SURAT GEMBALA PUASA 2013


USKUP AGUNG KUPANG

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Masa puasa 2013 mengambil tema “Menghargai Kerja”. Tema ini dimaksudkan untuk mengarahkan permenungan atas iman kristiani selama masa prapaskah. Dalam hubungannya dengan Tahun Iman, tema ini sungguh tepat, karena Gereja kita mengajak seluruh umat Katolik untuk menemukan kembali kegembiraan iman Kristiani dalam perjalanan hidup ini. Rasul Santu Yakobus berkata “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati” (Yak 2:17).

Saudara-saudari terkasih,

Kerja adalah suatu panggilan, yaitu ambil bagian dalam karya penciptaan Tuhan. Dengan bekerja, manusia mengalami anugerah mulia dari Tuhan. Kerja membangun pribadi manusia, menciptakan hubungan dengan sesama dan memelihara keutuhan alam ciptaan: “Beranak cuculah dan berkembangbiaklah, dan penuhilah bumi dan taklukanlah itu” (Kej 1:28). Dengan bekerja, manusia memelihara serta mengembangkan tata kelola ciptaan Tuhan demi kebaikan semua orang. Manusia menjadi  mitra Tuhan dalam mengembangkan dunia ini melalui kerja. Kerja itu adalah anugerah mendasar bagi manusia ditinjau dari pertumbuhan pribadinya, hubungan dengan sesama, pembentukkan keluarga dan sokongan bagi kebaikan bersama serta perdamaian. Oleh karena itu, dalam perjalanan hidup ini, tersedianya lapangan kerja bagi semua orang selalu bercorak hakiki utama, kapan, di mana dan dalam keadaan apa saja. Mengapa demikian? Karena pribadi manusia adalah subyek kerja dalam segala aspeknya, terutama aspek etis. Dengan melakukan pekerjaan, manusia membangun hidup bertanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan hidup yang tercipta oleh kebaikan Tuhan bagi semua orang. Rasul Paulus menasehati: “jika seorang tidak mau bekerja, janglah ia makan. … orang-orang yang demikian kami peringati dan nasehati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri” (2 Tes 10:12).

Saudara-saudari terkasih,

Dalam ensiklik “Laborem Exercens” Beato Yohanes Paulus II menjelaskan tentang panggilan dan makna kerja manusiawi dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat semasa. Beato Yohanes Paulus II sangat menekankan aspek rohani dari kerja manusia karena kerja adalah tanggungjawab manusia untuk melanjutkan karya penciptaan dalam pribadi, sesama dan lingkungan hidup ini. Tanggungjawab kita ialah memelihara dan memberdayakan nyala api yang telah ditanamkan Tuhan dalam diri kita. Oleh karena itu, kita perlu menggairahkan daya iman kita untuk menggerakkan semangat kerja. Sejatinya, kita semua menunaikan pekerjaan untuk mendapatkan keseimbangan antara memeroleh nafkah dan melayani tujuan panggilan hidup kita. Hendaknya kita berusaha, agar kendala dan halangan dalam kerja tidak menghentikan tanggungjawab hidup kita. Tetapi jika kita harus memilih antara dua tuan, maka kita harus memilih Tuhan, karena Dia menginginkan kita untuk menunaikan pekerjaan secara bermakna: “Sebab itu, apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rom 8:31).

Saudara-saudari terkasih,

Di tengah persoalan sosial tentang kerja dan ketenagakerjaan, kita perlu mengarus utamakan pribadi manusia. Aneka bentuk kerja yang tersedia (politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk agama) mempunyai tujuan agar manusia menemukan dan mengalami pertumbuhan pribadi yang terhormat bersama-sama. Manusia bekerja entah fisik atau non fisik untuk hidup seutuhnya dan bukan hanya sebagian hidup seperti kepentingan dan perolehan nafkah saja. Keyakinan iman Kristiani memberikan suatu perspektif abadi yang membantu kita untuk mengatasi persoalan sosial kerja yang sering membuat kita rentan kemanusiaan akibat kehilangan, kerapuhan, kegagalan ataupun keserakahan. Kitab Sirakh berujar: “Barangsiapa takut akan Tuhan tidak kuatir terhadap apapun, dan tidak menaruh ketakutan sebab Tuhanlah pengharapannya” (34:14). Sejalan dengan tantangan kerja ini, pemerintah hendaknya memperlancar peran penyediaan lapangan kerja, agar angkatan kerja tidak meninggalkan daerah asalnya dalam jumlah besar. Dengan membangun kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perdagangan dan kelautan, mereka mampu membangun pribadi, sesama dan keutuhan ciptaan setempat. Pekerjaan mengungkapkan talenta, prakarsa dan cintaksih setiap orang sebagai sumbangan bagi pengembangan masyarakat yang lebih baik.

Saudara-saudari terkasih,

Kerja adalah panggilan yang mendorong kita melakukan hal-hal yang bermakna sebagai warisan yang berfaedah bagi banyak orang. Kita menghargai kerja sebagai kesempatan untuk menumbuhkan sikap murah hati dan relah berbagi demi kebaikan bersama. Kehadiran pekerjaan, yang selalu kita syukuri harus menghormati sesama dengan lingkungan kerja yang sehat manusiawi, antara lain, balas karya yang layak untuk membangun hidupnya dan keluarga; semua orang bekerja dengan jujur dan rajin; terbuka dan mau bekerja sama dengan orang lain; Pemerintah membuat peraturan kerja dan ketenagakerjaan yang menghormati pribadi warganya; pekerjaan tani dan kerajinan rumahtangga mendapat dukungan dengan sarana dan prasarana yang memadai. Dengan kata lain, kerja itu hendaknya membangun martabat manusia dan menciptakan hubungan yang adil dan beradab: “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri” (Ef 6:4).

Di dalam kerjasama yang baik, manusia membangun suatu persahabatan, daya dukung bersama untuk mengembangkan lingkungan hidup yang berkelanjjutan secara manusiawi. Kerja merupakan proses pemanusiaan bersama sesama dalam lingkungan hidup tertentu. Olehnya, kita perlu menumbuhkan disiplin kerja dan mendorong tekad bersama untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian, karena “Semakin seseorang bekerja bagi orang lain, semakin ia akan mengerti Sabda Kristus dan membuatnya menjadi miliknya: “kami ini hamba yang tidak berguna” (Benediktus XVI, Deus Caritas Est,nr.35).

Saudara-saudari terkasih,

Di tengah menjamurnya kerusakan lingkungan hidup, kita perlu memberikan perhatian pada kerja yang berkaitan dengan lingkungan alam kita. Pekerjaan tertentu perlu penelitian akan dampak lingkungan, agar pengerjaannya tidak merusak lingkungan, khususnya pekerjaan perkebunan monokultur, pertambangan dan industri. Kita harus melakukan pekerjaan dengan arif, agar keutuhan lingkungan tetap terpelihara. Kita perlu mulai dari rumah kita masing-masing: antara lain, sampah rumah tangga dikelola dengan baik, ternak tidak merusak lingkungan, suka memelihara tanaman, menjauhi produk-produk kimia berbahaya dan mengembangkan taman serta pertanian selaras alam. Gaya hidup demikian akan menghadirkan nilai-nilai luhur manusiawi yang menghargai kerja dengan tekad meningkatkan daya dukung lingkungan yang sehat dan bermutu. Dengan demikian kita menunaikan pekerjaan untuk menampakkan karya kelanjutan penciptaan Tuhan. Kerja kita mudah-mudahan menghasilkan dapur sehat, lingkungan hidup sehat dengan hati serta pikiran yang sehat pula.

Saudara-saudari terkasih,

Dengan berdoa dan bekerja, kita mengungkapkan kasih Allah dalam dunia. Oleh karena itu, menghargai kerja adalah penegasan manusiawi akan kehadiran kasih Allah dalam lingkungan hidup ini. Cahaya kasih Allah menerangi dunia kita dan memberikan kepada kita keberanian untuk hidup dan bekerja dengan rendah hati. Hasil kerja kita tidak boleh membuat kita menjadi sombong dan serakah. Sebaliknya, kita menjadi sadar akan daya Ilahi yang memampukan kita belajar taat pada rencana kasih penciptaan Allah yang tertanam dalam diri kita. Dengan demikian, kita selalu sadar akan panggilan untuk membaharui diri dan menguduskan dunia kerja, agar kegembiraan iman mekar serta hadir dalam kemuliaan. Orang yang bekerja dengan rajin serta jujur bersama sesama memperindah dunia dan pada gilirannya menghadirkan kemuliaan Allah: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mt 5:16), dan dengan rendah hati memohon kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami” (Lk 17:5).

Saudara-saudari terkasih,

Akhirnya, selamat menunaikan ibadah masa puasa dengan semangat untuk membangkitkan dan menggerakkan sikap hidup yang menghargai kerja sebagai panggilan serta pelayanan hidup, dan “…selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Ef 6:10), inilah makna menghargai kerja bertanggungjawab dan berkelanjutan secara manusiawi, bertepatan dengan perayaan Tahun Iman untuk mengenang 50 Tahun Konsili Vatikan II dan 20 Tahun Katekismus Gereja Katolik. Kita menghadirkan evangelisasi baru melalui pekerjaan kita, karena jaringan kerja dalam kerendahan hati adalah wujud kemuridan Kristus yang menggembirakan dan menyelamatkan dunia, seraya senantiasa bersyukur atas berkat karya Tuhan!

 

Diberikan di Kupang pada 2 Februari 2013, Pesta Yesus dipersembahkan di Kenizah.

Salam Hormat dan Berkat,

Uskup Petrus Turang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: