan injil yang perlu dipahami dengan benar dan dipraktekkan dalam perjalanan hidup bersama.

Kerjasama Terbuka

Di dalam upaya menemukan cara yang tepat bagi aneka kesulitan hidup sosial ekonomi dan politik, kita perlu mengarus-utamakan kerjasama yang efektif dan kreatif. Oleh karena itu, upaya-upaya kooperatif dalam masyarakat kita hendaknya dipelihara, dihormati dan dikembangkan, sehingga keserasian hidup kita dapat tumbuh secara berdaya-guna dalam upaya mengembangkan, meningkatkan dan mencerdaskan kesejahteraan bersama. Upaya-upaya pastoral dalam komunitas basis hendaknya memperhatikan keprihatinan yang ada di dalam lingkungan hidupnya. Kerjasama yang menjunjung harkat manusiawi pasti akan membuka kemungkinan bagi setiap orang untuk merasakan hidup layak, apa pun jenis pekerjaannya. Dengan kerjasama yang terbuka dan jujur, maka pelayanan publik, pasar dan masyarakat warga akan berjalan seturut tatakrama peradaban kasih, karena itulah yang ditegaskan secara terwahyukan oleh peristiwa Natal, yaitu mendorong kita untuk meneladani gaya kerjasama Allah sendiri yang membawa damai sejahtera.

 

Kerjasama Antarumat Beragama

Kita menyaksikan bahwa terdapat keengganan, bahkan kebencian, dalam kehidupan bersama akibat perbedaan keyakinan hidup. Biarpun banyak persoalan sosial tidak dapat dipandang sebagai akibat perbedaan agama, namun akhir-akhir ini di banyak belahan dunia kita, agama diperalat sebagai ajang pelampiasan kemarahan dan kekerasan, yang mengakibatkan sesama kehilangan nyawa atau pun terpinggirkan dari hidup sosial karena perbedaan keyakinan iman. Semua umat beragama perlu tersedia dan siaga, untuk saling merangkul dan saling membantu. Dengan demikian, kerukunan dan keterbukaan dialogis dapat memajukan kebersamaan hidup, justeru karena adanya perbedaan keyakinan hidup. Dengan mengembangkan tata kelola bersama dalam hidup sosial, khususnya dalam upaya bersama memerangi ketidak-adilan dan kemiskinan, kehadiran agama-agama yang berbeda pasti semakin mampu mendorong terciptanya kerukunan sejahtera bersama.

Pengharapan Tahun 2014

Menurut iman Kristiani, kelahiran Yesus Kristus sebagai manusia adalah anugerah kemanusiaan yang paling dalam dan paling unggul. Di dalam peristiwa iman ini, umat manusia berjumpa dengan Pribadi yang murah hati bagi semua orang: Pribadi Yesus Kristus menghadirkan cakrawala baru bagi siapa saja yang berjumpa dengan-Nya secara ikhlas dan jujur. Peristiwa Natal selalu membuka cakrawala baru bagi manusia, yang sering kehilangan arah dan pegangan dalam menelusuri lorong-lorong kehidupannya. Natal membangkitkan kembali kepercayaan diri dan sikap saling percaya di tengah tantangan dan perjuangan hidup yang penuh kegamangan akibat egoisme dan kebencian (Bdk. Kol 3:12-15).

Seraya mengucap syukur atas kemurahan Tuhan, pantaslah kita tergerak dan tergetar oleh cintakasih Yesus Kristus yang turun ke bumi untuk mewartakan kebaikan dan kebenaran, yaitu damai sejahtera bagi manusia yang berkenan kepada Allah. Dengan pengantaraan perayaan kelahiran Yesus Kristus, kita siap menapaki Tahun 2014 dengan iman yang teguh dalam pengharapan. Kecakapan iman ini dapat membuat kita merasa aman dan tenteram untuk menjalani Tahun 2014 menurut kehendak Allah. Di Keuskupan Agung Kupang, Tahun 2014 akan ditetapkan sebagai “Tahun Injil Bagi Orang Miskin. Mudah-mudahan keluarga-keluarga kita tumbuh dan berkembang sebagai pewarta Injil bagi orang miskin. Keluarga kita menjadi keluarga kristiani yang sejati, bila kita memerhatikan dan peduli sejati akan hidup orang miskin. Keluarga kita harus mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam mengentaskan orang dari kemiskinan.

Dengan saling mengucapkan Salam Sejahtera Tahun Baru 2014 Dalam Kasih Yesus Kristus’, kita bersama-sama menarik pelatuk dan melakukan gerakan perubahan bersama orang-orang miskin.

 

Kupang, 30 Desember 2014

Salam dan Berkat,

Mgr. Petrus Turang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: