NILAI DARI KERJA MANUSIA


RD. Gerardus DukaRm. Gerardus Duka,Pr

Gereja katolik Indonesia menetapkan tema Aksi Puasa Pembangunan 2013 (APP) berjudul “ Menghargai Kerja Manusia”. Sebuah tema yang sangat akrab dengan kehidupan manusia setiap hari. Semua orang dari lapisan apa pun, dan tingkat sosial apa pun tidak pernah luput dari kerja. Tema ini akan menjadi buah permenungan umat katolik selama masa prapaskah. Keuskupan Agung Kupang, dalam merefleksikan tema ini, mendapat masukan dan arahan dari Uskup Agung Kupang, yang pada intinya mengajak umat untuk melihat setiap pekerjaan sebagai panggilan Tuhan. Karena pekerjaan itu merupakan panggilan Tuhan maka manusia yang bekerja harus menyadari bahwa aktivitas pekerjaan akan membentuk perilakunya. Dengan bekerja manusia menghormati Tuhan dan sesama. Supaya manusia bisa menjadi bermutu, maka ia harus menyiapkan “dapur sehat”, tandas uskup. Bagi gereja Keuskupan Agung Kupang, roh dari kerja harus menyata pada setiap umat sebagai gereja. Tugas gereja bukan untuk menyiapkan lapangan pekerjaan, tetapi memberi dorongan bagi  warga umat yang bergerak pada lapangan pekerjaan untuk menyadari pekerjaan sebagai panggilan meningkatkan martabatnya. Dalam kerangka APP 2013 di wilayah gerejawi Keuskupan Agung Kupang, saya mencoba memberi catatan atasnya:

 1. Spiritualitas Kerja Manusia

 Dalam Kitab suci, khusus pada kisah-kisah awal penciptaan, ditegaskan bahwa manusia diciptakan untuk bekerja, untuk menaklukkan bumi, untuk mengolah dan memelihara taman yang ditanami Allah baginya (bdk. Kej. 2: 15). Allah juga memberi spesialisasi kerja kepada manusia dengan disebutkan pada silsilah penciptaan yang memperlihatkan bagaimana berkat Allah yang pertama itu dilaksanakan. Disini, kita melihat spiritualitas kerja harus dialami dalam konteks bahwa  manusia dalam kerja, ia mengambil bagian dalam penciptaan baru Allah. Nilai kerja manusia menurut rencana Allah ada pada usaha untuk menaklukan bumi dan menguasainya. Dengan kerja, manusia menghubungkan dirinya dengan Allah yang harus diakui sebagai Tuhan dan Pencipta segala sesuatu. Jadi dengan menundukan segala sesuatu ke bawah manusia, nama Allah akan dipermuliakan di seluruh dunia (bdk. GS. 34). Jadi, dengan bekerja manusia merealisir martabatnya sekaligus menunjuk tentang dirinya sebagai puncak dari segala ciptaan.

Selanjutnya, kita melihat bahwa nilai dan arti dari kerja adalah menghadirkan Allah bagi dunia dan memuliakan Allah yang memberi kemampuan bagi manusia untuk menguasai dan mengolah ciptaan lain. Manusia dan pekerjaannya bukan sesuatu yang terpisah sama sekali. Kerja bukan unsur tambahan dari hidup manusia, tetapi hal yang menyatu dengan manusia. Manusia dan kerjanya di lihat dalam nilai yang paling tinggi, karena di dalam dan melalui pekerjaan itu manusia melaksanakan diri sebagai “co-Creator” dari Allah. Artinya, manusia menjadi bagian yang tidak terpisah dari penciptaan Allah yang masih berlangsung. Manusia mewarisi tanggungjawab untuk melanjutkan karya ciptaan Allah melalui kerja yang baik dan produktif. Dengan kerja yang baik dan produktif, manusia menunjukkan dirinya sebagai makluk ciptaan yang bermartabat tinggi dari ciptaan lain. Kerja membuat manusia semakin manusiawi dan juga menjadikannya sebagai makluk rohani yang berkenan di hadapan Allah.  Melalui spiritualitas kerja manusia, kita lalu bisa melihat beberapa dimensi dari kerja manusia itu sendiri, dengan kata lain  melalui kerja manusia menghadirkan beberapa dimensi sebagai makluk yang beradab.

2. Dimensi kerja manusia

Kerja mendorong manusia untuk menghormati Tuhan dan sesama. Indikasi kerja manusia bisa ditemukan dalam dimensi-dimensi:

2. 1. Dimensi personal

Kerja manusia, tidak saja menjadi tempat mendapatkan kehidupan dan penghidupan yang layak, tetapi dengan kerja manusia mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang utuh, total bagi dunia dan bagi Allah. Kerja menunjuk pada perealisasian seluruh kapasitas dirinya sebagai pribadi yang lain dari orang lain. Karena itu sering di lihat bahwa orang yang bekerja keras dan berkualitas akan menjadi orang yang berhasil. Kerja membentuk seseorang menjadi lebih matang dan bertanggungjawab atas hidupnya sebagai anugerah yang paling tinggi. Dengan kata lain  melalui kerja, seseorang menampakan bagi dunia dirinya dan seluruh kemampuannya sebagai anugerah Allah yang harus dikembangkan dan ditumbuhkan menuju kepada kesempurnaan seperti Allah.

2. 2. Dimensi sosial

Dengan kerja, manusia tidak hanya mengenal dirinya, tetapi juga membangun relasi dengan orang lain. Kerja akan menjadi bermutu apabila hasil dari pekerjaan itu mendatangkan kesejahteraan juga bagi orang lain. Realisasi diri manusia hanya bisa berkembang dengan baik, jika kerja itu diarahkan kepada kesejahteraan bersama, bagi orang lain. Melalui kerja, manusia dapat mengenal dunianya sebagai perpaduan ciptaan yang menarik, indah. Orang yang bekerja dengan tekun, ia akan memberi ruang bagi orang lain untuk menikmati hasil dari kerjanya. Kerja yang mendatangkan kesejahteraan bagi orang lain merupakan juga ibadah kepada Allah. Dimensi sosial dari kerja tidak sebagai hal yang ditambahkan, tetapi menunjuk pada manusia dari kodratnya tidak hidup sendiri, tidak bekerja sendiri tetapi selalu bersama-sama. Kitab Kejadian mengatakan.

…” Ketika manusia pertama Adam diciptakan, ia tetap merasa sepi. Allah menempatkan seluruh ciptaan lain dihadapannya tetapi seluruh ciptaan itu tidak mampu mengusir kesepian Adam. Maka dibentuklah oleh Allah seorang wanita (Eva). Dan ketika Adam melihat Eva ia berseru- inilah dia, (Kej.2: 18, 22, 23).

Kisah ini menunjuk bahwa manusia membutuhkan orang lain, Adam membutuhkan Eva untuk bisa mengusir kesepiannya. Manusia butuh orang lain yang sesuai dengan dirinya (martabatnya) untuk bekerja sama membangun dunia demi kesejahteraan bersama.

2. 3. Dimensi Rohani

Kerja harus dipandang sebagai sebuah ibadah. Artinya, dengan bekerja, orang semakin menjadi manusiawi. Karena kerja merupakan kodrat dirinya sebagai manusia pekerja (homo faber). Berarti, kerja tidak ikut selera, tetapi kerja harus mendapat aspek rohani agar kerja itu bisa mendatangkan nilai kebaikan bagi dirinya, bagi sesama, lingkungan dan demi kemuliaan Tuhan. Dengan bekerja, manusia memberi arti baru bagi karya ciptaan lain.

Melalui kerja yang tekun, orang menemukan relasi mendalam dengan dirinya. Artinyanya ia menemukan nilai kemanusiaan secara sempurna dan dari sana ia menemukan Tuhan yang tidak kelihatan tetapi nampak dari kerja yang ia lakukan. Melalui kerja yang tekun dan benar, manusia menemukan dirinya sebagai pribadi pendoa, yang bisa memampukan orang untuk selalu menghadirkan dalam dirinya nilai iman, khusus dalam relasi dengan kemampuannya yang kadang mengalami kerapuhan, tetapi disempurnakan oleh Tuhan. Inilah yang perlu disyukuri, karena melalui kerja itu manusia menghadirkan dalam dunia nilai kebaikan bagi orang lain dalam aspek kesejahteran bersama. Bekerja lalu bisa diartikan dengan berdoa, dengan demikian ikatan manusia dengan Tuhan teralami dalam sebuah kerja yang terahmati.

3. Butir kesimpulan

Mengakhiri pemikiran singkat di atas, saya memberi beberapa butir yang menjadi fokus dalam menjalani refleksi pra-paskah melalui tema APP 2013 “Menghargai Kerja”, untuk melihat manusia sebagai seorang pekerja:

  • Kerja merupakan partisipasi manusia dalam penerusan karya penciptaan baru Allah.
  • Dengan bekerja, manusia akan lebih manusiawi. Dkl. kemanusiaan manusia nampak dalam kerja yang tekun dan menghasilkan kesejahteaan bagi orang lain dan bagi kemuliaan Tuhan.
  • Kerja manusia tidak saja untuk kehidupan secara ekonomis, tetapi melalui kerja nampak dimensi personal, sosial dan rohani sebagai dasar dalam hidup menuju persekutuan yang sempurna dengan Allah.
  • Melalui kerja manusia tumbuh dalam Iman, Harapan dan Kasih, kepada tanggungjawab meneruskan karya penciptaan baru Allah.
  • Tahun iman yang telah diumumkan oleh Paus Benediktus XVI,  melalui Surat Apostolik “Porta Fidei” lalu dapat menjadi ruang menjalankan gerakan APP 2013 di Keuskupan Agung Kupang. Karena manusia beriman yang bekerja, ia mewujudkan panggilan imannya dalam upaya menuju kepada kehidupan sempurna bersama Allah.  Yesus bersabda, ‘’Bapa bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja, dan setiap pengikutku, muridKu juga harus bekerja sama seperti Aku bekerja bagi dunia dan murid-muridKu bekerja untuk memuliakan Allah. Mari mewujudkan gerakan APP 2013 dalam roh Tahun Iman, agar tumbuh pengenalan yang benar akan Allah dan hidup manusia penuh suka cita..

*(Sekretaris Keuskupan Agung Kupang)

 

Karya kerasulan sosial ekonomi Gereja Katolik Indonesia perlu dikembangkan  melalui  “Kaderisasi Penggerak Sosial Ekonomi”. Untuk itu sebagai  bahan refleksi bersama termuat gagasan  dari Mgr. Petrus Turang bagi para penggerak sosial ekonomi di tingkat keuskupan dan paroki. 

Advertisements

One thought on “NILAI DARI KERJA MANUSIA

  1. Januario Gonzaga March 18, 2013 at 3:07 am Reply

    Ada filosofi Orang Dawan Katakan :

    “Kerja Seperti Hamba, Makan seperti Raja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: