PERDAMAIAN: KARYA MESIANIK DAN USAHA MANUSIA


(Refleksi atas Pesan Sri Paus pada Hari Perdamaian se-dunia ke-46)

Gerardus Duka, pr

Pada tanggal 1 Januari 2013 diperingati sebagai hari perdamaian se-dunia ke-46. Dalam konteks hubungan internasional serta keragaman hidup manusia, momentum hari perdamaian se-dunia merupakan sebuah rahmat yang perlu kita refleksikan sebagai masyarakata dunia.  Peristiwa Natal yang telah dirayakan oleh umat kristiani se-dunia, menjadi dorongan untuk berefleksi tentang hari perdamaian, karena hari perdamaian sedua ke-46 memiliki pesan mesianik, yakni sebuah peristiwa penyelamatan Allah bagi dunia dengan pengutusan Yesus Kristus yang lahir ke dunia sebagai Raja damai. Natal memiliki nuansa damai, lalu mendorong umat manusia untuk mencintai damai. Gereja Katolik, melalui Paus Benediktus XVI, dalam refleksi hari perdamaian se-dunia ke- 46, mengeluarkan sebuah pesan bagi dunia sebagai ajakan inspiratif agar umat manusia menciptakan kerukunan dan perdamaian hidup.  Paus menegaskan beberapa prinsip dan dasar yang menyentu hakekat perdamaian itu sendiri.  Pesan hari perdamaian ke-46 mengacuh pada dasar kitab suci pada Sabda bahagia Yesus. Bahwa Sabda Bahagia Yesus tidak hanya direfleksikan sebagai pedoman moral relasi manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia tetapi Sabda Bahagia Yesus itu berisi tentang perdamaian sebagai anugerah mesianik serentak hasil usaha manusia.

Perdamaian merupakan Rahmat Allah dan hasil usaha manusia

Dalam Tahun Iman, gereja mengenang ulang tahun ke-50 Konsili Vatikan II. Sri Paus Benediktus XVI mengajak dunia dalam memasuki tahun 2013 untuk selalu menemukan hidup damai melalui hubungannya dengan Tuhan dan antara umat manusia. Perdamaian bisa tercipta apabila umat manusia menyadari panggilanya untuk menghargai keberadaan bangsa-bangsa serta hak kebebasan beragama. Bahwa keberadaan bangsa-bangsa harus diakui agar perdamaian itu boleh hadir dan umat manusia menemukan hak kesejahteraan hidupnya (bdk. Pacem in terris). Sementara itu, pengakuan akan eksistensi bangsa-bangsa di dunia, memiliki konsekuensi logis kehadiran keragaman hidup, termasuk agama dan kepercayaan. Oleh karena itu, setiap lembaga Internasional dan Nasional, para pemimpin politik bangsa-bangsa di minta untuk menciptakan regulasi yang membuka kemungkinan umat beragama menghayati iman dan kepercayaannya. Kebebasan beragama harus mendapat perhatian masyarakat Internasional agar kerukunan boleh tumbuh dan berkelanjutan dalam hidup masyarakat dunia demi menghindari konflik dan ketegangan. Merujuk pada “Pacem In Terris”(Perdamaian di dunia) dan “Dignitatis Humanae(kebebasan beragama) dalam kebebebasan beragama, Sri Paus mendorong umat manusia untuk melihat peperangan serta terorisme sebagai ancaman serius bagi perdamaian dunia. Selain kedua ancaman tersebut, ancaman lain memicu berkembangnya perdamaian adalah kesenjangan antara orang kaya dan miskin, pengutamaan pola pikir yang ingat diri yang muncul dalam suatu kapitalisme financial yang tidak tertib, fundamentalisme dan fanatisme justru menjadi hambatan tumbuhnya kesejahteran umum. Oleh sebab itu, panggilan kodrati seluruh umat manusia adalah mengupayakan perdamaian. Kehendak hidup damai adalah sebuah prinsip moral fundamental bagi manusia, karena di dalam prinsip itu, manusia memiliki kewajiban dan hak akan pembangunan sosial yang utuh. Dkl panggilan kodrati umat manusia adalah menciptakan perdamaian, manusia diciptakan untuk perdamaian, karena perdamaian itu adalah anugerah Allah.

Martabat Manusia adalah Prinsip Perdamaian

Martabat manusia merupakan prinsip dari upaya-upaya perdamaian dunia. Pelanggaran terhadap martabat manusia, mendatangkan bencana ketidakdamaian di dunia. Jalan mencapai kebaikan dan perdamaian yang pertama adalah penghargaan akan hidup manusia. Hidup manusia itu memiliki banyak aspek, mulai dari pembuahan, bertumbuh, berkembang sampai pada kematian alamiah. Maka umat manusia mesti menjaga martabat manusia agar tumbuhlah perdamaian di dunia. Setiap orang yang mencintai perdamaian tidak dapat mentolerir ancaman dan kejahatan terhadap manusia.  perilaku obortif dan perbuatan euthanasia merupakan ancaman serius atas perdamaian dunia. Perdamaian hanya tumbuh secara benar jika kehidupan manusia di hargai, dari yang paling kecil/lemah hingga pada usia lanjut yang tidak tak dapat lagi menghadirkan upaya-upaya produktif.  Maka penghinaan terhadap hidup terutama yang paling lemah dapat menyebabkan kerugian yang tak dapat diperbaiki terhadap pembangunan perdamaian dan lingkungan hidup. Sri Paus Benediktus menegaskan bahwa memasukan aturan-aturan atas nama kebebasan dan hak palsu merupakan perbuatan tidak adil dan itu hanyalah sebuah visi reduktif dan relativistik. Menurut Paus, dengan alasan apa pun, tindakan aborsi dan euthanasia merupakan suatu ancaman paling mendasar terhadap hak azasi manusia, yakni hak hidup. Paus mengajak para pemimpin bangsa dan para pengambil kebjikan politis Internasional untuk tidak menciptakan regulasi yang mengabaikan kodrat dari perkawinan alamiah, antara seornag laki-laki dan perempuan. Bahwa upaya yuridis terhadap persatuan hidup dengan tujuan kesejahteraan keluarga tidak pernah mendatangkan kesejahteraan, bahkan merugikan dan membuat perkawinan tidak stabil serta mematikan kodrat khusus dan perannya dalam masyarkat dunia.  Maka agama-agama harus mendorong penghargaan terhadap martabat manusia ini, bahwa martabat manusia bukan sebuah hasil refleksi dari pengetahuan tetapi ia tertanam dalam kodrat manusia, upaya konfensional terhadap martabat manusia, khusus yang paling lemah, merupakan penghinaan terhadap kebenaran pribadi manusia, dengan kerugian bagi keadilan dan perdamaian. Dalam hubungan dengan martabat manusia ini juga, kebebasan beragama harus menjadi perhatian dari komunitas-komunitas Internasional. Bahwa kebebasan beragama merupakan hak azasi yang perlu dihargai dan dilindungi. Mengabaikan kebebasan beragama akan mendatangkan konflik peradaban.  Konflik peradaban merupakan konflik terbesar yang harus dihindari, karena akan mendatangkan kehancuran dunia, maka keadilan dan kerukunan harus tetap diupayakan. Karena keadilan dan kerukunan hanya bisa dirasakan apabila martabat manusia dihormati dan dilindungi secara benar.

Perdamaian tumbuh jika ada keadilan ekonomi

Pembangunan manusia, tidak hanya melalui sebuah upaya dialog antar manusia demi menghindari konflik, tetapi juga sebuah pendekatan baru terhadap ekonomi. Dalam konteks pendekatan terhadap ekonomi, prinsip solidaritas serta arah politik ekonomi kepada kesejahteraan bersama harus menjadi skala prioritas dari usaha manusia menghadirkan barang-barang dan nilai-nilai iman sebagai rujukannya. Barang-barang ciptaan Tuhan bukan tujuan dari pengembangan ekonomi manusia, tetapi sarana kepada kesejateraan bersama. Barang-barang yang dihasilkan oleh karya tangan manusia harus digunakan demi kesejahteraan manusia. maka kerja manusia harus menjadi sebuah panggilan iman demi kesejahteraan bersama. Sebagai tujuan dan politik ekonomi. Sri Paus menegaskan bahwa, tata kelola ekonomi dan keuangan dari lembaga-lembaga dunia harus memajukan kehidupan dan mendorong kreativitas manusiawi dan bukannya menjadi sebab munculnya kesenjangan antar manusia. Seluruh manusia dengan kemampuan intelektual dan ketrampilan harus mendorong sebuah pertumbuhan ekonomi yang manusiawi. Untuk itu, orang harus bermurah hati dan bekerja sama bersaudara dalam membangun kehidupan ekonomi yang benar agar damai tercipta di dunia. Sri Paus menekan kerja sama negara-negara dalam bidang ekonomi sangat perlu khusus dalam mengejawantahkan aneka kebijakan pembangunan industri dan pertanian demi kemajuan sosial dan pertumbuhan  setiap negara. Setiap negara demokrasi perlu menciptakan struktur-struktur etis bagi mata uang, pasar uang dan komersial yang benar agar tidak mengorbankan orang miskin. Setiap negara dalam upaya memajukan kesejateraan bersama perlu memperhatikan persoalan pangan. Keamanan pangan harus mendapat perhatian pemerintah dan masyarakat internasional. Mengantisipasi krisis pangan, setiap pembawa damai di tuntut kerja keras, dengan semangat solidaritas untuk mendorong dan memberdaya para petani untuk melaksanakan pekerjaannya demi mendatangkan kelimpahan pangan.

Pendidikan jalan kepada perdamaian.

Setiap orang dipanggil untuk melakukan perdamaian. Maka lembaga-lembaga normatif  perlu diberdayakan, keluarga, sekolah, pemerintah, agama, kebudayaan harus mendorong sistem pendidikan yang benar sebagai jalan kepada perdamaian.  Keluarga memiliki peran besar dan utama dalam pendidikan perdamaian. Keluarga adalah basis terkecil dari pendidikan perdamaian, maka peran keluarga perlu ditumbuhkan dan dikembangkan demi upaya-upaya perddamaian. Pendidikan nilai dalam keluarga, seperti kasih, hormat terhadap hak-hak azasi perlu mendapat perhatian serius. Karena dalam keluarga nilai-nilai moral dan iman diajarkan dan menjadi dasar kehidupan bersama demi memajukan perdamaian dunia.

Perdamaian adalah kerja semua orang yang mencintai hidup damai. Tetapi perdamaian butuh juga karunia Tuhan untuk meruntuhkan tembok pemisah yang menghalangi perdamaian itu sendiri. Sri Paus meminta setiap masyarakat dunia umumnya dan orang kristiani khususnya untuk senantiasa memajukan  cinta kasih kepada sesama dan orang lain sebagai dasar tumbuhnya perdamaian. Kasih merupakan Karunia Tuhan, yang di tanam dalam hati setiap mamusia demi melakukan perdamaian sejati. ..Demikian, karya kasih adalah damai dan damai menuntut kepada kesejahteraan bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: