TOBAT SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PERWUJUDAN IMAN DAN IMPLIKASINYA DALAM KERJA SEORANG IMAM


*RD. Kornelis Usboko

1. PENGANTAR

Dalam rangka memasuki masa pra Paskah 2013, suatu kesempatan mempersiapkan diri untuk merayakan Hari Paskah, kita mengadakan rekoleksi seraya merenungkan tema: Tobat Sebagai Salah Satu Bentuk Perwujudan Iman dan Implikasinya Dalam Kerja Seorang Imam.

2. TOBAT

Satu aspek penting dalam kehidupan orang beriman menuju keselamatan kekal ialah tobat. Tobat adalah menyadari kekurangan, menyesali perbuatan dosa secara sungguh-sungguh dan berusaha menjadi lebih baik. Banyak nabi selalu menyerukan pertobatan agar manusia dapat menjumpai Allah Yang Kudus. Perjanjian Lama mengajak para pendosa untuk mengakui dosanya dalam bentuk puasa (1 Sam. 7:6, Yun.3:7), pengenaan pakaian berkabung dan duduk di dalam debu (2 Raj 19:1-2, Yes. 22: 12, Yun 3:5-8). Sementara Perjanjian Baru menceriterakan sikap Tuhan yang Maha rahim (Pengampun) dan para pendosa yang sungguh bertobat: Luk.5:32 menceriterakan tentang wanita pendosa yang bertobat, Luk.7:36-50, menceritakan tentang Zakeus, kepala pemungut cukai yang bertobat karena dia juga adalah keturunan Abraham.

Hakekat pertobatan adalah penyesalan akan perbuatan jahat dan kembali ke jalan yang benar, kembali kepada rencana keselamatan Allah. Syarat bagi pertobatan adalah mengaku bersalah dan terbuka terhadap anugerah rahmat. Buah-buah pertobatan adalah sukacita, damai sejati dan keselamatan kekal.

Satu catatan penting perlu kita sadari, bahwa sering kita bersikap puas diri, dan memaafkan cacad sendiri. Kita tidak takut dan malu berdosa lagi. Bahkan pula sering kita mengetahui bahwa suatu perbuatan adalah dosa. Tetapi kita tetap melakukannya. Kita mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak apa-apa. Semua orang juga berdosa. Gampang! Nanti baru bertobat.

Sering kali kita  menerapkan perhitungan matematis. Ah . . .ini dosa kecil saja. Dosa orang lain masih lebih besar. Lihat saja para koruptor, kaum atheis, pelaku prostitusi dan lain-lainya. Lagi pula perbuatan baik saya sudah banyak. Sebagai pastor saya berbuat baik setiap hari. Sementara berbuat dosa cuma satu-satu kali. Jadi bila dihitung-hitung dosa orang lain  lebih  banyak dari dosa saya. Itulah sekelumit rasionalisasi defensif untuk melegalkan dosa secara sepihak.

Menurut santo Yohanes dalam Wahyu 2:1-5, anggapan demikian ternyata tidak benar. Kendatai kebaikan jemaat Efesus itu banyak, tapi karena ada kekurangan (dosa) padanya, maka semua kebaikannya tidak ada artinya:”Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat”. Artinya setiap orang akan dibuang, karena dianggap tidak pantas.

Kesaksian yang lebih tegas lagi diberikan oleh nabi Yeheskiel: beginilah firman Allah: Kalau orang benar mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya. Tetapi kalau orang bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran….. semua dosa yang diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi; ia sudah melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia pasti hidup.”(bdk Yeh 33:13-16).

Maka kita harus segera bertobat, sebelum terlambat: Sesungguhnya Tuhan maha pengampun. Ia siap mengampuni orang berdosa dan menyediakan kebahagiaan sejati kepada orang berdosa yang bertobat. Sebab sesungguhnya akan ada kebahagiaan besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat lebih dari pada 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.Bertobat berarti mengakui kesesatan dan mau berbalik ke jalan yang benar yakni kepada Tuhan.

Sedekah, berdoa dan berpuasa     

Sedekah, berdoa dan berpuasa merupakan tiga kewajiban pokok dalam agama Yahudi. Bagaimana murid-murid Yesus harus menghayati tiga kewajiban pokok ini? Dalam injil Matius 6:1-6,16-18 kita mengetahui pengajaran tentang memberi sedekah, berdoa dan berpuasa. Di sini kita mengetahui bagaimana maksud Yesus: yakni secara tersembunyi, artinya tanpa pamer, tanpa menarik perhatian orang lain, tanpa diketahui oleh orang lain, tanpa keinginan sedikit pun untuk dipuji atau dihormati, dipandang                                                                                                                                                 saleh dan yang semacam itu. ‘Sedekah, berdoa dan berpuasa adalah urusan seorang anak dengan Bapanya di surga’. Dia harus melakukan semuanya itu dalam kepercayaan yang mendalam bahwa BapaNya yang tidak kelihatan, tidak tampak dan menampakan diri di depan umum itu melihat dan mendengarkan semua yang dilakukan anakNya.

Bapa ini berada di tempat tersembunyi. Dari sebab itu, segala-galanya harus dilakukan dengan iman bahwa Bapa di surga melihat dan mendengarkan dalam ketersembunyianNya. Sedekah, berdoa dan berpuasa harus merupakan pertemuan hati seorang anak dengan hati Bapanya di surga. Sedekah, berdoa dan berpuasa harus dilakukan hanya untuk memuliakan Bapa di surga.

Masa ret-ret agung yang akan kita jalani pada masa prapaskah mendatang, mendorong kita untuk membangun tobat yang benar dalam bentuk bersedekah, berdoa secara intens dan berpuasa secara benar.

Sedekah dalam bahasa Gereja sudah punya nama lain dan mendapat makna baru berdasarkan banyak firman Allah yang akan kita dengar selama masa tobat, masa pra paskah yang akan datang. Semangat dasarnya sama yakni membangkitkan perhatian kita akan penderitaan orang lain. Masa prapaskah dengan demikian adalah masa kita mengingat penderitaan orang lain, masa di mana kita digerakkan untuk melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain, khususnya mereka yang sungguh menderita.

Karena penderitaan orang lain itu konkrit, dapat dilihat maka sedekah yang dimaksudpun harus konkret. Sering kali kita terjebak dalam kesalahan berpikir bahwa pasti banyak orang sudah memberi maka kita tidak perlu meberi lagi. Kita menghimbau orang lain, umat untuk memberi semetara kita sendiri tidak memberi. Dan masa puasa ini adalah saatnya yang sangat tepat. Kita perlu ikut berpartisipasi secara nyata dalam aksi puasa pembangunan. Kita perlu menyisihkan sebagian dari belanja harian kita untuk meberikannya kepada orang atau teman yang berkekurangan. Sering ada orang yang sangat pelit, merasa rugi memberi sesuatu dari miliknya. Tuhan Yesus pernah berkata, kamu telah menerima dengan cuma-cuma maka berikanlah juga dengan cuma-cuma. Artinya kita juga perlu bermurah hati, tidak egois berlebihan karena akan selalu berkekurangan. Dalam pengalaman iman kita, kalau semakin kita memberi, semakin kita mendapat berkat Tuhan.

Selanjudnya kita mencoba mereflesikan doa. Masa tobat ini adalah juga masa kita harus belajar berdoa kembali. Sering karena banyak tugas dan pekerjaan yang harus kita lakukan, kita malas berdoa, menganggap kurang penting berdoa karena kita aman-aman saja. Tidak. Kita harus berdoa tak jemu-jemunya. Doa itu kekuatan kita. Banyak masalah besar yang sulit sekali  kita atasi hanya dengan kemampuan otak kita, kecuali dengan doa. Jenis ini hanya dapat dikalahkan dengan berdoa, demikian kata Yesus kepada murid-muridNya tatkala mereka tidak bisa mengalahkan kuasa setan.

Bagi kita para imam sebetulnya bukan lagi masalah besar untuk berdoa. Kita memiliki brevir. Kita juga sudah terbiasa dengan aturan waktu berdoa ketika berada di bangku pendidikan.  Hanya saja selepas bangku pendidikan disiplin itu sering memudar karena banyak waktu tersita oleh tugas lain. Kita sering mungkin melakukan tawar menawar dan menunda-nunda. Keseringan ini lama kelamaan bertumbuh menjadi kebiasaan. Pada akhirnya doa terasa menjadi beban. Doa itu memang hubungan personal dengan Tuhan. Tetapi bentuknya harus konkret dan semakin mendalam. Maka doa akan menjadi bagi kita sumber kekuatan rohani untuk menangkis segala bentuk godaan. Karena Tuhanlah kekuatan kita. Tuhan berperang besama kita untuk melawan kejahatan.

Selanjudnya kita merefleksikan puasa. Masa prapaskah atau masa tobat ini adalah masa kita harus belajar perpuasa kembali. Seringkali kita mendengar masa paskah di sebut juga masa puasa. Sebutan ini sangat benar. Puasa merupakan inti dari masa pertobatan.  Memang berpuasa itu menurut Kitab Suci sendiri mempunyai arti yang lebih luas dan dalam daripada mengurangi makan dan minum, tetapi kita mencoba membingkainya makan ‘tidak sampai kenyang’. Di sini kita melepaskan diri dari ketergantungan pada materi. Sebab manusia hidup bukan saja dari roti tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah. Dengan demikian maka kita dapat kembali pada sumber kekuatan kita yang sebenarnya yakni Tuhan. Sebab oleh godaan daya tarik barang duniawi, oleh godaan makan minum, manusia sering dengan mudah jatuh ke dalam dosa dan tak mampu mengendalikan diri. Karena itu, semangat puasa sangat berarti bagi kita.

3. IMAN

Iman adalah tanggapan manusi terhadap wahyu ilahi. Allah mewahyukan diriNya kepada manusia pertama-tama lewat para nabi. Para nabi yang mendapat panggilan istimewa dari Allah, dengan setia mewartakan Wahyu Allah kepada manusia, khususnya umat Israel. Wahyu ilahi itu kemudian mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus, Juru selamat dunia. Di dalam diri Yesus Kristus, kita melihat wajah Allah yang berbelas kasih. Dari pihak Allah, rahmat selalu tersedia. Allah selalu peduli pada manusia.

Karena itu, manusia perlu menanggapi rahmat itu. Tanggapan manusia itulah yang disebut iman. Oleh iman, kita percaya, berpasrah dan berserah pada Allah sang Pencipta dan Penyelenggara seluruh eksistensi manusia. Dalam surat kepada orang Ibrani 1:1 tertulis bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Melihat perkembangan dunia yang sangat kompleks saat ini (ada hal positif yang membantu manusia untuk kemudahan dan kebaikan hidupnya, namun juga ada hal-hal negative yang cenderung menyesatkan dan menghancurkan hidup manusia), Bapa Suci Benediktus XVI sebagai pemimpin tertinggi gereja katolik sedunia dan sebagai penanggung jawab utama iman akan Allah, menetapkan Tahun Iman agar secara khusus kita melihat kembali hakekat dan fungsi iman yang menyelamatkan itu. Agar orang tidak melupakan Tuhan sebagai sumber hidup dan tidak terjerumus ke dalam paham ateistik yang menyesatkan.

Bapa Suci mengajak seluruh kaum beriman katolik agar sepanjang Tahun Iman ini melakukan sesuatu yang bertujuan  mendewasakan iman. Iman pemberian Tuhan itu perlu dijaga, dipupuk terus-menerus lewat doa, tobat, amal dan kesaksian hidup agar menjadi kuat dan dewasa, karena oleh iman dan dengan beriman kepada Allah, kita mampu hidup dan mampu mengatsi semua masalah hidup. Ada banyak masalah di dunia ini yang tak mampu kita atasi hanya dengan kemampuan akal budi kita atau dengan teknologi secanggih apapun. Oleh bantuan Rahmat Tuhan, semua beres. Dalam pengalaman kita, kita mengakui bahwa kekuata iman akan kebaikan Allah memampukan manusia untuk

hidup di tengah dunia yang penuh dengan tantangan dan kesulitan itu. Oleh dan dalam iman, semua masalah sesulit apapun dapat diatasi.

Ada banyak saksi-saksi iman dalam Kitab Suci yang menjadi referensi bagi kita dalam membangun hidup. Dalam surat kepada orang Ibrani 11:1-40 kita melihat bagaimana iman akan Allah, memampukan tokoh-tokoh iman dan saksi-saksi iman itu  melakukan sesuatu yang secara manusiawi sangat tidak mungkin, tapi bagi Allah semua jadi bisa. (Bacakan beberapa ayat: Ibr.11:1-40). Itulah keunggulan Iman.

Aspek penting  iman yang perlu diperhatikan dalam hidup yakni bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Rasul Yakobus menegaskan dalam suratnya,  tentang iman yang harus dipraktekkan (baca teks Yak.2.14-26). Sesungguhnya iman harus dibarengi dengan perbuatan kasih. Dalam satu Korintus 13:1-3 Rasul Paulus berkata (baca teks). Iman,harapan, pengetahuan dll akan berakhir tapi kasih itu abadi karena kasih itu adalah Allah sendiri. God is love and love is God.

4. KERJA

APP tahun ini berbicara mengenai makna kerja manusia. Yang dimaksudkan dengan kerja ialah kegiatan manusia berupa kerja tangan (opus manuale) dan kegiatan akal budi. Manusia dijuluki “homo faber”makluk pekerja. Menurut julukan ini sebenarnya manusia disiapkan dari kodratnya untuk bekerja. Dengan bekerja manusia mencari nafkahnya setiap hari sekaligus menjawabi perintah Allah untuk menaklukan bumi dan menyempurnakannya sebagai co-creator Allah. Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika berkata: “ Jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia makan” (bdk.2 Tes 3:10). Karena manusia adalah homo faber dan co-creator Allah, maka dari saat ke saat ia selalu bekerja untuk kebutuhan hidupnya dan memualiakan Allah dalam karyanya.

Kerja merupakan salah satu ciri yang membedakan manusia dari makluk ciptaan lainnya. Kerja membuat manusia lebih bermartabat. Ia mampu menyediakan kebutuhannya sendiri dan dengan demikian melepaskan diri dari ketergantungan pada persediaan alam bahkan pula mengubah alam dan membuatnya menjadi lebih maju.

Tetapi tak bisa dipungkiri pula bahwa oleh kerja pula manusia telah menjadi penyumbang  atas kerusakan alam yang sering mandatangkan malapetaka dan bencana bagi manusia. Maka manusia harus selalu menyadari kerjanya. Bahwasanya kerja manusia harus sungguh-sungguh menjadi co-creator, pelanjut karya Allah untuk mengelola dan memelihara serta melestarikan alam. Manusia mendapat tugas istimewa untuk bekerja sejauh tidak merusak alam yang Tuhan  ciptakan.

Sebagai seorang imam tentu saja kita memiliki bidang kerja utama sebagai pelayan rohani. Namun sebagai pribadi, masing-masing kita juga memiliki hobi atau bakat untuk bentuk kerja tangan seperti menanam pohon dan kegiatan akal budi seperti menulis buku. Talenta atau bakat demikian juga perlu dikembangkan. Oleh rahmat tahbisan kita memiliki tugas pokok sebagai imam, raja dan nabi secara istimewa. Sebagai imam kita mendapat tugas istimewa untuk menguduskan karya manusia melalui pelayanan sakramen. Sebagai raja kita menuntun, memberi contoh dan teladan bagaimana harus bekerja  agar kerja manusia tidak keluar dari maksud Tuhan mengangkat manusia sebagai co-creatorNya. Dan sebagai nabi kita mengajarkan bagaimana manusia harus bekerja agar kerja manusia tidak sampai merusak alam tetapi menyempurnakanya.

5. PERSAUDARAAN SEJATI SEBAGAI SUMBER PELAYANAN PASTORAL

Sebagai seorang imam, salah satu hal  penting yang  mendukung dalam tugas pelayanan adalah persaudaraan. Ketika ditahbiskan kita semua mengambil bagian  dari imamat yang satu dan sama.Oleh tahbisan itu kita tergabung dalam persekutuan para imam. Persekutuan ini menjadi dasar persaudaraan kita yang tak pernah dapat terpisahkan.

Karena merupakan saudara maka sudah tentu kita harus saling mendukung dalam karya pelayanan dan segala  bentuk kebersamaan kita. Kita tidak perlu mebiarkan diri dikuasai oleh ego kita masing-masing dan kecenderungan mencari popularitas walaupun kita memiliki watak yang berbeda. Sebaliknya kita harus belajar untuk bersikap rendah hati  dan saling menghargai agar seluruh aktivitas pastoral kita benar-benar bermakna dan memerlihatkan kepada orang bahwa kita benar-benar bersaudara,  sehati, sepikir dan sejiwa. Proses ini harus terus dibina agar mempribadi dan menjadi teladan bagi kawanan domba gembalaan kita.

Seringa umat menjdi bingung menyaksikan para imamnya memperlihatkan hal-hal yang tidak lazim bahkan tidak layak bagi seorang imam seperti berselisih, saling gossip, hingga makan sendiri-sendiri, mengurus diri sendiri-sendiri dan tidak saling mempedulikan. Karena itu di masa prapaskah ini dan selanjutnya kita harus memulai hidup baru, mengoreksi diri apakah benar ada persaudaraan sejati di antara kita?

6. PENUTUP

Sebagai Imam tertahbis, kita memperoleh mandat dari Kristus untuk berkarya dalam kebun anggurNya. Kita dipanggil dan diutus ke tengah umat Allah untuk melayani mereka seperti Kristus. Kita bertanggung jawab untuk menumbuhkan iman umat dalam karya kita setiap hari. Identitas kita sebagai imam harus dilihat dalam konteks ilahi yang mau menyelamatkan, bukan mempersulit umat. Dengan kekuatan iman yang kita miliki dan oleh rahmat sakramen tahbisan, seorang imam mampu bekerja, mampu melayani dan mengantar umat kepada perjumpaan dengan Allah yang membebaskan.

Struktur asli teologis misteri imam yang dipanggil untuk menjadi pelayan keselamatan, tak boleh dilupakan, untuk memahami secara tuntas makna pelayanan pastoralnya di tengah umat yang dipercayakan kepadanya. Imam adalah abdi/pekerja Kristus, untuk dan dengan berpangkal pada Kristus, melalui Dia dan bersama Dia, menjadi abdi manusia. Hakekatnya, yang secara ontologis disatukan dengan Kristus, merupakan dasar pembaktiannya bagi pelayanan komunitas manusia. Komitmen total seorang imam kepada Kristus, mengakibatkan bahwa imam oleh kekuatan iman, siap melayani(bekerja) tanpa pamrih kapan saja dan di mana saja. Dan pasti ada upahnya. Seorang pekerja patut mendapat upahnya. Upahnya bahkan 100 kali lipat yakni keselamatan kekal.

Akhirnya, memang kita para imam yang disebut kaum klerus itu juga manusia biasa yang bisa keliru (seorang umat di Pariti bilang kaum klerus itu juga adalah kaum keliru). Karena itu kita perlu bertobat dan dengan rendah hati selalu mau memperbaiki diri dan berjuang menjadi imam yang selalu lebih baik dari waktu ke waktu. Itulah hakekat dari pertobatan.

 

(Bahan Rekoleksi masa Pra Paskah bagi Para Imam KAK, Camplong, 7 Februari 2013)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: